“Menikahi Fitri bukan keinginan Mas. Ini keinginan Mama,” ujar Fadil.
“Jika Mas Fadil tidak menolak untuk dijodohkan dengan Fitri. Berarti Mas menyetujui untuk menikah dengan Fitri,” timpal Elma.
“Mas tidak bisa menolak keinginan Mama,” ujar Fadil.
“Lagipula, mengapa Tante Rika dengan seenaknya menuduh Elma mandul? Padahal tidak ada satupun hasil pemeriksaan medis yang membuktikan kalau Elma mandul. Bagaimana kalau Mas Fadil sendiri yang mandul?” Elma menatap tajam ke arah Fadil.
Fadil hanya diam mendengarkan kata-kata Elma. Apa benar ia yang mandul? Selama ini dia belum pernah ditest.
“Bagaimana dengan rumah kita? Apakah kamu akan meninggalkan rumah itu begitu saja?” tanya Fadil.
Fadil tahu Elma tidak akan melepaskan rumah itu begitu saja. Karena Elma turun adil dalam pembelian rumah mereka. Elma membeli dengan uang gaji yang didapat selama bekerja menjadi sekretaris Abrisam.
“Tentu saja tidak. Sebagian dari rumah itu ada hak saya,” jawab Elma.
Fadil tersenyum mendengar jawaban Elma. “Kalau begitu kamu pulang ke rumah kita,” ujar Fadil.
“Saya tidak akan tinggal di rumah itu lagi. Kecuali kalau perempuan itu menginjakkan kaki di rumah itu, saya akan datang dan mengusirnya!” seru Elma.
“Elma! Mas tidak menyangka kamu berkata kasar dan sekejam itu!” ujar Fadil dengan tajam. Elma yang lemah lembut sekarang berubah menjadi wanita yang keras dan kasar.
“Mas Fadil dan Tante Rika yang sudah membuat saya jadi berkata kasar dan kejam,” sahut Elma.
“Sudahlah, Mas. Saya mau istirahat. Saya cape bicara dengan Mas Fadil.” Elma beranjak dari tempat duduk lalu menuju ke ruang keluarga.
“Elma!” Fadil memanggil Elma. Namun, Elma tidak memperdulikan Fadil. Idris keluar dari ruang keluarga, ia menghampiri Fadil.
“Sudahlah, Fadil. Biarkan Elma hidup tenang,” ujar Idris.
“Fadil tidak bisa menceraikan Elma. Dia istri Fadil, Ayah. Fadil sangat mencintai Elma,” kata Fadil. Air mata Fadil menggenang di pelupuk matanya.
“Lalu apa yang kamu inginkan?” tanya Idris.
“Fadil ingin Elma tetap bertahan menjadi istri Fadil. Setelah Fitri melahirkan Fadil akan menceraikan Fitri,” jawab Fadil.
“Ayah tidak terima putri Ayah kamu perlakukan seperti itu!” ujar Idris dengan tegas.
“Kamu pikir hati Elma terbuat dari besi? Dia akan hancur ketika mengetahui suaminya menikah lagi. Dia akan sedih ketika mengetahui suaminya sedang bersama dengan madunya. Sudahlah. Tinggalkan Elma. Biarkan dia hidup bahagia!” lanjut Idris.
Fadil tidak percaya ayah mertuanya mengatakan demikian. Tadinya Fadil berpikir kalau mertuanya akan menyuruhnya bersabar sampai Elma tenang. Namun, ternyata mertuanya mendukung Elma untuk bercerai dengan Fadil. Fadil bertambah sedih mengetahui kenyataan itu.
“Pulanglah! Tidak ada gunanya lagi kamu berada di sini. Kamu dan mamamu sudah mengecewakan kami,” ujar Idris.
“Baik, Ayah.” Fadil mencium tangan Idris.
“Assalamualaikum.” Dengan langkah gontai Fadil keluar dari rumah Elma.
.
.
Hari terus berlalu. Perasaan Elma mulai tenang, ia pun pergi ke Jakarta untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Bos Elma kaget mendengar Elma mengundurkan diri. “Mengapa kamu harus mengundurkan diri?” Abrisam menatap Elma yang duduk di hadapannya.
Abrisam adalah pemilik perusahaan tempat Elma bekerja. Elma bekerja sebagai sekretaris Abrisam. Abrisam orang yang baik tapi terkadang mulutnya sepedas cabe rawit.
“Kalau kamu mau mengurus peceraianmu, kamu cukup minta ijin atau cuti,” lanjut Abrisam.
