Bab 92 - Gorgon Village

1084 Kata
Tiga jam berlalu, Earl Centaurea datang ke ruangan Leonio. Dia melihat adiknya sedang dalam pose meditasi.Dia memperhatikannya dengan seksama. Adiknya seharusnya tidak menekuk kaki seperti itu. Bengkakknya belum sembuh total. "Bukankah kakimu sakit?" "..." Tidak ada jawaban. Dominique menaikan alisnya. Walau adiknya tidak menjawab, dia merasa mendengar komen sarkas seperti 'Aku sedang menyembuhkan diriku sendiri, bodoh'. Dominique melewatinya untuk duduk di samping tempat tidur. Anak kucing yang bersama Leonio kini sedang membaca sesuatu. Dia melirik isinya. "Manual membentuk core sihir? Oh, kau sedang mempelajari teorinya." "Un." jawabnya dengan anggukan. Dominique tersenyum kecil. Sudah lama dia tidak melihat anak-anak yang lucu seperti Milko. Di mansionnya kebanyakan orang dewasa. Sekalinya ada yang masih muda, umurnya sudah lima belas tahun. Sudah tidak ada lucu-lucunya. "Belajarlah yang giat. Nanti kau bisa mengalahkan tuan seram di sana." "Kakak tinggi tidak seram. Kakak tinggi baik." "Kakak tinggi?" Dominique tidak menyadari sebelumnya kalau panggilan itu untuk Leonio. "Oh iya... iya kakak tinggi." dia bergumam. "Kalau Tuan Guardian?" "Kakak senyum." Dominique menaikan alis. "Kalau Nona Liem?" "Reine." Dia bertopang dagu. "Kenapa yang lain dipanggil kakak, tapi Nona Liem dipanggil Reine?" "Karena Reine ya Reine." Leonio berhenti meditasi karena tidak bisa lagi berkonsentrasi. Dia bangkit dengan perlahan. Bengkak di kakinya sudah berkurang makanya dia berani duduk bersila. Dia berjalan ke tempat tidur. "Berhenti mengganggunya. Kau berisik." Dominique tersenyum menggoda. "Sensitif sekali Lord yang satu ini." "Jadi bagaimana? Apa ada yang ingin kau bahas?" "Aku sudah membereskan masalah monster. Ekor-ekor itu yang menyebalkan. Aura jahatnya tetap kuat walau sudah dimurnikan." gerutunya. "Monster yang kutemui adalah kura-kura landak dari pegunungan Icezan. Aku tidak berhasil memurnikannya." "Hn." Leonio mengerti apa artinya. Tidak ada pilihan selain membunuhnya. "Mereka sedang menguji coba kekuatan kristal itu." dia membuat wajah suram. "Apa ada kabar kemunculan monster di tempat lain?" "Aku belum mendapat kabar apapun." jawab Earl Centaurea. Leonio mengangguk mengerti. Kondisi seperti ini mau memberi kabar juga sulit. Orang-orang semakin takut untuk berpergian keluar. "Sebaiknya aku tidak menunda perjalanan. Mobil itu apakah rusak parah?" "Orang-orangku sudah memperbaikinya. Kau bisa menggunakannya selama kakimu sudah sembuh." matanya menatapnya tajam. "Jangan bandel. Kalau kakimu rusak, tidak akan ada penggantinya." Leonio memutar bola matanya. Tidak perlu diajari juga dia tahu. Secanggih-canggihnya Nekoroyaume, tidak ada yang bisa menumbuhkan kaki baru. "Tuan Guardian memangnya tidak bisa menyetir? Apa perlu kuberikan supir?" "Aku tidak tahu dia bisa menyetir atau tidak. Aku akan menanyakannya nanti. Kau tidak perlu repot-repot menyiapkan supir." "Kenapa kau selalu menolak bantuan dariku? Apa kau tidak takut menyakiti hati kakakmu ini?" Mereka berhenti bicara karena pintu terbuka. Reine dan Carmen masuk. Suasana jadi berubah. Diamnya Leonio yang berbeda tertangkap mata Dominique. "Kalian berkelahi?" Dominique menoleh pada Leonio lalu pada Reine. Keduanya tidak menjawab. "Aku hanya meninggalkanmu selama beberapa jam dan kalian berkelahi. Ckck, memangnya apa masalahnya sampai auranya semengerikan ini?" Tidak ada yang mau menjawab. "Adik, apa kau..." "Aku yang salah. Aku bersikap tidak sepantasnya. Aku minta maaf." potong Leonio cepat. "Leonio, kau tahu memotong perkataan orang itu..." "Tidak! Aku yang salah! Aku yang harusnya minta maaf lebih dulu. Aku sudah janji pada Milko untuk minta maaf." "Aku yang berkata kasar padamu. Aku yang seharusnya minta maaf. Kau memikirkan kesehatanku jadi seharusnya aku tidak marah." "Tapi aku tidak memikirkan perasaanmu. Aku bersalah." "Hei, hei, hei cukup!" kesal Dominique. "Aku tidak menyuruh kalian untuk saling berebutan mengakui kesalahan. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan kalian." katanya gemas. Carmen menutupi tawanya dengan batuk. Menurutnya kedua orang ini sangat lucu. Tidak salah kan kalau dia berpikir mereka seperti kekasih yang sedang bertengkar. Sekarang malah berebut ingin minta maaf duluan. Dia buru-buru mengontrol ekspresi wajahnya ketika mereka semua melihatnya. "Uh, jangan bertanya padaku. Aku juga tidak tahu mereka kenapa." Pada akhirnya Reine yang menjelaskan permasalahan mereka. Earl Centaurea mendengarkan dengan seksama. Dia juga ingin memutar bola matanya. Tapi sikap itu sangat tidak bangsawan sekali. "Di satu sisi Leonio tidak salah. Monster yang datang tadi tidak bisa ditangani orang bisa. Pengawalku juga sebagiannya tidak bisa mengakses core sihir mereka karena afinity mereka sihir putih. Di sisi lain Leonio juga salah. Dia seharusnya bisa mengontrol emosinya lebih baik." jelas Dominique. "Aku harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik. Karena kalian akan terus bersama dalam tugas ini kan? Bertengkar dapat membahayakan tim kalian." "Aku mengerti. Maaf." "Masalah sudah selesai. Tidak perlu dibahas lagi." ujar Leonio sambil melambaikan tangan. "Tuan Guardian, apa kau bisa menyetir?" "Bisa." "Kalau begitu kita berangkat malam ini." "Tidak boleh. Istirahatlah satu hari lagi. Besok baru kalian berangkat. Perjalanan malam hari beresiko mengantuk dan tidak fokus. Belum lagi cuaca sedang dingin seperti ini. Apa kau tidak ingat bahwa kalian baru kecelakaan?" "Pertama, kami tidak berkendara di malam hari saat kejadian. Kedua, kecelakaan itu bahkan kecelakaan yang dibuat. Bukan faktor alam." "Makanya kalian harus lebih berhati-hati. Sudah sadar kalau kalian dikejar musuh. Lebih waspada sedikit." "Kami tidak punya waktu." "Earl Centaurea benar. Lebih baik kita berangkat besok pagi. Demi keselamatan bersama." sela Carmen. "Saya yakin kita masih memiliki waktu. Mereka masih mengetes kekuatan. Aku yakin saat ini mereka akan istirahat sejenak. Memanggil dua monster itu bukan perkara mudah. Mereka pasti butuh waktu untuk memulihkan energi." "Tuan Hunter, siapa tahu besok pagi kakimu sudah sembuh. Jadi kau tidak perlu khawatir banyak hal lagi." tambah Reine. Leonio merengutkan bibir. Dia sudah diserang argumen dari berbagai arah. Memaksa berangkat sama saja memaksakan argumennya sendiri. Biasanya tidak akan berakhir baik. Dia menyerah untuk istirahat satu hari lagi. ................................................................................................................................... Keesokan harinya mereka berangkat pagi-pagi sekali. Earl Centaurea tidak mengada-ngada kalau mobil mereka bagus seperti baru. Plus mengkilap seperti baru keluar dari showroom. Dia juga membekali Reine dkk dengan berbagai macam makanan dan peralatan. "Jangan ragu kontak aku kalau ada apa-apa." "Hn." Carmen tidak jadi menyetir. Kaki Leonio sudah tidak bengkak lagi. Reine sebenarnya sangsi kalau kaki itu paling tidak masih bengkak sedikit. Dia tidak berani berkomentar dulu. Nanti Tuan Hunter marah-marah padanya. "Desa Gorgon seharusnya tiga jam lagi sampai." "Berdoalah tidak ada yang aneh-aneh hari ini." "Ah tempat ini sepi sekali kanan kirinya. Memang selalu seperti ini?" tanya Reine. "Desa Gorgonia hanya desa kecil. Mereka tipe formasi desanya berkumpul, bukan menyebar. Sudah begitu vegetasi di sini tidak begitu menguntungkan. Tidak memiliki buah dan tidak berkayu keras." Reine jadi memperhatikan pohon-pohon kecil yang terlihat di jendelanya. "Kenapa ditanam kalau begitu?" "Untuk pembatas jalan." jawab Carmen. "Tidak bisa berbuah bukan berarti tidak berguna. Setidaknya kita jadi tahu lebar jalannya." "Ah kau benar. Jawaban Upuy positif sekali." ujarnya ringan. "Tapi saat sampai di sana, bagaimana cara kita mencarinya." "Sudah saya katakan tidak perlu di khawatirkan. Reine hanya perlu mengikuti saja nanti." "Asal kau tidak aneh-aneh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN