Leonio menarik pedangnya dan melakukan putaran. Sebuah diagram magis terbentuk di kakinya. Tujuh buah rantai besar keluar dari sana dan menyerang monster musang. Monster itu dengan lincah menghindar. Mulutnya terbuka untuk kembali menyerang dengan kekuatan listrik.
Leonio melompat tinggi. Dia mengayunkan pedang di udara. Energi tebasannya dan energi tembakan musang beradu. Benturan kedua energi itu menimbulkan suara ledakan keras. Asap putih menggumpal di udara. Beberapa orang bahkan terdorong karena angin ledakan.
Hunter tadi sedang dalam mood tidak menyenangkan. Dengan mata berkilat dia memberi dua tebasan besar. Monster musang tidak sempat menghindar. Dia hanya bisa melindungi wajahnya dengan ekor hitamnya. Hasil tebasan hunter mengenainya tanpa menimbulkan luka.
Leonio berpijak pada atap tinggi mansion. Bibirnya melengkung ke bawah.
"Apa yang kalian lakukan bodoh?! Cepat pindahkan yang terluka dari sini!"
Dia berteriak pada orang-orang di bawah. Bukannya pergi mereka malah menonton. Bagaimana Tuan ini tidak sewot. Orang-orang buru-buru melakukan tugasnya. Beberapa bahkan menyeret temannya dengan kasar.
Leonio kembali fokus pada monster musang. Dia merengut menyadari musang jenis apa ini. Musang ini jenis musang bulan. Keanehannya adalah dia tidak berasal dari habitat dingin. Ekornya juga seharusnya cuma satu dan tidak ada yang tubuhnya sebesar ini. Dia mengamati lagi ekor hitam yang mengganjal dipikirannya. Benda itu entah kenapa seperti tempelan.
~ Master, ada hawa jahat dari sana.~
Pedang Iris bersuara seperti menjawab pertanyaan Leonio. Hunter itu mengangguk kecil. Dia juga merasakannya. Jarak sejauh ini saja hawanya sudah terasa. Kemungkinan ekor itu masalahnya.
'Sihir kristal Nekomata tidak main-main. Aku bahkan bisa merasakan pahitnya di lidahku.'
Musang itu menggerakkan ekornya. Dia melompat ke arah Leonio untuk menyerangnya. Dinding yang Leonio buat berhasil menahannya membuat monster itu jatuh lagi ke tanah. Taman indah mansion Centaurea jadi rusak karena tubuh besarnya.
Leonio mengusap sabuk hunternya. Sebuah kotak kecil yang terbuat dari besi-besi setebal sumpit muncul di tangannya. Dia mengalirkan energi spiritual ke kotak. Benda itu melayang di udara semakin tinggi hingga nyaris tidak terlihat.
Leonio mengubah pijakan dan melesat ke arah musang. Dia melompat ke kepala musang dan berlari melewati leher, punggung dan nyaris tiba dia bagian ekor. Dalam satu gerakan cepat dia menebas ekor hitam yang berkilat. Monster itu berteriak kesakitan.
Kesakitan karena ekornya ditebas, musang itu meronta dengan kasar. Dia ingin menggapai Leonio yang masih ada di punggungnya. Tapi tidak bisa. Jadi dia berputar dan meronta sekeras mungkin.
Leonio melompat menjauh. Di udara dia membuat segel tangan. Kotak besi yang tadi dia terbangkan ke udara kini jatuh tepat di atas musang. Benda itu berubah jadi sebesar monster dan memerangkapnya. Leonio menyegelnya dengan satu karakter kunci. Kurungan menyala ungu sebentar dan besinya menebal.
Hunter itu turun ke bawah. Dia menahan tubuhnya dengan pedang besarnya. Beberapa gerakan tadi membuat bengkaknya nyeri. Dia harus menggigit pipi dalamnya untuk menahan suara kesakitan.
"Adik!"
Dominique datang melesat ke arahnya. Dia terbang menggunakan pedangnya.Melompat turun dia langsung memeriksa Leonio. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
"Kenapa kau memaksakan diri?! Lihat kau keringat dingin seperti ini. Jangan berpura-pura baik-baik saja. Kembali ke dalam dan jangan paksa kakimu lagi."
"Aku baik-baik saja. Lebih baik kita urus monster ini dulu."
Monster musang tadi masih meronta dalam kurungannya. Dia bahkan mulai mengeluarkan listrik dari tubuhnya. Besi kurungan sampai berwarna merah saking beratnya energi listrik yang dihantarkan.
"Biar aku coba memurnikannya." ujar Dominique.
"Tidak." tangan Leonio menahannya. "Kita lakukan bersama."
Keduanya saling berpandangan. Dominique mengangguk mengerti. Dia dan Leonio bersiap dengan pedang di tangan. Mereka membaca mantra dan pedang mereka menyala. Biru dan ungu bersatu. Kedua energi itu melingkupi monster memurnikannya. Perlahan tubuh monster itu mengecil dari yang sebesar gedung menjadi setinggi lutut orang dewasa.
Dominique bernapas lega. Mereka berhasil memurnikan makhluk itu tanpa perlu membunuhnya. Dominique langsung memegangi lengan Leonio. Laki-laki itu kesulitan berdiri dengan kakinya.
"My Lord! Lord Iris Sabre, Anda berdua tidak apa-apa?"
Tiba-tiba semua pengawal Earl Centaurea sudah mengelilingi mereka. Butlernya yang menyetir mobil dan Tuan Guardian juga sudah berada di sana. Di punggungnya masih ada mummy Gin.
"Segel ekor besar di sana dan amankan hewan itu. Aku akan mengeceknya nanti. Pastikan menggunakan segel level S. Kita tidak mau ada hal buruk lain terjadi."
"Yes My Lord." mereka mengerjakan apa yang diperintahkan tuannya.
Dominique memapah Leonio ke dalam. Tuan Guardian mengikutinya dibelakang. Dia melihat beberapa orang yang ditutupi kain putih di lobby. Mereka pengawalnya yang gugur. Earl Centaurea akan memastikan keluarga pengawal ini diberi kompensasi yang layak.
Perjalanan mereka sampai ke ruang rawat Leonio tidak ada suara. Tuan hunter tentu tidak akan berbicara hal penting sampai mereka tiba di ruang tertutup. Earl Centaurea juga tidak memulai pembicaraan. Carmen tidak yakin untuk buka suara jadi dia bersabar dalam diam.
Carmen menurunkan bawaannya begitu mereka menemukan tabib. Beruntung mansion ini tidak hanya punya satu tabib. Dia menjelaskan apa yang terjadi serta seberapa parah kondisinya. Tabib itu hanya meminta sisa-sisa pedang Tuan Gin. Setelah itu Carmen diusir keluar dari ruangan.
Mereka tiba di depan pintu kamar. Leonio melepaskan diri dari bantuan Dominique. Dia berusaha berdiri dengan kakinya sendiri. Earl Centaurea tidak bertanya apapun saat melihat perubahannya. Dia membuka pintu tanpa mengetuk. Saat membuka pintu ruang Leonio, Dominique nyaris saja menghunus pedang saat sebuah pistol mengacung ke wajahnya.
"Kalian, hah kukira siapa." Reine mengelus jantungnya yang masih berdetak cepat. Dia menurunkan tangannya yang memegang senjata. "Kalian membuatku takut."
"Nona Liem." kata Earl Centaurea sebagai sapaan.
"Kakak tinggi!" Milko melompat dari tempat tidur.
Dia berlari ke arah Leonio yang dipapah. Carmen berhasil menghentikannya sebelum anak itu menabrak Tuan Hunter. Dia menepuk kepala Milko dan berbicara halus padanya.
"Jangan berlari seperti itu. Kakak tinggimu nanti bisa ikut jatuh kalau kau seruduk seperti itu. Kau bukan banteng kan?" tanya dia dengan nada menggoda.
"Milko bukan banteng. Milko kucing."
Carmen tertawa kecil. Dia mengacak rambut anak kucing itu dengan gemas. Milko memanyunkan bibirnya tidak suka.
Leonio sudah kembali ke tempat tidur. Earl Centaurea keluar untuk memanggil tabib yang sudah lowong. Begitu pintu ditutup, Carmen bisa merasakan hawa tidak nyaman di dalam sini. Dia memandang kedua orang dewasa yang saling diam. Satu berwajah datar dengan aura menakutkan. Satu lagi melirik-lirik seperti ingin bicara tapi tidak tahu harus memulainya bagaimana.
"Ng, apa ada sesuatu saat aku pergi?" tanyanya sambil memiringkan kepala.
"Itu..."
"Milko, kalau kau belum sehat, kembali tidur di sebelah kakak sini." Leonio menepuk sampingnya.
Carmen mengerjapkan mata atas sikap mereka. Dua orang ini tiba-tiba berubah menjadi seperti pasangan yang sedang bertengkar. Pasti terjadi sesuatu saat dia dan Earl Centaurea pergi. Belum sempat bertanya lagi, Tuan rumah kembali masuk dengan membawa tabib. Kalau dia merasakan keanehan saat masuk ke dalam, dia tidak berkomentar.
"Istirahatlah dulu. Nanti kita bicara."
"Aku baik."
Earl Centaurea menatap Leonio tajam.
"Tabib Zu, akupuntur untuk tidur lima..."
"Tidak perlu, aku akan istirahat." potong Leonio cepat.
Dominique mengangguk senang. Dia mendorong keluar orang yang tidak berkempentingan. Reine dan Carmen diusir untuk istirahat di tempat lain. Sementara Earl Centaurea membereskan beberapa hal.