Butler Earl Centaurea yang membawa mobil sudah kembali untuk menjemput mereka. Orang itu sebelumnya disuruh pergi untuk mengecek keadaan sekitar area jalur yang dilewati monster kura-kura. Tujuannya untuk melihat apa ada korban lain yang belum dilaporkan.
"Saya menemukan satu warga sipil yang membeku. Saya membawanya untuk diidentifikasi dan diserahkan pada keluarga." dia melihat jumlah orangnya berkurang. "My Lord, apa saudara Gin..." dengan ragu bersuara.
"Oh tenang saja Tuan. Tuan Gin ada di sini." Carmen menunjuk gulungan mummy di punggungnya. "Dia masih hidup. Saya akan lepaskan gulungannya saat sudah menemukan tabib."
Tuan Butler mengangguk kecil. Dia membukakan pintu untuk Tuannya dan Carmen. Mereka kembali ke mansion. Perjalanan begitu hening karena tidak ada yang bicara. Earl Centaurea juga masih terlihat gloomy. Tidak benar-benar terlihat karena dia memasang wajah datar. Tapi cukup memberi aura tidak menyenangkan di dalam mobil.
Sebuah cahaya ungu terang melesat ke arah langit terlihat dari kaca mobil bagian depan. Cahaya itu berasal dari arah mansion. Tidak perlu ditanyakan lagi siapa pemiliknya. Hanya Lord Iris Sabre yang punya warna cahaya itu yang berada di mansionnya sekarang.
"Sesuatu terjadi. Qo cepat tancap gas!" perintah Earl Centaurea.
"Yes My Lord."
................................................................................................................................
Reine sedang duduk tertidur di kursi. Rasa lelah karena begadang semalaman menjaga Milko mulai terasa di tubuhnya. Suasana kamar Leonio yang tenang dan hangat membuat dia nyaman. Kursi empuk untuk menunggu juga sama nyamannya membuat dia semakin lelah. Dia berjanji hanya akan memejamkan mata paling lama tiga puluh menit sebelum mengecek Milko lagi. Masa bodoh dengan Leonio. Hunter itu bisa mengurus dirinya sendiri.
Seharusnya semua baik-baik saja. Reine bahkan sempat bermimpi bermain dengan bayi-bayi kucing yang masih sebesar kepalan tangan. Tiba-tiba suara duar membuyarkan mimpinya hinggi dia melompat di kursi. Reine dengan panik melihat kanan kiri.
"Apa tadi ada suara ledakan?"
Baru bangun membuat saraf tubuhnya agak tidak terkontrol. Ruangan yang Tuan Hunter tempati tidak ada jendela untuk melihat keluar. Reine nyaris jatuh saat melihat Tuan Hunter yang bergerak turun. Kepalanya sedikit sempoyongan karena bergerak terlalu cepat.
"Tuan Hunter!" Buru-buru dia memegangi tubuh besar Tuan Hunter yang kesulitan berdiri. "Kau tidak bisa bergerak. Kakimu..."
"Ambilkan pedang dan sabukku."
"Tuan Hunter... "
"Nona Liem, jangan membuang waktu."
Reine menggigit bibir. "Kau terluka. Kau tidak bisa bertarung."
"Aku masih punya tangan dan mulut untuk kugunakan. Aku tidak bisa diam saja tidak melakukan apa-apa."
"Tapi Tuan Cornblue pasti punya pengawalkan di sini. Mereka pasti akan menanganinya."
Leonio menggeram menunjukan taringnya pada Reine. Dia menarik kerah Reine dengan tangannya. Wajah mereka begitu dekat hingga Reine bisa merasakan napas panas dan kilau hijau mata Leonio yang menyala menyeramkan.
"Manusia dengarkan aku. Aku paling tidak suka orang yang naif. Jangan sekali-kalinya berpikir semua akan baik-baik saja di saat kau terlindung dan aman di dalam rumah seakan kau tidak melihat sendiri pengaruh kristal nekomata itu seperti apa."
Tangan yang meremas kerah Reine gemetar. Reine bisa melihatnya dari jarak pandangnya. Dia juga merasakan hawa dingin dari aura yang menguar dari Leonio.
"Kalau kau tidak ingin membantu maka menyingkirlah."
Leonio melepaskannya. Dia menyeret kakinya ke arah meja. Dia membuka laci mengambil sabuk hunternya. Kemudian memasangkan pedangnya di sana. Jarinya mengusap sabuk. Sebuah jubah hitam keluar. Bukan jaket coklat yang biasanya, tapi jubah hitam yang cukup panjang. Dengan begini tidak terlalu terlihat dia pakai piyama pasien.
Hunter itu berjalan dengan pincang keluar. Reine menundukan kepala tidak berani menghentikannya. Semarah-marahnya Leonio, laki-laki itu tidak membanting pintu. Saat Reine mengangkat kepalanya lagi untuk melihat pintu tertutup, sebuah pistol berwarna hitam tergeletak di depan pintu. Reine berjalan dan mengambilnya. Dia menggigit bibir menahan rasa sakit di hati. Walau orang itu marah padanya, Tuan Hunter masih meninggalkan senjata untuknya melindungi diri.