“Saya tidak ingin mengganggu pekerjaan saya dengan urusan pribadi saya,” jawab Elma.
Elma tahu Abrisam sangat disiplin dalam hal pekerjaan. Jika Elma bekerja dengan teledor Abrisam akan menegurnya dengan kata-kata yang pedas sepedas cabe rawit. Makanya Elma memilih untuk mengundurkan diri daripada kena tegur Abrisam terus menerus.
“Kalau kamu cuti, kamu tidak akan mengganggu pekerjaan kamu. Itu kan hak kamu,” ujar Abrisam.
“Untuk sementara ini saya menenangkan diri dulu, Pak,” kata Elma.
Abrisam menghela napas mendengar Elma yang tetap pada pendiriannya. “Apa yang membuat kamu ingin bercerai dari suami kamu?” tanya Abrisam. Ia menatap wajah Elma yang terlihat sedih.
Abrisam penasaran mengapa Elma ingin bercerai dengan suaminya? Selama ini rumah tangga Elma baik-baik saja. Elma tidak pernah datang ke kantor dengan wajah sedih ataupun murung. Hampir setiap hari Elma selalu terlihat ceria.
“Saya lihat suami kamu orang yang baik. Tapi kamu malah ingin cerai dengan suamimu. Jangan-jangan kamu punya selingkuhan,” ujar Abrisam.
Elma kaget mendengar apa yang dikatakan Abrisam. Ia langsung menggeleng kepala. “Bukan itu alasannya, Pak,” kata Elma.
“Apa dong alasannya?” tanya Abrisam sekali lagi.
“Suami saya akan menikah lagi, Pak. Saya akan dimadu.” Elma menundukkan kepalanya. Ia merasa malu karena Abrisam mengetahui persoalan rumah tangga nya.
“Apa?!” Abrisam kaget mendengar perkataan Elma.
“Apa saya tidak salah dengar?” tanya Abrisam.
“Tidak, Pak,” jawab Elma.
“Apa hebatnya suami kamu sampai ingin menikah lagi? Apa dia sudah kaya raya sampai mau menduakan kamu?” tanya Abrisam dengan ketus. Ia sedikit emosi mendengar suami Elma akan menikah lagi.
“Alasannya karena saya belum bisa memberi anak, Pak,” jawab Elma.
“Halah. Itu cuma alasan saja. Laki-laki memang begitu, jangan dipercaya omongannya!” seru Abrisam.
“Lagipula daripada kamu menjadi istri tua suami kamu, lebih baik kamu menjadi istri kedua saya. Enak, tidak usah capek-capek kerja. Tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah dan shopping. Uang tinggal minta ke saya,” ujar Abrisam.
“Lagipula saya lebih tampan dan gagah dari suamimu,” lanjut Abrisam.
Elma kaget setelah mendengar perkataan Abrisam. Ia menatap Abrisam dengan wajah bengong. Abrisam tertawa melihat wajah Elma.
“Sudah, jangan diambil hati. Saya cuma bercanda.” Abrisam mengibaskan tangannya. Elma langsung bernapas lega. Ia mengira bos nya serius. Bos nya kalau bercanda memang suka keterlaluan.
“Ya, sudah kalau kamu tetap dengan pendirianmu. Nanti kalau kamu sudah tenang, kamu bisa balik lagi ke sini. Siapa tau masih ada lowongan pekerjaan untuk kamu,” ujar Abrisam.
“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Elma.
Elma berdiri dari duduknya. Abrisam mengulurkan tangan ke Elma, Elma menyalami tangan Abrisam.
“Tetap semangat, El! Semoga kamu menjadi sukses,” ucap Abrisam.
“Aamiin, Terima kasih, Pak,” ucap Elma.
“Saya permisi, Pak.” Elma pun meninggalkan ruang kerja Abrisam. Abrisam memandangi punggung Elma yang meninggalkan ruang kerja. Abrisam harus merelakan Elma mengundurkan diri, padahal kerja Elma sangat bagus dan cekatan. Abrisam menghela napas. Ia harus segera mencari pengganti Elma.
.
.
Setelah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, Elma pun mulai mengurus perceraiannya dengan Fadil. Sebelum mencari pekerjaan baru Elma berjualan nasi uduk dan lontong sayur setiap pagi di depan rumah orang tuanya. Ini semua ia lakukan untuk mencari kesibukan dan mencari uang. Elma tidak ingin menjadi beban orang tuanya, ia tetap ingin mandiri.