Carmen selesai mengikat kedua orang Klan Gi itu dengan tali khusus. Tali yang muncul dari sabuk ajaib Tuan Hunter. Tali berwarna oranye terang yang bisa memotong energi spiritual sehingga orang yang diikatnya tidak bisa melepaskan paksa. Kedua orang itu menatapnya dengan kesal.
"Tuan Guardian, kita sesama mage. Harusnya kau memihak kami. Kenapa kau malah mau disuruh-suruh hunter itu?"
Carmen tersenyum. "Mungkin jika Nona Muda Kedua tidak menyerang saya lebih dulu, saya akan memihak Tuan." jawabnya tenang.
"Bagaimana aku tidak menyerangmu di saat kau terlihat sangat tampan dengan senyum manis seperti itu. Belum lagi aromamu sangat..."
"Duxie! Berhenti menggodanya! Kau membuatku mual" kesal Xion.
Duxie cemberut mendengar kekesalan kakaknya. Dia tidak sedang menggoda Tuan Guardian. Dia hanya sedang memujinya sambil berusaha mengambil hatinya. Siapa tahu nanti mereka dilepaskan.
Sementara dua orang itu sedang sibuk dengan kekesalan mereka, Leonio menyudutkan pemilik rumah. Nyonya Ko, seseorang yang seharusnya menjadi kenalan Master Liu masih tidak berani menatapnya. Matanya menatap ke arah manapun kecuali mata Leonio. Hunter muda itu tentu kesal. Dia berjongkok karena Nyonya itu terus melihat ke arah bawah.
"Anda tidak mau bicara?"
Keterdiaman yang diberikan Nyonya itu padanya. Leonio menggigit lidahnya. Dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar. Dia juga berusaha untuk tidak berdecak kesal. Biar semenyebalkan apapun, wanita ini orang yang lebih tua darinya.
"Nyonya Ko, saya hanya ingin bertanya apakah Nyonya bertemu dengan guru saya tiga bulan terakhir? Saya sama sekali tidak ingin berbuat jahat. Saya hanya murid biasa yang sedang mencari gurunya."
Wanita tua itu tetap diam walau sudah ditanya baik-baik oleh Carmen. Kucing oranye itu tentu merasa bingung. Senyum tidak luntur dari bibirnya. Namun sudutnya sedikit turun beberapa mili. Tentu dia tidak senang dengan sikap diam nyonya ini.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" Leonio yang tidak sabar segera berbalik ke dua orang yang tadi menyerangnya.
"Kami tidak melakukan apa-apa." jawab Duxie. Wajahnya berusaha dibuat netral.
"Oh, aku akan mempercayainya." sarkas Leonio.
"Tuan Hunter, izinkan aku mencoba sesuatu."
Leonio mengangguk padanya. Carmen maju melangkah lebih dekat pada Nyonya Ko. Dia membisikan kata maaf sebelum menaruh satu tangannya di dahi Nyonya Ko. Cahaya merah keluar dari tangannya. Mata Nyonya Ko berubah kosong. Carmen menutup mata untuk berkonsentrasi. Dia sedang mencari petunjuk di dalam ingatan Nyonya Ko.
"Ah, ini bukan Nyonya Ko."
Wajah Leonio langsung berubah masam. Carmen menunjukan dia tidak berbohong dengan membuat segel tulisan yang dia goreskan di dahi wanita itu. Sebuah gambar buah yang dikupas. Gambar tersebut menyala merah hingga melingkupi seluruh tubuh wanita tadi. Tubuhnya berubah bergelembung layaknya orang yang terkena bisul parah. Bisul-bisul itu bergerak cepat dan pecah. Perlahan kulit wajah terkelupas. Dari sisa-sisa kulit yang terkelupas, dapat terlihat wajah asli pemiliknya. Wajah itu jauh lebih muda dari Nyonya Ko. Namun masih terlihat kerutan umur di sudut matanya.
"Kau benar. Dia bukan Nyonya yang kau maksud." Leonio berbalik badan. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?"
Dia mengeluarkan sesuatu dari jubah hitam panjangnya. Sejak keluar dari mansion Earl Centaurea, hunter muda ini belum kembali mengenakan jaket coklat indiana jones-nya. Jubah hitam ini sama seperti jaket coklatnya punya banyak kantong rahasia. Ada benda-benda mengejutkan di dalamnya. Seperti kotak hitam yang dia keluarkan ini. Di dalamnya berisi tiga vial kecil. Terdapat cairan putih kental di dalamnya.
"Ah itu... liquid honesty?" tanya Carmen dengan wajah kaget.
Kedua orang yang diikat wajahnya berubah pucat. Liquid honety merupakan barang langka yang mahal. Benda itu bisa menyihir orang yang meminumnya untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan selama dua puluh empat jam. Tidak ada penawar khusus untuk membaliknya. Makanya orang-orang menghindarinya. Kalian bisa tanpa sadar menjawab pertanyaan yang tidak ditujukan hanya karena pertanyaan itu terucap di bibir. Rahasia yang selama ini tersimpan menjadi ketahuan.
"Tidak! Tidak! Tidak! Jangan mendekatiku!"
"No! Lepaskan aku!"
"Kalau begitu jelaskan apa yang sebenarnya kalian lakukan pada pemilik rumah ini."
"Dia masih hidup! Dia ada di dalam sana! Kau bisa mengeceknya sendiri. Tidak perlu mengancam kami." Xion membuka suara.
Dagunya menunjuk ke arah satu buah lemari kayu yang agak lebah. Lemari seperti itu biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan makanan bagus. Biasanya ibu-ibu memilikinya untuk menyimpan piring-piring porselen cantik hasil memborong diskon atau lapar mata semata.
Carmen membuka satu lemari. Benar perkataannya ada seekor kucing betina dewasa di sana. Masalah kucing itu berbentuk kucing asli, bukan mainan. Carmen sedikit cemerut saat memegangnya. Dia langsung menempelkan telapak tangan penuh energi spiritual pada tubuh Nyonya.
"Tuan Hunter. Kucing ini benar Nyonya Ko." ujarnya pelan.
Mata Leonio menatap tajam ke arah Duxie. Berharap tatapan tajam ini bisa menjelaskan semua permasalahan yang ada. Orang itu agak berkeringat dingin lama-lama di tatap Leonio. Dia masih berusaha tersenyum.
Carmen berusaha mengecek isi ingatan Kucing Nyonya Ko sampai tiba-tiba, suara teriakan terdengar.
"Hng?!"
Kedua orang itu langsung siaga. Mereka melepaskan hasil tangkapan mereka. Leonio mengeluarkan kertas mantra freeze yang akan bertahan membekukan seluruh ruangan selama satu jam. Baik si kucing yang baru di temukan dan kedua orang lain langsung membeku. Setelah itu dia dan Carmen berlari keluar.
Reine masih ada di dalam mobil. Namun masalahnya ada beberapa orang yang mencakar-cakar jendela mobil mereka dengan kuku. Wajah mereka kosong tanpa ekspresi. Sebagian pupil matanya memerah seluruhnya.
Carmen langsung melemparkan mantra memurnikan. Dia bermaksud mengubah kembali para penyerang Reine yang bertingkah layaknya zombie. Sayang orang-orang ini malah meraung padanya. Masing-masing melompat dengan cakar tajam bersiap memotongnya.
Carmen menghindar dengan mudah. Serangan orang aneh ini tidak begitu terkordinasi dengan baik. Jadi hanya menyerang membabi-buta. Hal ini mengingatkan Carmen pada wabah kegilaan yang menyerang kota Zenkoi.
'Kristal lagi?'
Dengan cepat mage kucing oranye membuat sebuah diagram besar. Diagram sihir menghentikan pergerakan mereka dengan tali-tali pengikat berwarna hitam. Leonio menambah topping dengan menghempaskan satu buah kertas mantra penyegelan. Semua makhluk tidak bisa bergerak.
"Tuan Hunter. Murnikan!"
Leonio sadar kalau mereka tidak bisa dimurnikan seperti biasa. Maka dari itu dia menarik pedangnya. Iris Sabre menyala terang. Sinarnya melingkupi semua orang yang terkena penyakit. Mereka berteriak dengan suara parau. Leonio menancapkan pedang ke tanah dan membaca mantra. Semuanya semakin terlingkupi selimut ungu hingga asap-asap hitam keluar dari atas kepala. Kemudian semuanya jatuh ke tanah.
"Kalian tidak apa-apa?"
The Guardian segera mendekati mobil. Wajah Reine sudah tidak setakut sebelumnya. Ada kelegaan di sana. Reine mengangguk sebagai jawaban sambil mengucapkan terima kasih. Carmen masih menahannya agar dia tidak keluar.
"Masalah kami belum selesai di dalam. Mohon tunggu sebentar lagi."
"Tapi Upuy, di sini semakin menakutkan." protes Reine.
"Aku tahu. Kami akan berusaha menyelesaikannya cepat."
Leonio memastikan semuanya sudah tidak bisa bergerak sebelum kembali ke dalam. Wajahnya berkali-lipat lebih suram seperti orang yang tidak mendapat makanan favoritnya. Dia menatap kedua orang Klan Gi dengan masam.
"Aku harap kalian punya penjelasan."