Leonio yang kesal bukan orang yang menyenangkan. Aura menyesakkan menguar dari tubuhnya membuat orang di sekitarnya ingin berlari mencari tempat persembunyian. Hal ini dirasakan oleh kucing muda pemilik nama Duxie Gi.
Wanita dua puluh tahun itu merasa bulu kuduknya merinding saat hunter itu berjongkok di depannya. Sebagai Nona Muda dari Klan besar, tidak banyak orang yang dapat mengintimidasinya. Dia sudah dilatih untuk menjadi kuat melawan siapa pun orang yang menjadi musuhnya. Bahkan dia tidak merasa takut pada grandmasternya yang terkenal keras. Dia bisa menatapnya dengan senyum miring tanpa peduli konsekuensi yang akan dihadapi.
Tapi aura hunter ini berbeda. Dia punya aura dominan yang hanya dimiliki orang dengan kekuatan besar. Dia tidak tahu kalau hunter di depannya ini adalah Lord Iris Sabre yang terkenal.
"Aku harap kalian punya penjelasan." Leonio merendahkan nada suaranya. "Apa yang kalian lakukan di sini dan kenapa orang-orang di luar seperti itu?"
Duxie merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar suara dalam itu. Dia antara takut dan risih. Risih karena reaksi tubuhnya senang mendapati aura intimidasi orang ini. Seperti menemukan orang baru untuk digoda.
"Kami tidak tahu apapun! Kami hanya datang ke sini karena mendengar gadis manusia ke sini mencari sesuatu. Kami tidak ada hubungannya dengan orang-orang aneh di luar!" gerutu Xion.
Dia bahkan menendang adiknya yang menatap hunter dengan pandangan aneh. Sial sekali punya adik lemah hati begini. Tidak bisa melihat orang dengan wajah bagus langsung meleyot. Rasanya ingin dia coret saja dari kartu keluarga. Kalau saja adiknya bukan penerus Klan yang penting, mungkin dia akan bisa lebih mudah menendangnya dari klan.
"Dari mana kalian mendengarnya?"
Xion mencoba memberikan muka garangnya. "Kenapa aku mesti memberitahumu? Argh!"
Xion menjerit saat kakinya disetrum. Ada sebuah kotak hitam kecil berisi listrik statis tegangan rendah di tangan Leonio. Benda itu secara ajaib muncul di tangannya setelah mengusap sabuk. Walau tegangannya kecil, cukup untuk membuat terkejut dan kesemutan. Di tambah Xion tidak dapat mengakses energi spiritualnya jadi kesemutannya akan lebih lama.
"Kau mau juga?" disetrum maksudnya.
"Kami.. kami dapat dari sebuah surat. Ada yang mengirimkan surat pada kami bahwa penyebab kematian guru-guru kami akan ke sini. Kami hanya datang mengeceknya."
"Duxie!"
"Apa kak? Aku tidak mau di setrum." gerutu Nona Muda Kedua Gi. "Meskipun orang yang melakukannya setampan ini juga, aku tidak suka listrik. Nanti buluku rusak."
Rasa kesal Xion semakin bertambah. Keinginannya untuk mencoret nama Duxie dari kartu keluarga makin besar. Dia harus bicara dengan ayahnya nanti. Biar saja sepupu mereka yang jadi nona muda kedua daripada adik laknat yang rela mengkhianati kakaknya hanya demi bulu tubuhnya! Dasar kucing labil!
"Dan kalian berpikir gadis manusia yang menyebabkan kematian guru kalian?"
"Tentu saja! Sejak dia muncul di dunia ini, semua kesialan terjadi! Bahkan sampai terjadi Great Sleep. Semua sejak dia datang ke sini!" kata Xion penuh kemarahan.
"Tuan muda, sekedar informasi orang yang bersangkutan bahkan tidak punya kekuatan sihir sedikitpun. Pernahkan terpikirkan oleh Anda bagaimana caranya dia bisa menyebabkan kekacauan, menyebabkan kematian orang lain, dan kutukan dalam skala besar sedangkan dia tidak bisa menyihir?" tanya Tuan Hunter dengan wajah datar.
Xion seperti ingin membalas sesuatu. Mulutnya sudah terbuka namun dia menutupnya lagi. Alisnya berkerut hingga keningnya memiliki lipatan-lipatan yang dalam. Tidak menemukan kata yang tepat, dia hanya bisa menatap Leonio dengan kebencian.
"Dan mereka bilang generasi ini pintar-pintar." keluh Leonio diselipi nada sarkastik.
Carmen di belakangnya menahan tawa. Dia harus menggigit pipi dalamnya agar tidak kelepasan. Sudah cukup mereka mencari masalah dengan mengikat dua pewaris Klan Gi. Tidak perlu lagi dia menambah api dengan menertawakan mereka.
"Tunggu dulu, bukankah Klan Gi beraliran sihir putih. Bagaimana kalian tidak terkena pengaruh Great Sleep?" tanya Carmen.
Hal itu juga menjadi pertanyaan Leonio. Dia tidak menyuarakannya karena tidak begitu penting. Tapi dia tetap ingin tahu. Karena Tuan Guardian menanyakannya, lebih baik mereka menjawab bukan?
"Itu rahasia keluarga. Aku tidak akan mengatakannya." tegas Xion.
Leonio menolehkan kepalanya pada Duxie. Alat kejut listrik di tangannya dia angkat. Duxie berkeringat dingin. Dia tersenyum kaku.
"Ah itu..."
"Duxie!"
"Setelah kematian dua guru kami, ketua klan kami meminta seluruh anggota keluarga inti untuk ikut dalam sebuah ritual. Ritual ini bertujuan agar tidak ada yang mencoba mengambil core sihir kami dengan cara menyegel beberapa titik jalur energi spiritual. Aku tidak begitu mengerti segelnya. Tapi hal itu membuat warna energi kami sedikit berubah. Mungkin karena itu kami tidak terkena dampaknya."
"Dasar adik sialan! Pengkhinat! Enyah saja kau!"
Saking marahnya, Xion berusaha menendang adiknya dengan gerakan terbatas. Sayangnya ikatan tali ajaib ini terlalu kuat. Gerakan berlebihan membuat dia kehilangan keseimbangan. Xion jatuh ke belakang tidak bisa bangkit lagi.
Bruk
Duxie menciutkan tubuhnya. Tadi di awal dia mengaku tidak takut apapun. Tidak takut gurunya. Tapi dia takut pada kakaknya. Sedikit kok, hanya sedikit.
Xion masih tidak menyerah. Dia berguling hingga ke tempat adiknya lalu menggigit tangannya. Adiknya mengaduh sakit. Duxie tidak terima. Meski takut dia tahu kakaknya tidak bisa menyihirnya. Jadi dia balas menendangnya. Mereka berdua berakhir berguling-guling di lantai dan saling mengigit karena tidak bisa menggunakan tangan.
Leonio mundur sebelum dirinya tersangkut perkelahian kakak beradik ini. Dia menghela napas merasa lelah dengan sikap kekanakan ini. Padahal mereka bukan anaknya. Sementara Tuan Guardian sampai balik badan saking tidak ingin terlihat dia sedang tertawa. Baginya dua pewaris Klan Gi ini sangat lucu.
"Apa kau mendapatkan sesuatu?"
Carmen segera mengatur ekspresi wajahnya lagi.
"Aku sudah mengecek memori Nyonya Ko. Guruku memang sempat ke sini. Tapi sudah pergi sebelum festival lentera."
"Apa dia tahu ke mana perginya?"
"Dia tidak mengatakannya jelas. Tapi ada petunjuk. Aku... akan mengatakannya di jalan." katanya sambil melirik ke arah dua orang yang masih berkelahi.
Mereka bisa saja berpura-pura berkelahi tapi diam-diam mendengarkan. Rumor tentang Klan Gi yang membenci Reine sudah dibuktikan oleh mereka sendiri. Kalau mereka mengikuti, kemungkinan ke depannya malah jadi merepotkan. Lebih baik cari aman daripada menyesal.
"Oke. Lalu yang terjadi dengan orang-orang di sana?"