"Reine..."
Suara anak kecil dari tempat tidur. Reine segera menoleh. Milko terlihat seperti anak kecil yang ingin menangis.
"Reine berkelahi sama kakak tinggi?" tanya Milko dengan suara kecil.
Hati Reine jadi semakin sakit. Apa tadi saat Tuan Hunter marah, Milko melihatnya? Ah, tidak mungkin dia tidak melihatnya. Mereka sangat dekat dengan posisi Milko. Anak itu pasti mendengar keributan yang membuatnya bangun.
"Kami tidak berkelahi. Kami hanya beda pendapat. Iya benar hanya beda pendapat."
Reine mencoba tertawa untuk menutupi kekakuannya. Jantungnya berdebat tidak nyaman melihat ekspresi Milko. Dia menghela napas. Percuma saja berpura-pura. Milko itu anak yang peka. Reine mendekat dan duduk di samping Milko. Dia memeluk anak itu.
"Iya kakak yang salah. Nanti kakak akan minta maaf pada Tuan Hunter ya."
.......................................................................................................................
Leonio benci kondisinya sekarang. Dia tidak bisa berlari untuk sampai di luar lebih cepat. Dia hanya bisa menahan sakit dan berjalan tertatih. Tidak ada alat yang bisa membantunya bergerak lebih cepat. Jika saja ada semacam kursi roda, dia pasti bisa menyihirnya untuk membuatnya jalan sendiri.
Terkutuklah kakinya yang bengkak ini. Kenapa pula bengkaknya tidak cepat sembuh. Mobilitasnya jadi terganggu di kondisi gawat begini.
Telinganya menangkap suara-suara pertarungan. Dia yakin orang-orang di mansion ini sedang berusaha mengatasi masalah yang datang. Dengan Dominique berada di luar, tidak ada kekuatan besar yang menjaga tempat ini.
'Tidak kalau aku bisa melakukan sesuatu.'
Leonio tentu sangat yakin dengan kemampuannya. Dia ditempa di militer dalam waktu yang lama. Pernah mengemban tugas berat dan menangani masalah dalam kondisi terluka. Belum juga hidup di dunia liar sendiri selama menjadi hunter. Luka begini bukan hal baru baginya.
Tiba di luar dia melihat kekacauan. Sekitar lima pengawal mansion sudah tergeletak di tanah entah masih hidup atau tidak. Lima lainnya berusaha menahan monster yang ada. Monster itu berbentuk seperti musang besar dengan dua ekor. Matanya menyala merah. Mulutnya mengeluarkan liur. Dia menabrakan kepalanya pada dinding pelindung transparan. Leonio bisa tahu dinding pelindung itu baru berhasil dibangun melihat orang-orang yang sudah tergeletak.
Bulu tengkuknya merinding merasakan bahaya. Monster itu membuka mulut. Salah satu ekornya yang berwarna hitam pekat mengeluarkan energi listrik. Energi tersebut mengalir hingga sampai ke mulut musang. Saat dia berteriak, listrik itu ditembakkan. Besaran kekuatannya membuat pelindung bergetar.
Alis Leonio berkerut dalam melihat orang-orang yang mulai kewalahan ini. Mereka tidak akan bertahan lama. Dia mempercepat langkahnya ke depan, secepat kakinya bisa. Satu tangan mengeluarkan kertas mantra putih. Mulutnya berbisik lirih. Dia melempar kertas itu ke udara. Kertas melayang hingga sampai ke lapisan pelindung. Dinding langsung menebal dan menahan serangan.
Monster musang seakan tahu kalau usahanya sedang digagalkan. Dia menambahkan energi listrik dalam jumlah besar. Leonio akhirnya berhasil berdiri di orang yang posisinya di tengah formasi, tempat yang sama dengan garis lurus serangan listrik monster. Laki-laki itu menarik pedang. Saber besar muncul di tangan dia tancapkan ke tanah.
"Bersiap Mundur!" Leonio memberi aba-aba. Para pengawal mansion saling melirik rekannya mengangguk. "Sekarang!" teriak Leonio tegas.
Kelima orang tadi mundur serentak. Bersamaan itu dinding pelindung menghilang. Energi listrik langsung menuju ke arah Leonio. Sebelum menyentuhnya, dinding baru berwarna ungu muncul. Bersamanya sebuah diagram magis besar muncul dan menyerap energi sihir si monster. Begitu monster berhenti menembakkan energi, Leonio menghunus pedang. Ujung tajamnya diarahkan pada moncong monster.
"Shoot!"
Listrik yang tadi diserapnya dia kembalikan pada pemiliknya. Monster itu ternyata cukup pintar. Dia menghindar ke samping. Sehingga listrik yang sekarang berwarna ungu itu melesat ke langit. Cahayanya menerangi langit hingga bisa terlihat di kejauhan.