Kalung kristal milik Carmen bersinar. Keluarlah sebuah tongkat sihir panjang dari sana. Dia menekan tongkatnya ke salju. Sebuah diagram sihir berwarna kuning menyala. Carmen meletakkan Tuan Gin di sana. Dua buah kain panjang berwarna putih muncul dari lantai diagram membalut tubuh Tuan Gin. Pengawal itu berubah menjadi Mummy.
Earl Centaurea menaikan alisnya. Dia tidak berkomentar saat membaca rajah yang tertulis di kain putih. Rajah-rajah untuk menstabilkan keadaan korban luka internal yang disebabkan fluktuasi energi sihir. Bukan sepenuhnya untuk menyembuhkan. Tapi dapat mengurangi bahaya kerusakan sistem tubuh.
Monster kura-kura mengeluarkan suara teriakan yang nyaring. Suhu di sekitar mereka menjadi lebih dingin. Karena makhluk ini aslinya berasal dari Pegunungan Icezan, dia bisa memanipulasi suhu di sekitarnya. Salju lembut di bawah mereka mulai keras membeku. Earl Centaurea mengibaskan pedangnya. Manusia kucing yang ada dekat dengannya jadi terlindungi dari frostbite yang datang.
"Kita harus arahkan dia ke arah sebaliknya." kata Earl Centaurea.
"Aku mengerti."
Mummy Tuan Gin diikat dibelakang tubuh Carmen. Poster tubuh Carmen yang tinggi masih bisa mengalahkan tinggi pengawal yang dia bawa. Saat ini Carmen sudah seperti membawa boneka besar dibelakangnya layaknya Kankuro dari Sunagakure. Satu tangannya memegang tongkat sihir besarnya. Dia menunggu kode dari Earl Centaurea. Tuan besar itu mengangguk.
Dominique menyerang lebih dahulu. Dia melompat tinggi, membuat pijakan diagram magis untuk melompat lebih tinggi. Saat di depan wajah monster, dia mengayunkan pedang. Energi biru besar mendorong monster ke belakang. Hanya beberapa kaki, namun cukup jauh untuk terlihat.
Monster tadi merasakan dirinya diserang tidak mau diam saja. Dia menyerang balik dengan. Duri-duri es yang ada di cangkangnya. Earl Centaurea memutar pedangnya sambil membaca mantra. Sebuah tameng sihir besar melindunginya. Monster memiliki jurus lain. Ekornya yang berwarna hitam, sangat berbeda dengan seluruh tubuhnya mengibas. Earl Centaurea bersalto di udara menghindari double serangan itu.
Sementara itu Tuan Guardian sudah tiba di belakang monster. Satu tangannya yang tidak memegang tongkat lurus ke depan dengan telapak terbuka. Gumpalan energi berwarna merah kekuningan terkumpul di tangannya. Energi itu meletus membentuk puluhan tangan-tangan besar berwarna merah. Terbang ke arah monster menangkap kaki, ekor, dan cangkangnya.
Carmen menarik tangannya. Gerakan itu diikuti oleh tangan-tangan merah yang memegang monster. Kura-kura besar tertarik ke belakang. Carmen berkonsentrasi penuh untuk menariknya lebih jauh. Sampai serangan duri-duri es dari punggung kura- kura datang. Carmen mengarahkan tongkatnya dan menghancurkan duri-duri tajam itu menjadi serbuk-serbuk kristal. Dia menghilangkannya dalam satu ayunan tongkat.
Distraksi tadi sedikit menggoyahkan pegangannya. Beruntung tidak terlepas. Namun monster meronta dengan kuat. Energi hitam mulai menguar dari monster dan menyerang tangan-tangan merah yang Carmen keluarkan. Hal ini memunculkan ekspresi sulit di wajah Guardian.
Earl Centaurea kembali menyerang dengan satu hempasan energi besar. Energi itu memurnikan energi jahat yang menguar. Namun belum cukup untuk memurnikan monster secara keseluruhan. Dia mencoba memotong ekornya, bagian yang gerakannya tidak terkontrol. Sayangnya ekor hitam aneh itu seperti punya kekuatan sendiri dengan mengeluarkan ledakan energi. Serangannya dipatahkan dengan mudah.
'Jadi ini hasil kristal nekomata yang legendaris.' batinnya.
Monster itu membuka mulutnya. Bulu-bulu ditengkuk Dominique berdiri. Bukan pertanda baik. Dia segera melompat ke belakang monster untuk menghindari serangan dari mulut monster. Hembusan angin beku berhasil dihindari. Daerah yang terkena angin beku tadi langsung mengkristal layaknya bunga es.
Monster tadi mengubah arah serangannya hingga ke sisi-sisi tubuhnya. Beruntung dia terbatas pergerakannya jadi tidak bisa menghembuskan nafas beku ke Carmen yang berada di belakangnya.
'Hanya bagian leher di daerah cangkang yang bisa dilukai katanya.'
Earl Centaurea melompat kembali ke samping Carmen. Mage itu masih berkonsentrasi untuk memegang badan monster dengan tangan-tangan merah. Begitu Tuan pemilik pedang Cornflower Blue berdiri di sampingnya, dia melepaskan satu mantra kuat.
Tangan-tangan merah tadi berubah membengkak. Warnanya merah menyala dengan panas yang tinggi. Sekilas hampir seperti kumpulan lava yang di manipulasi. Carmen melelehkan bagian tebal yang melindungi kulit utama kura-kura. Earl Centaurea tercekat melihatnya.
'Tangan lahar? Sihir ini hanya mage tingkat Master yang bisa melakukannya. Leonio tidak berbohong tentang skill yang dimiliki orang ini.'
Namun Earl Centaurea mengerutkan bibir. Sihir yang digunakan Tuan Guardian termasuk sihir gelap level destruktif. Monster di hadapannya kini meronta dan menangis kesakitan. Bagian tebal es yang melapisi tubuhnya mencair dengan cepat.
Kulit tubuh Earl Centaurea merasa ngilu. Walau dihadapan mereka monster yang sudah memakan korban, diberikan siksaan seperti ini tetap menyayat hati tuan bangsawan. Earl Centaurea melompat lagi ke depan. Jika dia bisa mengalahkan monster ini cepat, maka dia sudah berbelas kasih.
Pedang di atas kepala. Nyala biru berpendar dari bilahnya. Dominique memotong dengan horizontal. Ekor hitam yang ada dibelakang monster lepas. Tidak berhenti di sana, Dominique langsung membuat pijakan magis di udara. Dia berlari cepat ke arah kepala monster sambil berusaha menghindari duri-duri tajam yang ditembakkan tidak beraturan. Dia nyaris hilang langkah saat monster ini mengamuk. Untung dia berhasil membuat pijakan magis dan terbang menghindar. Saat melihat celah, dia melompat masuk ke dalam cangkang di area leher.
Carmen melepaskan tangan laharnya. Dia melihat Earl Centaurea sudah masuk. Setidaknya untuk mengurangi rontaan makhluk itu karena rasa sakit kulitnya meleleh. Monster itu menghembuskan angin beku pada luka-lukanya. Hanya bagian depan tubuhnya yang bisa dijangkau hembusan anginnya.
Cahaya biru menyala di sekitar leher monster. Tiupan angin beku berhenti saat kepala monster itu jatuh. Tubuh besar bercangkang es itu juga jatuh. Sebagian esnya pecah. Sisa-sisa kulit yang sempat terbakar lahar masih menimbulkan aroma hangus. Kepala kura-kura mengerang terakhir sebelum hening. Earl Centaurea menyelesaikannya dengan cepat. Dia terbang keluar dari sela-sela cangkang yang retak dengan pedangnya dan turun ke bawah.
"Tuan, Anda sangat hebat."Carmen menyambutnya dengan senyuman.
Dominique tidak merasakan kegembiraan yang sama. Dia menatap monster besar yang seharusnya tidak berada di daerahnya. Di matanya makhluk itu tidak ada bedanya dengan yang lainnya. Makhluk ini juga korban. Monster itu mungkin tidak tahu kalau dia dipindah paksa dari habitatnya. Tidak tahu kalau ada energi gelap yang menempel padanya. Tidak tahu kalau dia tidak punya kesempatan kembali ke tempat asalnya.
"Earl..."
Carmen merasakan aura gloomy dari Tuan besar yang bersamanya. Earl Centaurea maju ke kepala kura-kura. Dia melepaskan sarung tangan hitamnya dan meletakkan tangannya di bagian yang bisa dia jangkau. Kepala itu masih diliputi es tebal dingin. Dia mengabaikan frostbite yang menggigit kulitnya.
"Tidurlah dalam damai." lirih Dominique.
Carmen membulatkan mulutnya membentuk kata oh. Dia menundukan kepala. Dia tidak tahu apa yang Earl Centaurea pikirkan sekarang. Namun wajah sendu itu cukup menjelaskan kalau dia bersimpati. Monster ini bukanlah monster legenda yang menghancurkan beberapa kota. Monster ini hanya makhluk malang yang bernasib buruk.
'Seorang noble yang tidak merasakan kejayaan dari pertarungannya. Dia malah merasa simpati pada korbannya. Sekarang aku paham kenapa roh pedang memilihnya. Orang-orang salah menganggap Lord ini sombong. Orang ini hanya tidak membutuhkan pertarungan tidak berguna yang dicari para penganut dewa pedang Delvin.'
Mereka kembali ke mansion setelah Earl Centaurea membuat diagram statis besar. Dia akan memikirkan bagaimana memindahkan sisa-sisa makhluk itu nanti. Setelah tangannya tidak beku lagi.