"Ada seseorang yang datang sebelum mengubah Nyonya Ko menjadi seperti itu. Aku menyadarinya sebagai Wyman." Carmen merengut. "Dia tidak bicara banyak hanya tahu-tahu menyihirnya tanpa alasan."
"Bisa kau kembalikan wujudnya?"
"Akan kucoba."
Nyonya Ko yang masih dalam wujud kucing asli dia letakkan di lantai. Untungnya wujud ini bukan wujud raksasa seperti kasus di Kota Zenkoi. Carmen menulis beberapa huruf dan simbol dengan tangannya di lantai. Diagram sihir merah terbentuk. Dia membaca mantra sihir.
"Ressversoo curusio."
Kucing tadi bercahaya. Perlahan-lahan tubuhnya kembali membesar hingga berwujud manusia. Nyonya Ko yang ini terlihat lebih tua dari Nyonya Ko imposter sebelumnya.
"Kenapa kau tidak melakukannya dari tadi?"
"Mmm tidak langsung terpikirkan olehku."
Leonio memutar bola matanya. Dia memindahkan tubuh Nyonya Ko agar tidak terbaring di lantai dingin. Kalau yang mereka cari tidak ada, lebih baik mereka tidak berlama-lama di sini.
"Tuan Hunter!"
Suara teriakan Reine membuat semua orang menoleh.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak keluar dari mobil." geram hunter itu.
"Ah.. itu."
Kedua saudara yang berkelahi sudah berhenti. Mereka menatap Reine seperti gadis itu makhluk aneh. Xion sadar kalau gadis itu manusia langsung menggeram.
"Kau gadis pembawa sial itu!"
Reine berjengit diteriaki seperti itu. Dia melihat dua orang yang terikat di lantai. Keduanya menatapnya tidak suka. Dia tidak tahu mereka siapa, tapi bukan saatnya menanyakan hal itu. Ada yang lebih penting.
"Lupakan. Ada banyak zombie di luar! Mereka semua menuju ke mari! Mana bisa aku diam saja."
"Dan di mana Milko?" Leonio bertanya.
"Ku tinggalkan di mobil."
"..."
Leonio harus menarik napas dalam. Sangat dalam hingga suara tarikan napasnya terdengar. Dalam hati dia terus mengucapkan 'tenang, kontrol emosi, jangan berkata kasar, jangan tersulut amarah, gadis ini bodoh jadi jangan terbawa emosi.'
"Oke, kita pergi sekarang." Leonio memimpin keluar.
"Hei! Kalian tidak bisa meninggalkan kami seperti ini!"
"Iya, lepaskan kami! Kalian tidak akan kejam kan. Tuan Guardian, kau pelindung orang-orang. Kau tidak akan kejam meninggalkan kami terikat di sini, tidak berdaya dan tanpa kekuatan bukan?" Duxie memberikan wajah memelasnya.
"Um, kalau Tuan Hunter tidak mengizinkan.."
"Kami bisa membantu kalian melawan orang-orang aneh di luar! Kami bisa bertarung!"
Leonio masih tidak merespon.
"Dan tidak akan menargetkan nona manusia lagi! Kami janji tidak akan mencelakainya!"
Tuan Hunter masih belum tergerak juga. Semakin panik, Duxie menendang kakaknya agar bersuara juga. Suara geraman manusia kucing di luar semakin meresahkan. Xion menggertakan giginya. Dia tahu dia tidak punya pilihan. Tali ajaib ini benar-benar memutus kekuatannya. Tangannya juga sudah kesemutan dari tadi.
"Aku berjanji tidak akan melukai orang-orang yang bersamamu Tuan Hunter."
"Sungguh?"
"Aku bersumpah atas nama ayahku tidak akan melukai mereka."
"Aku tidak butuh sumpahmu, tapi baiklah. Kita deal."
Leonio menjentikkan jarinya sekali. Seluruh tali ajaib yang mengikat keduanya langsung menghilang. Baik Xion dan Duxie melongo dengan mulut terbuka. Bagaimana dia melakukannya segampang itu?!
"Ayo tangani masalah di luar."