Sir Arion terbangun saat hidungnya mencium aroma lezat makanan. Dia membuka matanya pelan. Buru-buru duduk untuk melihat jam. Sudah jam enam sore. Niatnya mengistirahatkan mata sebentar. Tidak sampai sesore ini. Tubuhnya ternyata benar-benar lelah sampai memaksanya tidur empat jam.
Dia menoleh ke meja yang ad di ruangan itu. Jojo sudah menata makanan di atas meja. Makanannya bahkan masih mengepulkan uap panas. Pantas saja aromanya sangat enak.
"Bangunlah dan cuci muka. Nanti baru makan."
Sir Arion tanpa disuruh pun akan melakukannya. Perutnya meronta untuk diisi. Dia tidak ingat kapan terakhir kali mendapatkan makanan hangat. Selama dalam perjalanan, dia hanya makan-makanan praktis yang beku. Setelah lebih segar dan merapikan sedikit penampilannya, dia duduk dihadapan adiknya.
"Tidak buruk."
Aromanya memang enak. Namun rasanya tidak sebaik buatan koki di paviliunnya. Kondisinya yang masih hangat menyamarkan kekurangan rasaya. Dia tidak akan komplain selama makanan ini hangat.
"Tentang isi surat dari Dominique, apa kakak pernah mendengar nama dua orang yang disebutkan sebagai pelaku kutukan?"
"Jada dan Wyman? Aku tidak pernah mendengar nama itu." Dia menyendok ikan pindangnya. "Ada banyak orang hebat di dunia ini yang tidak kita tahu namanya. Aku tidak merasa aneh kalau tidak pernah mendengarnya."
"Tapi kalau kakak tidak pernah mendengar namanya, bagaimana kita yang lebih muda mengetahuinya."
"Jangan terlalu dipusingkan. Cepat atau lambat kita akan tahu siapa dia. Orang ini yang membuat kutukan dan memunculkan monster kan. Dia pasti akan keluar nanti." dia mengunyah beberapa saat sebelum menelannya. "Apa Dominique tidak menyebutkan ciri-cirinya?"
Jojo mengerutkan kening mencoba mengingat kembali isi surat. Dia menggeleng kecil sebagai jawaban. Banyak hal yang ditulis dalam surat. Dia tidak ingat adiknya menuliskan ciri-ciri orang tersebut.
"Aku rasa Dominique lupa menuliskannya."
"Detail penting seperti itu malah yang harus dituliskan. Agar aku bisa memperingati yang lain tentang orang ini. Dengan kemampuan tracking yang dimiliki Leonio, aku yakin anak itu sudah mendapatkan ciri-ciri orangnya. Susah sekali punya adik yang pelupa hn." kesalnya.
"Jangan marah kak. Kakak bisa bertanya padanya di surat balasan."
"Aku pasti akan melakukannya."
Selesai makan malam, kedua saudara ini keluar untuk melanjutkan perjalanan. Mereka tidak bisa menetap di satu lokasi terlalu lama. Keadaan di luar sana sedang kacau. Monster aneh dan cuaca ekstrim menjadi kombinasi buruk. Belum lagi orang-orang yang terkena Great Sleep sampai sekarang belum sadar.
"Aku sangat jarang bertemu dengan para prajurit istana. Hanya beberapa orang dan mereka bukan prajurit terbaik yang ada. Apa kemiliteran kerajaan benar-benar kolaps?" daripada nada bertanya, nada terakhirnya penuh kekecewaan.
"Ku dengar tujuh puluh persen prajurit dihuni orang-orang yang memiliki sihir putih. Makanya tersisa segelintir saja." jawab Jojo. "Bisa bertemu beberapa saja sudah bersyukur."
"Mereka harus mengubah sistem penerimaan setelah ini. Kenapa tidak membuka lowongan untuk prajurit darurat saja? Pasti banyak yang akan ikut. Orang-orang yang memiliki sihir gelap juga tidak buruk. Mereka harus menghapuskan stereotip sihir hitam sama dengan jahat."
"Itu ide yang bagus kak. Mungkin jika Penasihat Dion tidak terkena Great Sleep, dia akan menyarankan hal itu. Penasihat Dion adalah salah satu dari segelintir orang yang berpikiran terbuka dan punya kemampuan problem solving yang bagus. Aku menyayangkan dia tidak ada untuk menyelesaikan masalah."
Mereka melompat dari satu dahan ke dahan lain. Jubah musim dingin mereka sangat kontras satu sama lain. Di tambah dahan pohon berwarna gelap dan salju putih membuat mereka mencolok.
"Kau terlalu memujinya tinggi. Biar bagaimana pun orang itu pendukung berat Cyrille saat ini. Aku tidak menyukainya."
Jojo tertawa kecil. "Kakak, jangan terlalu membenci orang. Sekarang aku tahu kenapa adik bungsu kita seperti itu. Kakaknya saja seperti ini."
"Hei, aku tidak pernah mempengaruhinya untuk jadi sepertiku. Jangan menaruh kesalahan padaku."
Mereka berlari cepat di tengah hamparan salju. Rimbunan pohon-pohon telah habis. Jalanan di depan hanya hamparan salju putih yang licin. Biar begitu kaki-kaki mereka terlatih untuk bergerak ringan di permukaan salju sehingga tidak tenggelam. Angin dingin menambah kibaran jubah mereka.
"Kalau dipikir-pikir, orang yang bernama Wyman ini mungkin orang yang sama yang mencariku ke Paviliun Rosa. Orang yang ingin bertarung dengan yang terkuat di sana."
"Ah aku ingat. Sangat disayangkan kau kehilangan pengajar terbaikmu."
"Aku masih sedih bila mengingatnya. Orang itu sangat kejam. Tidak mau mundur walau sudah diusir baik-baik. Menurutmu apa tujuannya melakukan itu?"
"Tidak sesederhana untuk beradu kekuatan. Dia spesifik berniat bertarung dengan kakak. Saat tidak menemukan yang dia cari, dia merubah taktik menginginkan pertarungan dengan orang terkuat. Dia ingin mengetes sesuatu. Mungkinkah benda yang hilang dari kerajaan ini ada hubungannya."
"Kristal terkutuk itu. Apalagi kalau bukan itu." geram Sir Arion. "Benda itu seharusnya dihancurkan sejak lama. Kenapa masih dibiarkan ada!" tangannya mengepal hingga aura merah muncul di sana. "Apa yang dipikirkan kerajaan dengan menyimpannya? Mereka kira itu souvenir, hah!"
"Kakak, jangan berteriak-teriak. Nanti saljunya longsor." peringat Jojo.
Mereka sudah sampai ke sebuah tempat bebatuan. Ada desa kecil seharusnya di sini. Tapi yang tersisa hanya puing-puing rumah di tanah. Sir Arion berhenti.
"Apa kita terlambat?" tanya dirinya dengan napas terengah.
Jojo berjongkok di salah satu puing. Dia mengambilnya dan menyalurkan energi sihir. Sebuah bayangan masuk ke otaknya. Bayangan orang-orang desa dan apa yang terjadi di sana.
"Tidak, kita tidak terlambat. Orang-orang desa pergi mengungsikan seluruh warganya sebelum monster datang."
"Benarkah?" Ada sedikit kelegaan dari nada suaranya saat melihat wajah yakin saudaranya. "Kita cek sebentar. Kita tidak akan tahu apa mereka semua bermigrasi atau tidak."
Sir Arion mencabut pedangnya dan menancapkannya ke tanah. Energi sihir berwarna merah menyebar ke segala arah. Dengan cepat mengecek setiap tanah, batu dan celah untuk menemukan tanda-tanda kehidupan. Dia bergumam saat tidak menemukan apa-apa.
"Kau benar, tidak ada yang tertinggal di sini. Kita bisa pergi sekarang."
Mereka melanjutkan ke desa selanjutnya. Di perjalanan ada sisa-sisa jejak monster. Jejak besar yang berlendir.
"Siput?"
"Sepertinya."
Mereka terus berjalan mengikuti jejak. Udara semakin dingin semakin malam mereka berjalan. Jojo merapatkan jubahnya. Dia sedang tidak ingin kena flu.
"Menurut kakak kenapa Leonio harus mencari Master Liu? Maksudku banyak kan orang yang sepantaran dengan Master Liu untuk ditanyakan. Apa Master Liu kenal siapa Jada dan Wyman?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi kemungkinan dia punya beberapa alasan. Aku sempat mendengar Kota Zenkoi mengalami masalah yang tidak bisa ditangani oleh The Guardian, Mage yang tidak terkena kutukan Great Sleep di sana. Ada laporan kalau Lord Iris Sabre berhasil menyelesaikan masalah dan membuat kota kembali normal. The Guardian ini murid Master Liu. Itu alasan pertama mereka mencarinya." dia menjelaskan perlahan
"Alasan kedua, Master Liu sudah memiliki umur yang tua. Dia sudah melihat berbagai macam orang. Jika guru sihir Leonio masih hidup, mungkin mereka akan sepantaran. Alasan ketiga adalah Master Liu seorang pengelana. Aku percaya dia punya wawasan yang luas dalam perjalanannya berkelana dari satu tempat ke tempat lain." salah satu keuntungan pengelana sekaliber Master Liu adalah wawasannya terhadap orang-orang di tempat kecil yang tidak terkenal. Kalau Jada Wyman ini dari daerah itu, Master Liu pasti tahu.
"Aku tidak mengetahui nama Jada karena aku punya perguruan yang harus ku urus. Ruang lingkup pertemananku juga tidak luas. Jika ada nama-nama orang hebat baru, aku belum tentu mengingatnya."
Jojo mengangguk paham. Alasan yang sangat masuk akal. Jojo berharap Leonio tidak salah langkah dengan mencari Master ini. Orang yang tidak menetap di satu tempat dalam jangka waktu yang lama. Pencarian yang sulit.
"Apa Kakak pernah bertemu dengan Master Liu sebelumnya?"
"Aku pernah bertemu dengannya sekali. Dia orang yang tidak mencolok. Sangat sulit membedakannya dengan orang biasa. Tapi saat berjabatan tangan dengannya, kau akan tahu kalau dia bukan orang sembarangan."
"Mendengar kakak memujinya, dia pasti sangat kuat."
"Jangan pernah meremehkan orang lain dari penampilannya. Beruntung dia tidak memberi pelajaran padaku karena kesombongan murid-muridku. Karena dia juga aku mendidik muridku untuk merendah." bibirnya melengkung. "Tapi susah sekali anak muda sekarang diajarkan. Ah, aku rindu masa-masa lalu yang sederhana."
Kedua orang itu akhirnya menemukan monster yang mereka cari. Sama seperti yang lainnya, monster ini bergerak aneh dengan tambahan ekor hitam yang tidak sesuai dengan tubuhnya. Tidak ada basa-basi, mereka menarik pedang. Pertarungan melelahkan dimulai. Diikuti dengan alunan mantra pemurnian. Butuh dua jam lamanya untuk menaklukan monster. Keduanya kembali kelelahan.
"Kita tidak bisa terus seperti ini. Pertarungan ini berbahaya bagi tubuh." gerutu Sir Arion.
"Ayo kita cari tempat istirahat lagi untuk meditasi."
Mereka pun pergi dari tempat pertarungan setelah memusnahkan ekor jahat itu. Masih banyak pekerjaan. Namun kesehatan yang paling utama. Karena jika mereka sakit, siapa yang bisa berdiri untuk bertarung nantinya.