Bab 93 - Archduke Red and Count Green

1382 Kata
Jauh dari tempat Reine dkk, di Prefektur Alphazo, khususnya di kota Ori terdapat dua orang laki-laki sedang bertarung dengan monster. Jubah merahnya sangat mencolok terlihat. Sebuah pedang bercahaya merah menembus badan monster dengan tukikan tajam. Pemiliknya mengendalikan dari jauh dengan segel tangan. Satu orang lagi dengan pakaian berwarna hijau membaca mantra. Dia memukul tangannya ke tanah untuk memunculkan sulur-sulur besar. Tubuh besar monster terlilit sulur yang dia buat. Monster masih berusaha meronta kasar. Tapi pergerakannya sudah terkunci dengan sulur. "Purify!" Orang yang berjubah merah kembali mengacungkan pedangnya. Cahaya merah berkumpul di ujungnya dan ditembakan ke arah monster. Makhluk itu berteriak kesakitan. Perlahan tapi pasti tubuh besar monster mulai menyusut. Matanya yang awalnya merah kembali ke coklat jernih. Monster itu tertidur di tumpukan sulur hijau yang juga ikut menyusut. "Kau tidak apa-apa Jo?" "Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan Kakak? Apa kakak terluka?" "Aku baik. Tidak terluka sedikitpun." Orang yang berpakaian hijau, Jojo namanya membuat segel tangan. Sulur-sulur itu berubah menjadi kayu keras yang mengurung sisa monster tadi. Kurungan kecil melayang ke arahnya yang mendarat tepat di tangannya. Matanya menyendu begitu melihat makhluk kecil yang tadi mereka lawan. "Dia hanya tupai biasa. Bukan monster sama sekali. Sangat tidak pantas disihir seperti ini. Malang sekali dirimu." Tupai besar yang tadi mereka lawan memang tupai biasa. Karena diinfus energi jahat tubuhnya jadi membesar dan bersikap ganas. Jojo mengelusnya dengan jari. Berhati-hati pada luka yang dibuat kawannya. "Apa masih hidup?" "Kakak tidak mengenai bagian vitalnya. Dia akan hidup." Jojo mengalirkan energi spiritualnya dengan jari. Energi itu perlahan menutup luka yang terbuka. Sampai lukanya benar-benar rapat dan hanya meninggalkan sisa kemerahan, dia baru berhenti. Senyumnya kembali terbit ketika luka itu menutup sepenuhnya. "Kita masih perlu mengecek tempat lainnya. Tidak bisa berlama-lama di sini." "Aku tahu." hati-hati dia masukan pada kantong ajaib khusus penyembuhan. "Aku akan melepaskannya saat kita temukan habitat yang baik." Wajahnya berubah suram. "Lalu bagaimana dengan benda itu? Apa mau dibawa juga?" Dia menunjuk pada ekor hitam yang menjadi sebab kegilaan tupai tadi. Kakaknya sempat kewalahan bertarung dengan tupai ini karena ekor itu bergerak menyerangnya. Ekor aneh panjang yang tidak seperti ekor tupai. "Kita harus musnahkan. Tidak ada untungnya membawanya. Kita juga tidak bisa meninggalkannya sembarangan. Energi jahat pada ekor itu terlalu berbahaya untuk dibiarkan." "Oke." Kedua orang itu menarik pedang mereka. Masing-masing bersiap dengan pose mereka. Keduanya membaca mantra pemusnah. Energi spiritual mereka menguar bersamaan dengan pedang yang bercahaya. Dalam satu gerakan pedang, mereka menembakan energi. Dua warna merah dan hijau saling terjalin bagai pilinan tali jerami. Begitu mencapai target, energi mereka mengikis potongan ekor hitam perlahan sampai musnah tidak bersisa. "Kakak!" Tuan berjubah merah sudah berkeringat sangat banyak dari pelipisnya. Dia sampai menggunakan pedangnya untuk menopangnya berdiri. Pandangannya sedikit berbayang dan napasnya terengah. Dia tidak menyangka untuk memusnahkan satu ekor saja akan memakan energi sebanyak ini. Adiknya langsung memegangi lengannya. Wajahnya begitu khawatir. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya terlalu banyak menggunakan energi. Mungkin ini juga karena aku terlalu banyak berpergian, jadi baru terasa lelahnya sekarang." "Kita istirahat saja sebaiknya. Tidak baik memaksakan diri. Nanti kakak tumbang." "Jangan terlalu khawatir, aku tidak akan..." dia berdiri dengan tegak. "Ada yang datang." Benar ucapannya. Tidak lama ada seorang laki-laki yang datang ke arah mereka. Dia berpakaian hitam polos tanpa atribut aneh-aneh ditubuhnya. "Sir Arion, Count Cananga." salamnya. "Tidak perlu terlalu formal. Kalau kau memanggil kakakku dengan Sir. Arion, sebaiknya kau juga memanggilku dengan Jojo." "Baik Tuan Jojo." Orang yang bernama Jojo merasa bibirnya berkedut. Maksudnya tidak perlu ditambah embel-embel tuan juga. Dia hanya mengelus dadaa sabar. Bukan hal penting untuk diperdebatkan. "Sir, surat untuk Anda dari Earl Centaurea." laki-laki berbaju hitam itu menyerahkan sebuah amplop. Sir Arion menerimanya. Amplop surat itu menggunakan mantra khusus jadi hanya orang yang ditujunya saja yang bisa membukanya. Dia menyalurkan sedikit energi spiritual pada amplop agar dapat dibuka. Tulisan rapi tegak bersambung dengan pena hitam ala bangsawan menyapanya. Dia tentu hapal tulisan ini. Hanya laki-laki ribet sekelas Dominique yang mempelajari kaligrafi tulisan seperti ini. [Dear My Beloved Brother. Sir Arion. Aku harap suratku ini bertemu denganmu. Begitu banyak hal terjadi di Gorgonia yang membuatku mengangkat pena dan tinta untuk menuliskannya padamu. Sebuah longsor salju muncul di daerahku yang mana Kakak tahu sendiri tidak memiliki gunung di kanan kirinya. Dalam longsoran, aku menemukan our dearest little brother dan orang-orang yang bersamanya di perjalanan. Dia sempat terluka. Namun tidak perlu khawatir, tabib di mansionku lebih dari cukup untuk menyembuhkannya hingga dia dapat kembali merengut lucu. Setelahnya ada dua monster yang muncul secara terpisah. Keduanya monster kiriman. Salah satunya berasal dari pegunungan Icezan. Aku begitu takut saat adik kita memaksakan diri bertarung dengan kakinya yang luka. Tapi tentu saja anak keras kepala itu tidak mau mundur barang sedikitpun. Kami berhasil memurnikan monster kedua yang menyerang mansionku. Sayangnya aku terpaksa mengeliminasi monster pertama. Saat ini adik kecil kita sedang dalam perjalanan mencari Master Liu Fengying. Dia berkata dia menemukan petunjuk pelaku penyebab Great Sleep dan kekacauan ini semua. Orang itu bernama Jada dan Wyman. Aku tidak tahu mereka siapa, tapi adik kita sedang mencarinya. Mereka ingin menemui Master Liu karena kemungkinan beliau mengenal orang ini. Kalau kakak mengenal dua nama itu, mungkin bisa coba menggapai adik kita. Salah satu teman perjalanannya merupakan murid Master Liu. Seseorang bernama Carmen yang lebih terkenal dengan nama The Guardian di kota Zenkoi. Teman perjalanannya yang lain yaitu seorang gadis manusia yang aku yakin Kakak tahu siapa. Satu-satunya gadis manusia di Nekoroyaume saat ini. Bersama satu anak kecil, kucing calico jantan bernama Milko. Mereka ke desa kecil Gorgon untuk pencarian ini. Prediksi Kakak benar mengenai hal buruk yang terjadi. Adik kita sedang mencari salah satu kreasi keluarga kucing yang menghilang dari kerajaan. Musuh kita akan sangat berat kalau berhasil menggunakan benda itu dengan kemampuan maksimal. Aku harap kakak bantu memberikan kewaspadaan pada yang lain karena sepertinya Tuan Besar di singgasana tidak ingin mengumumkan insiden kehilangan ini pada publik. Hatiku bergetar mengingat ketidakpastian masa depan. Aku harap Kakak dalam keadaan baik di manapun kakak berada. Balaslah saat kakak punya waktu. Be well, Your Dear Didi, Dominique.] Sir Arion bisa menghirup aroma kasar Cornflower Blue yang tertinggal di kertas surat. Dia tersenyum tipis melihat gaya penulisan adiknya. Agaknya tuan muda itu sangat menikmati perannya sebagai Earl. Sir. Arion menyerahkan surat itu pad Count Cananga untuk dibaca. Dia memperhatikan ekspresinya dengan seksama. Laki-laki bermata sendu itu menjadi sangat serius. "Ini..." "Menguatkan firasatku." ujar Sir Arion. "Sekarang kita tahu kenapa monster-monster ini punya ekor aneh menempel pada mereka." Jojo menyerahkan kembali suratnya. "Kita harus peringatkan yang lain." "Tentu saja." alis Sir Arion berkerut. "Sudah sekacau ini kerajaan tidak mengumumkannya. Sangat keterlaluan." tubuhnya sedikit linglung. "Kakak boleh marah. Tapi sekarang biarkan kakak istirahat dulu oke. Kita pindah dari sini. Mari tuan." ajak Jojo pada si baju hitam. Mereka pergi mencari penginapan untuk beristirahat. Kota Ori bukan kota yang terkenal dengan keindahan pariwisata seperti Zenkoi. Kota ini dikenal sebagai penyuplai barang-barang berat yang berhubungan dengan besi seperti spare part mobil, baling-baling, dan olahan besi lainnya. Mereka berhasil menemukan satu penginapan yang layak. Pelayannya tidak banyak karena hanya penginapan kecil. Jojo memesan dua kamar untuk istirahat. Orang berbaju hitam itu hanya seorang pengantar surat dari paviliun rosa. Dia pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Tinggal Jojo dan Sir Arion yang berada di sana. "Kau tidak perlu membayar kamarku. Aku punya cukup uang untuk membayarnya." protes Sir Arion. "Aku tidak meragukannya. Tidak ada salahnya adik ini membayar. Anggap saja traktir kecil dari saudara." Sir Arion segera duduk dilantai berniat meditasi. Jojo menariknya berdiri agar dia pindah ke tempat tidur. Kakaknya tentu saja protes. "Meditasi penting. Tapi tidur juga penting. Aku sudah mulai melihat garis hitam di bawah mata Kakak. Berbaringlah di sini. Kakak bisa tidur atau bermeditasi silakan saja. Yang jelas istirahatkanlah punggungmu itu. Kakak sudah tidak bisa berdiri tegak sejak tadi." nasihatnya halus. "Jangan perlakukan aku seperti anak kecil." "Aku tidak berani. Aku hanya ingin kakak tidak memaksakan diri." Sir Arion akhirnya mengikuti keinginan adiknya. Begitu kepalanya menyentuh bantal, Ketua Paviliun Rosa itu malah tertidur. Hal ini mengundang senyuman di bibir Jojo. Berpura-pura kuat padahal sebenarnya sudah lelah. Hampir semua kstaria seperti itu. Jojo menggeleng kecil atas pikirannya. Dia membantu melepaskan sepatu boots dan perangkat berat yang akan mengganggu posisi tidurnya. Setelah itu dia memasangkan selimut hangat dan mengecek suhu ruangan. Dia [indah duduk ke kursi kecil yang bertugas sebagai tempat menaruh makanan. "Aku rasa aku juga butuh tidur sebentar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN