Bab 95 - Gorgon Village

1333 Kata
Desa Gorgon adalah desa kecil yang ada di Prefektur Cazo. Tempat itu dihuni sedikitnya lima puluh orang. Lebih sedikit dibanding Gerdinlix. Desa ini termasuk desa yang penuh dengan hewan reptil. Umumnya ular. Karena itu nama desa diambil dari nama wanita yang berkepala ular dan bersayap. Biar namanya terdengar seram, warga desanya tidak demikian. Mereka sangat ramah dan paham cara menangani ular-ular yang kadang menjadi wabah di beberapa ladang. Saat musim dingin, tidak banyak yang dilakukan karena ular-ular juga akan berhibernasi. Warga desa akan melakukan aktivitas lain untuk mencari nafkah seperti membuat gerabah. "Tempat ini sangat gelap. Kenapa orang-orang terlihat seperti tidak punya lampu?" Benar yang dikatakan Reine. Begitu melewati pintu masuk desa, tidak ada penerangan jalan. Rumah-rumah juga banyak yang gelap. Ada beberapa yang menyala. Tapi seperti menggunakan lilin kecil saja. "Apa mereka juga mematikan lampu seperti yang dilakukan desa lain? Ini belum terlalu malam kan?" "Mungkin." Leonio menjawab. Reine memperhatikan benda yang membelit di tiang-tiang jalan yang seharusnya menjadi lampu penerangan. Saat dia melihat lebih jelas, benda-benda itu ternyata ular besar. Dia langsung menggigil. "Apa itu hidup?" "Tidak. Itu sudah diawetkan sebagai artistik desa." "Kita berhenti di mana? Aku tidak yakin ada penginapan di desa ini." tanya Leonio. "Kita berhenti di ujung jalan ini. Ada sebuah rumah yang bercat putih. Itu rumah kenalan guruku. Kita bisa bertanya padanya." Leonio bergumam sebagai jawaban. Rumah yang ada di ujung jalan memiliki penerangan yang menyala. Bagian luarnya sangat bersih terawat. Bahkan dari tumpukan salju sekalipun. Leonio memarkirkan mobilnya. Reine sudah bersiap membuka pintu saat tangan Carmen menahannya. "Biar kami saja yang turun. Kau dan Milko tunggulah di sini." katanya sambil tersenyum. "Oh, baiklah kalau begitu." Senyum Carmen sebenarnya untuk menutupi kekhawatirannya. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Tuan Hunter tapi posisi mereka jauh. Tuan Hunter duduk di kemudi sedangkan dia di sebelah Milko. Dia merasakan firasat buruk dan ingin bertanya apa Tuan Hunter merasakan hal yang sama. Namun tidak ingin membuat kepanikan, jadi dia memilih menunggu sampai mereka di luar. "Tuan Hunter, apa kau merasakannya juga?" "Hn?" Carmen merendahkan suaranya. "Rasa tidak nyaman." Leonio berhenti melangkah. "Kau punya firasat buruk?" "Un. Sejak kita melewati ular besar tadi. Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak." "Jadi mau mundur?" "Kita sudah ada di sini. Tidak boleh mundur tanpa memeriksa." Leonio mengangguk setuju. Mereka berjalan kembali ke arah rumah. Carmen memberi kode dengan matanya. Dia yang akan mengetuk pintu. Leonio memiringkan kepalanya mempersilakan. Carmen menarik napas dan mengangkat tangan mengetuk pintu. Mereka dapat mendengar suara-suara dari dalam. Pintu terbuka perlahan, hanya memberikan celah sedikit memperlihatkan sebagian wajah pemilik rumah. Penerangan yang sedikit membuat wajahnya yidak begitu jelas. Tapi Carmen tidak merasa kesulitan karena ketajaman penglihatan yang dimilikinya. "Selamat malam Nyonya Ko. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Saya Carmen, murid Master Liu Fengying. Saya ingin bertanya apakah Master saya datang ke sini?" Mata orang itu menelisik wajah dan pakaian Carmen. Laki-laki itu masih tersenyum menunggu respon dari tuan rumah. Pemilik rumah tidak menjawab pertanyaannya dan malah membuka pintu. Mereka disuruh masuk ke dalam. Carmen menoleh ke Leonio. Laki-laki itu mengendikkan bahu tidak tahu. Tidak yakin sebenarnya, Carmen tetap memilih masuk. Orang yang membuka pintu seingatnya memang teman gurunya. Tapi wajahnya tidak sesuram itu. "Permisi." Carmen melangkah dengan perlahan. Rumah itu remang dengan sedikit penerangan. Pemilik rumah menunggunya masuk dengan berdiri di tengah ruangan. Leonio mengikuti di belakangnya. "Nyonya Ko, apa guruku ada di sini?" Carmen mencoba bertanya lagi. Leonio merasakan tengkuknya dingin. Dia menarik belati kecil dari sabuknya dan berbalik cepat. Tangannya berhenti di leher seseorang yang muncul di belakangnya. Orang itu dengan tenang berdiri menutupi pintu masuk. "Hati-hati Tuan. Anda bisa melukai seseorang dengan itu." kata orang itu tenang. Dalam keremangan cahaya masih dapat dilihat wajah kaku dengan rahang lancip dan mata yang tajam. Rambut orang itu sehitam malam. Jubah biru dengan lambang Klan Gi. Leonio menahan ekspresi untuk tetap datar. Dia terkejut karena firasat buruk Tuan Guardian adalah ini. Klan Gi yang sedang mereka hindari. "Salam Tuan Muda Xion. Saya tidak tahu Nyonya Ko sedang ada tamu. Kalau kami tahu, kami akan menunggu di luar." kata Carmen sopan. "Jangan sungkan Tuan Guardian. Kami tidak akan lama." jawab Xion Gi. Matanya masih tidak lepas pada Leonio. Hunter itu belum menurunkan belatinya dari leher. Leonio juga tidak mau menurunkan tangannya. Seluruh tubuhnya meneriakkan untuk berhati-hati. "Tuan Guardian~" suara sing a song dari belakang Carmen. "Tubuhmu penuh dengan aroma manusia." seseorang mengendus leher Carmen. Wanita dengan rambut hitam panjang yang mengendus Carmen tersenyum miring. Tubuhnya lebih tinggi kurus. Dia juga memakai setelan jubah yang sama dengan Xion. "Aromanya tidak seperti aroma nenek-nenek yang ada di Catyzokan hm. Aroma ini tergolong manis." "Nona Muda Kedua Gi. Tidak sopan mengendus seseorang seperti itu." "Kau memanggilnya Xion. Tapi memanggilku Nona Muda Kedua Gi. Kenapa kau jahat sekali? Bukankah kita teman dekat." senyumnya bisa dikatakan sebagai senyuman jahil. Dia bahkan menyentuh dagu Carmen dengan main-main. "Aku Duxie. Panggil Aku dengan namaku." Carmen menahan tangan itu. "Nona Muda adalah Nona Muda Kedua Gi. Apa yang salah dengan itu?" ditambah senyum ramahnya yang tidak pernah lepas. "Anda telah menolak pertemananku sebelumnya jika Anda lupa Nona Muda Kedua. Saya tidak bisa seenaknya memanggil nama Anda kalau begitu." "Kau kejam padaku Tuan Guardian." rengeknya wanita itu. Duxie memelintir tangannya yang masih dipegang Carmen. Dia memberikan pukulan pada pundak Carmen. Pukulan itu terlihat ringan tapi penuh dengan energi spiritual. Jalur energi di tubuh Carmen bisa hancur kalau saja dia tidak mengantisipasinya. Dia membantengi diri dengan memberikan ledakan energi dengan membocorkan energinya lewat bekas jahitan operasi engsel tangannya. Hasilnya Duxie terpukul mundur oleh kekuatannya sendiri. Xion juga bergerak. Dia menyerang Leonio dengan mantra pengikat di kaki. Tuan Hunter melompat sambil melemparkan belatinya ke lantai. Mantra pengikat itu terjebak oleh belati hunter. Dia berbalik untuk memukul tengkuk. Tapi Xion memblokirnya. Mereka saling bertatapan dengan tangan terkunci. "Kau punya refleks yang bagus." puji Xion. "Anda juga punya kemampuan mengendap-endap yang bagus." balik Leonio. Keduanya saling berkelahi dengan tangan kosong. Sesekali Xion melepas mantra sihir. Tuan Hunter akan menghindarinya dengan luwes. Keduanya bertarung sampai memutari ruang sempit itu. Duxie bergerak penuh kecepatan. Wajahnya penuh senyum kegilaan. Seakan dia terobsesi untuk menumbangkan Tuan Guardian. Sayangnya Carmen tidak kalah kompeten dalam pertarungan tangan kosong. Kedua orang saling bertarung hingga berdekatan dengan pasangan lain. Punggung dengan punggung menyatu. Mereka berbalik badan dan berganti pemain. "Hei, Tuan Guardian milikku!" kesal Duxie saat lawannya berganti dengan Tuan Hunter. "Kenapa denganku? Tidak menyenangkan?" "Baumu tidak seharum Tuan Guardian. Huek." ujarnya sambil berpura-pura muntah. Leonio mengangkat alisnya. Gadis ini ternyata tertarik pada aroma. Penciuman tajam seperti ini punya kelebihan dan keburukan. "Berhenti bermain-main dan selesaikan dia." geram Xion. "Tuan Muda Xion. Sebenarnya kenapa kita bertarung? Apa Anda ada masalah denganku?" tanya Carmen dengan wajah sepolos mungkin. "Lupakan bertarung. Ayo ambil wanita itu." dia mendorong Carmen dengan keras dan berlari ke arah pintu. Carmen terdorong hingga menabrak dinding. Leonio beraksi, kakinya dihentak dua kali ke lantai. Sebuah diagram perangkap membuat kaki lawannya lengket. Baik Xion maupun Duxie tidak bisa mengangkat kakinya. "Sial. Kapan kau membuatnya?" Xion dengan kasar membuat segel api. Dia meniupkannya pada kakinya yang lengket. Bukannya lepas, malah bagian lantai jadi turun ke bawah seakan mereka ditelan lumpur. Xion berhenti menggunakan sihirnya. "Apa-apaan ini?!" Leonio tidak menjawab. Dia menembakan jaring penangkap besar ke kedua orang ini. Keduanya meronta dan berusaha memotong jaring dengan sihir. Tapi jaring hunter ini khusus. Sihir apapun tidak akan mempan. "Tuan Hunter selalu hebat." puji Carmen sambil bertepuk tangan. Leonio memutar bola matanya jengah. Kalau tidak karena pergantian lawan tadi, dia tidak akan menyelesaikan satu lingkaran penuh yang diam-diam dia buat di lantai. Setidaknya Tuan Guardian tidak buruk dalam kepekaan. "Ikat mereka baru kita bicara. Kau punya mantranya kan." "Tentu." Leonio berbalik ke arah Nyonya Ko. Wanita tua itu bersembunyi di balik sofa. Langkah kaki dari sepatu boots Leonio membuat tubuhnya gemetar. "Baiklah Nyonya, bisa kau jelaskan ini semua?" katanya dengan nada sangar. Wajahnya yang suram dan cahaya remang menjadi kombinasi menyeramkan. Tingkat ketakutan Nyonya Ko langsung maksimal. "Ampuni saya Tuan. Ampuni saya!" teriakannya takut. "Saya minta penjelasan. Bukan permintaan maaf, Nyonya." tekannya. "Tolong jangan membuat saya berubah pikiran."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN