Bab 31 - Unwanted General

1204 Kata
Jendral Kan tahu dirinya selama ini dianggap lelucon oleh para tentara militer istana lain. Dirinya tidak sehebat Jendral Besar dalam kekuatan. Tidak juga secerdas Jendral timur. Tidak juga setegas Jendral utara. Satu-satunya hal yang terkenal darinya adalah mulut besarnya. Pengangkatannya saat itu bukan hal yang hebat. Jendral sebelumnya pensiun karena cedera parah pada matanya setelah mencari jejak pembunuh dua menteri kerajaan. Prajurit dibawah naungan Jendral barat yang kompeten ikut terluka dalam ekspedisi sang Jendral. Hanya tinggal dua orang yang tersisa yang bisa menggantikan Jendral barat saat itu. Dirinya dan seorang wanita dari ras kucing somali. Wanita itu bertubuh besar dengan bulu ekor coklat yang berjuntai. Mereka sama-sama praktisi sihit hitam. "Aku tidak bisa memimpin. Aku akan segera menikah. Kami sepakat untuk tidak berada di militer lagi." ucap si wanita. Jendral Barat mengangguk paham. Kondisi saat itu sedang tidak baik karena dalang pembunuhan masih belum ditemukan. Wanita itu tidak ingin mengorbankan perannya hanya untuk pengabdian militer saja. Jendral akhirnya memilih Kan. Walaupun dicemooh sebagai Jendral lemah, Kan punya banyak teman di mana-mana. Teman dalam arti yang bisa mendapatkan gosip terbaru dengan biaya murah. Dia bisa mencari informasi dalam jaringan pertemanannya. Tapi memiliki kemampuan ini seperti pisau bermata dua. Jika temanmu bisa dipercaya, maka setiap informasinya bisa menjadi petunjuk baik. Tapi kadang kalau terlalu mempercayai orang lain juga bisa membuat kau dibohongi olehnya tanpa kau tahu. Prajurit muda melihatnya sebagai penggosip. Padahal itu salah satu caranya mencari kebenaran di antara kebohongan yang tersebar. Jika kau tidak punya skill, kau tidak bisa melihatnya. Saat gosip mengenai manusia baru yang masih sangat muda datang ke telinganya, dia sangat penasaran. Orang-orang menerima sosok ini dengan mudah. Tapi ada pula yang takut padanya. Banyak cerita-cerita aneh yang muncul bersamaan dengannya. Ada yang bilang saat kedatangannya, bintang jatuh terlihat di bagian utara. Pertanda akan makmur kota itu selama tujuh tahun. Lalu ada yang bilang dia awan badai yang gelap langsung hilang. Ada juga yang mengatakan kalau kedatangannya sebagai tanda kesialan. Bersamaan dengan munculnya monster-monster aneh yang tidak wajar. Monster serangga bau buruk rupa, monster kali yang berlumpur, monster danau yang jelek dan lain-lain. Saat kabar pembunuhan hutan barat tersebar, seperti api yang dikipasi angin, rumor buruk semakin menjadi-jadi. Jendral Kan sebagai seorang pendengar yang jeli tahu yang mana yang masuk akal yang mana yang tidak. Semakin banyak rumor yang beredar tentang manusia ini, semakin dia penasaran. Maka saat mengetahui manusia itu ada di istana, dia bersemangat ingin melihatnya. Dia tidak melihatnya saat manusia itu datang karena sedang tugas di luar. Saat kembali ke istana, jam sudah terlalu larut untuk orang-orang bangun. Pada pagi harinya dia tidak menyangka bisa bertemu dengannya. "Selamat pagi Nona, apa tidur Anda nyenyak semalam?" basa-basinya. Sekarang masih sangat pagi. Belum ada orang yang menjemput manusia ini sekarang. Jadi aman baginya berperan sebagai prajurit baik dengan menyapanya di pagi hari. "Terima kasih tuan. Saya tidur dengan baik." Manusia muda yang dikatakan orang-orang memang sangat muda. Dia memiliki badan kecil, kaki kecil, tangan kecil. Rambutnya pendek sebahu. Mata besar berwarna kecoklatan sangat sesuai dengan wajah bulat dan pipi chubby-nya. Makhluk yang sangat manis. Masa iya makhluk semanis ini penyebab kekacauan negeri. "Apa Nona butuh sesuatu? Sarapan? Saya bisa membawa ke ruang makan." sambil tersenyum manis. "Kalau boleh saya ingin bertemu dengan Tuan Guo. Apa dia ada?" Jendral Kan cukup bingung dengan permintaan ini. Guo adalah prajurit dari selatan. Walau sesama praktisi ilmu hitam, mereka tidak akur. Bagaimana Nona ini mengenalnya? Mungkin kemarin prajurit Guo yang menjemputnya. "Saya rasa prajurit Guo belum ada di tempat sekarang. Apa Anda butuh sesuatu yang berhubungan dengan kemiliteran? Saya juga bagian dari militer. Jadi Anda bisa menanyakannya pada saya." Suatu kebohongan tentu saja. Semua prajurit yang ada dipanggil ke istana untuk apel pagi. Nanti setelah selesai baru mereka ke pos masing-masing. Nona muda ini terlihat ragu. Ah kebodohannya karena tidak memperkenalkan diri. "Maaf atas ketidak sopanan ku. Nama saya Kan, Jendral yang menangani wilayah barat." "Salam tuan Jendral. Saya Reine Liem. Um... dari Catyzokan Gerdinlix." "Suatu kehormatan bertemu seseorang seperti Anda Nona Reine." Dengan pesonanya dia mengecup punggung tangan gadis itu. Wajah Reine langsung memerah. Reaksi yang diharapkan Jendral Kan. "Jadi apa yang Anda butuhkan Nona... Reine." sambil merendahkan suaranya di bagian akhir. Jendral Kan tahu bahwa dia cukup tampan untuk ukuran laki-laki. Orang bilang dia punya senyum memikat. Bukan berarti dia suka menggoda sana-sini. Hanya saja kapan lagi dia bisa berbicara dengan Nona muda ini. Tugasnya akan segera bertumpuk sebentar lagi. Gadis itu masih terlihat malu. "Saya..." "Ehem." suara deheman keras membuat senyum Jendral Kan luntur. Dia melihat ke belakang pelan-pelan. Wajah serius Pengacara Park menyapanya. Setelan blouse maroonnya menambah kegarangan wajahnya. Kali ini rambutnya dicepol rapi ke belakang. "Jendral Kan, saya kira Anda sedang menyiapkan apel pagi." "Selamat pagi juga Pengacara Park. Anda terlihat sangat cantik sekali hari ini. Terlihat sangat modis dan berkelas." pujinya berusaha ngeles. "Tentu saja aku harus terlihat modis dan berkelas. Aku pengacara kerajaan harus bisa menjaga etika." sambil menekankan kata terakhir. "Aku melihat para prajurit sudah ada di lapangan. Mereka bahkan sudah berbaris dengan rapi menunggu apel dimulai." "Ah tentu saja, tentu saja. Aku juga harus segera ke sana." katanya sambil tertawa hambar. "Baiklah Nona Reine, sayang kita tidak bisa berbincang lama. Panggilan tugas sudah menanti. Saya duluan nona." Buru-buru dia kabur sebelum setan merah galak itu melakukan hal jahat padanya. Pengacara Park mungkin tidak punya ilmu sihir. Tapi dia masih bisa berbuat kejam dengan melempar sepatu hak tajam miliknya itu misalnya. ....................................................... Sesuai perkataan Pengacara Park, para prajurit kerajaan yang tersisa sudah berbaris rapi di lapangan. Sangat menyedihkan melihat jumlahnya yang seharusnya bisa mencapai ratusan pada satu kali apel istana. Sekarang hanya tersisa tidak sampai seperempatnya. Dia melihat prajurit Guo sudah berdiri paling depan. Sebagai salah satu prajurit kompeten milik Jendral Selatan, laki-laki ini langsung mengambil alih komando sisa pasukannya saat Jendralnya tidak ada. Orang yang sangat kompeten membuat Jendral Kan merasa gatal melihatnya. Jendral Kan memulai apel. Setelahnya dia mulai membagi tim untuk pergi berjaga sekaligus mencari pencuri. Dia sudah menyusun list untuk rotasi semua orang agar bisa gantian dengan yang lain. Banyak wajah-wajah tidak suka dari prajurit yang ada. "Kenapa kita harus mendengarkan perintahnya. Apa kalian yakin dia tidak sedang mempermainkan kita?" kata seorang prajurit. Bisik-bisik mulai terdengar di sekitarnya. "Benar. Apa dia bisa dipercaya?" "Kalian yakin dia tidak merencanakan semua ini hanya untuk menjadi yang tertinggi." "Aku masih tidak percaya kita harus mengikuti setiap perintahnya. Lihat! Dia bahkan meletakkan kita pada pos yang tidak kita kuasai. Bagaimana kita bisa mencari pelakunya?" "Mencurigakan... sangat mencurigakan. ku rasa dia hanya ingin membuat kita kebingungan saja." "Ah, aku mau jendral ku kembali." "Hanya karena dia praktisi sihir gelap dia tidak terpengaruh Great Sleep. Sangat mencurigakan." "Kenapa juga masih menerima praktisi sihir gelap? Mereka berbahaya!" Jendral Kan meremas kertas ditangannya. Dia tahu prajurit Jendral lainnya tidak menyukainya. Tapi mendengar mereka bicara di depannya tetap saja terasa menyakitkan. Dia berusaha untuk tidak terpengaruh. Kalau dia terpengaruh maka orang-orang ini akan semakin menganggapnya tidak layak. Dia melirik ke arah prajurit Guo yang diam saja. Orang itu juga mendengar olok-olok mengenai praktisi sihir gelap. Tapi tidak ada respon darinya. Sesama praktisi sihir gelap, apa dia tidak merasa sakit hati. Jendral Kan mencoba mengeraskan suaranya agar yang lain berhenti bicara. Tapi semakin dia berteriak, prajurit lainnya semakin keras mengoloknya. "Berisik sekali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN