Bab 88 - Snowy Problem 2

1195 Kata
Carmen tidak membutuhkan banyak persiapan untuk berangkat. Semua perlengkapannya ada dalam jubahnya. Earl Centaurea juga tidak rumit. Dia hanya mengambil jubah musim dinginnya sebelum keluar. Tuan mansion itu membawa serta dua orang pengawalnya yang bersenjata. Carmen bisa merasakan energi sihir mereka sama dengannya berwarna hitam. Dalam kondisi seperti ini Earl Centaurea beruntung karena memiliki pengawal dengan aliran sihir hitam. Posisi monster yang bermasalah tidak jauh dari lokasi mansion Centaurea. Mereka naik mobil khusus yang bisa bergerak di salju. Carmen bisa mengerti kenapa mereka memilih menggunakan mobil untuk sampai di sana. Mereka sedang menyimpan kekuatan. Monster yang diceritakan Tuan Butler belum diketahui monster jenis apa. "Tuan, boleh aku bertanya bagaimana Anda tahu ada monster jika orang yang pertama kali menanganinya menjadi korban?" Carmen merasa perlu bertanya. Karena tidak logis menurutnya dari laporan Tuan Butler kalau orang yang dikirim ke sana meninggal tapi laporannya tetap sampai ke mansion. Dia hanya ingin lebih berhati-hati takut ini sebuah jebakan. "Orang yang dikirim pagi ini menanganinya tidak kembali setelah lima jam. Kami mengirim orang lain mengeceknya untuk mengetahui kenapa dia tidak segera kembali. Mereka menemukan jejak perpindahan monster dan sisa-sisa rantai untuk menahannya. Ada residu sihir di sekitarnya. Kami jadi tahu kalau monster itu sempat dilumpuhkan sebelum bergerak lagi. Tim kedua yang kami kirim menelusuri jejak monster hingga menemukan tim pertama yang sudah membeku." "Ah, jadi seperti itu. Apa tim kedua mencoba menangani monster tersebut?" "Mereka mencobanya. Tapi saat mengetahui apa yang bisa monster itu lakukan, mereka memilih mundur." jawabnya jujur. "Kami hanya melakukan apa yang tertulis dalam SOP yang Tuan kami buat. Kami harus tahu sejauh mana masalah yang bisa kami tangani. Kalau sudah menemukan yang terlalu berbahaya untuk ditangani sendiri, kami harus meminta bantuan orang yang lebih capable untuk itu." jelas Tuan Butler. Carmen mengangguk mengerti. Bagus juga ada SOP seperti itu. Hal ini bisa memperkecil jumlah korban dan resiko kehilangan nyawa. Namun teknik seperti ini hanya bisa digunakan dalam cakupan area yang kecil. Kalau tidak ada senior terdekat atau orang yang lebih dapat menangani, kemungkinan terbaik mereka harus melarikan diri dari masalah. Nanti akan ada masalah baru yang muncul karena tidak menangani masalah sampai selesai. Tapi jika mereka dibesarkan untuk memiliki budi yang luhur, pilihan yang ada adalah bertahan sampai mati. Siluet besar monster sudah terlihat dari jarak pandang mobil. Monster itu bergerak lambat ke arah tenggara. Carmen menoleh pada yang lain. "Jika terus ke arah sana, apa ada sesuatu di depannya?" "Ada desa kecil di sana. Penduduknya mencapai lima puluh orang." jawab Earl Centaurea. "Kita harus selesaikan sebelum monster ini mencapai tempat itu." Carmen, Earl Centaurea dan satu pengawal bernama Gin turun dari mobil. Mereka berlari ke arah monster dengan menggunakan energi spiritual. Semakin dekat mereka bisa melihat monster setinggi rumah dua tingkat dengan seluruh tubuh dilindungi duri yang terbuat dari es. Layaknya landak besar berwarna putih. Hanya saja kepalanya mirip kepala kura-kura. 'Bukan duri landak.' batin Carmen. 'Itu cangkang.' Earl Centaurea menyuruh mereka berhenti. Sudah sedekat ini tidak ada tanda-tanda monster itu menyadari kehadiran mereka. Hal ini membuat kebingungan ketiganya. Dominique mengarahkan telunjuknya. Dia menembakkan energi spiritual berwarna biru. Tembakannya mengenai kaki yang terdekat dari posisinya. Monster itu tidak menghentikan langkahnya atau menoleh ke arah mereka. Malah seperti tidak merasakan sakit sama sekali. "Tuan Guardian, apa Anda tahu makhluk ini?" Carmen mengangguk. "Namanya kura-kura bunga es. Mereka biasanya hidup terisolasi di daerah rendah pegunungan Icezan. Bukan tipe penyerang tapi memiliki cangkang es yang tajam." jawab Carmen tenang. Alisnya berkerut. "Makhluk ini sudah terkontaminasi energi jahat. Aku tidak yakin dia akan sepasif yang terlihat." "Saya juga bisa merasakannya." Dominique merasakan aura tidak menyenangkan menyelubungi kura-kura besar. "Apa Anda tahu cara mengalahkannya?" "Seluruh bagian tubuh yang terlihat terlindung lapisan es yang sangat keras. Jika ingin mengalahkannya harus menyerang kulit lunak di bagian dalam cangkang. Bagian paling mudah dijangkau di sekitar area kepala." Earl Centaurea mengangguk mengerti. Dia dapat melihat bagian yang tidak terlapisi duri. Sekitar area itu tetap terlindung duri es tajam. Sulit dijangkau tapi bukan hal mustahil untuk dicoba. "Saya akan coba memurnikannya monster ini dahulu. Kalau bisa dimurnikan, kita dapat coba mengembalikannya ke habitatnya. Namun jika tidak bisa, kita akan lakukan eksekusi." kata Dominique tegas. Carmen sedikit terkejut. Dia pikir Earl Centaurea ingin langsung memusnahkan monster ini. Nyatanya dia masih berpikiran untuk memberi kesempatan monster ini hidup. Para swordman yang dia temui umumnya hanya memikirkan cara memusnahkannya dan mengambil kejayaan darinya. Tidak ada yang berpikir untuk mengembalikannya ke habitat mereka. 'Mungkin karena dia seorang Noble Lord.' Earl Centaurea menoleh pada pengawalnya. Orang itu seperti tahu kode apa yang ingin disampaikan. Pengawalnya menghilang dari tempatnya berdiri. Kemudian Earl Centaurea menarik pedangnya. Nyala biru dari bilahnya membuat aura di sekitar mereka berubah. Dia melompat tinggi ke udara. Sebuah diagram magis tipis seperti kaca menahannya berdiri di udara. Pedang Cornflower Blue termasuk pedang Marengo yang pegangannya mirip pedang anggar. Bilahnya tipis dan agak melengkung. Dia membawa pegangannya ke depan keningnya. "Rintik air yang mensucikan. Angin selatan membawa musim baru. Berikan kekuatan padaku untuk memurnikan jiwa berdosa ini. Purify!" Cahaya biru semakin terang ketika mantra dibacakan. Aura berwarna sama juga menyelimuti Earl Centaurea. Dalam satu helaan napas cahaya itu dia tujukan pada monster kura-kura es. Tubuhnya yang penuh duri es ikut memancarkan cahaya biru yang sama. Refleksi cahaya yang dihasilkan sangat menyilaukan. Carmen harus menghalau cahaya itu dengan tangannya. Tidak lama sebuah diagram besar berwarna biru terbentuk di bawah monster. Gin, pengawal Earl Centaurea ada di kaki depan monster dengan pedang tertancap di hamparan es sebagai penahan. Dia memerangkap monster agar tidak bergerak. Monster itu berhenti bergerak. Cahaya yang ditembakkan Earl Centaurea juga sudah menghilang. Tuan berpedang biru tidak langsung turun dari tempatnya melayang. Dia menatap waswas. 'Aku sudah tidak merasakan energi jahat. Tapi perasaan tidak tenang ini...' Dominique membolakan matanya saat sebuah duri es dari cangkang monster itu meluncur ke arahnya. Dia mengayunkan pedang sesuai refleks tubuhnya. Pada luncuran duri yang kedua, sebuah angin dingin melewatinya. "Gin!" Kura-kura besar itu mengayunkan ekornya yang panjang. Ekor yang tadinya tidak ada di belakang tubuhnya. Dia mencoba menghancurkan orang yang berdiri di bawah. Gin yang menahan diagram magis tidak cukup cepat menarik pedangnya dari tanah. Bunyi krak keras terdengar. Jantung Dominique sudah ngilu. Pengawalnya lenyap dalam sekali hantam. Dia mengayunkan pedang mencoba memusnahkan ekor yang tadi menimpa pengawalnya seperti penggebuk lalat. Kekuatannya berbenturan keras dengan energi kura-kura. Ekor itu tidak terpotong. Dominique harus menghindar jauh agar tidak terkena hembusan angin dingin. Area yang terkena hembusan dingin itu langsung membeku. "Earl Centaurea!" Suara Carmen dari bawah. Di tangannya ada pengawalnya. Dominique melesat ke sana. "Gin?" "Aku berhasil menahan serangan ekor dadakan tadi. Tapi pedang Tuan ini hancur. Kondisi core sihirnya tidak beraturan." Dominique menggigit pipi dalamnya. Pedang Gin bukan pedang biasa. Pedang itu dibuat dengan mencampur sedikit inti sihir Gin. Kalau pedang itu hancur, energi sihirnya berantakan. Dominique mengambil langkah cepat menutup titik akupuntur energi sihir Gin. Dengan begini dia tubuhnya tidak meledak karena kekacauan energi spiritualnya. "Anda tidak bilang kalau makhluk itu punya ekor." katanya dingin. "Memang seharusnya monster itu tidak punya." Dominique menatap tajam mata Carmen. Tidak ada tanda-tanda Tuan Guardian berbohong. Dia malah terlihat sama terkejutnya. "Monster ini pasti sudah bermutasi karena energi jahat yang menguasainya." Dia berbalik menatap monster. "Tuan kura-kura, seperti Anda tidak memberi kami pilihan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN