Elma menghela napas. Ia menunduk dan memainkan jari-jemarinya. Tadi malam Elma sudah memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.
“Elma akan berhenti bekerja dan mengurus perceraian Elma dengan Mas Fadil. Elma juga akan menjual rumah kami. Bagaimana pun juga rumah itu dibeli dengan uang kami berdua. Elma tidak ingin perempuan itu tinggal di rumah Elma. Elma tidak ikhlas kalau sampai Mas Fadil membawa perempuan itu tinggal di rumah kami!” kata Elma.
“Kamu tenang saja. Papa akan melarang Fadil membawa Fitri tinggal di rumah kalian. Papa akan menyuruh mereka mencari rumah sendiri,” ujar Angga. Dari nada bicara Angga sepertinya Angga tidak menyukai calon menantu baru nya. Mungkin karena Angga sangat sayang kepada Elma. Ia tidak ingin menantunya disakiti.
Setelah menempuh perjalanan selama dua setengah jam mereka pun sampai di Bandung. Angga langsung menuju ke rumah orang tua Elma. Alangkah kagetnya orang tua Elma melihat Elma datang. Apalagi Elma datang diantar oleh mertuanya. Mereka melihat wajah Elma yang sembab dan mata Elma bengkak seperti habis menangis. Mereka bertambah kaget ketika melihat Angga dan Elma mengeluarkan koper-koper dan tas-tas dari dalam bagasi mobil. Mereka merasa kalau Elma sedang dalam masalah.
Orang tua Elma mempersilahkan Angga masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu. Elma juga duduk bersama mereka. Intan ibu Elma merangkul punggung putrinya. Sebagai seorang ibu ia tahu kalau putrinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“Sebetulnya ini ada apa, Pak Angga?” tanya Idris ayah Elma.
“Begini Pak Idris.” Angga pun menceritakan semuanya kepada Idris dan Intan.
Intan sedih mendengar apa yang dikatakan Angga. Kebahagiaan rumah tangga Elma hancur berantakan karena mertua Elma yang ingin memiliki cucu. Intan dan Idris juga menginginkan cucu dari Elma. Namun, mereka tidak bisa memaksa Elma dan Fadil agar cepat-cepat memiliki anak. Karena anak adalah rejeki dari Allah. Mereka harus bersabar menunggung sampai Allah memberikan Elma dan Fadil seorang anak.
Setelah mendengar penjelasan Angga, Idris menoleh ke Elma. Elma sedang mendengarkan percakapan mereka sambil menangis.
“Sekarang apa keputusanmu?” tanya Idris.
“Elma akan meggugat cerai Mas Fadil. Elma tidak ingin dimadu,” jawab Elma sambil menangis.
“Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu. Ayah dan ibu akan mendukungmu,” ujar Idris.
Pandangan Idris kembali kepada Angga. “Maaf, Pak Angga. Sepertinya saya dan istri harus mendukung keputusan Elma,” ujar Idris kepada Angga.
“Tidak apa-apa Pak Idris. Jika saya menjadi Pak Idris saya akan mengambil keputusan yang sama,” jawab Angga.
“Kalau mereka masih berjodoh. Suatu saat nanti mereka akan bertemu kembali,” ujar Angga.
“Aamiin,” jawab Idris dan Intan.
Namun, Elma tidak ikut menjawab aamiin. Hatinya sudah sangat sakit. Ia tidak ingin rujuk kembali dengan Fadil. Sekali ia disakiti sampai kapanpun ia tidak akan memaafkan apa yang sudah dilakukan Rika dan Fadil terhadap nya. Setelah itu Angga pun pamit pulang karena ia sudah ditunggu oleh teman-temannya di lapangan golf.
“Terima kasih sudah mengantarkan Elma,” ucap Intan.
“Elma anak saya juga. Saya tidak akan membiarkan ia pergi sendiri dalam seperti ini,” jawab Angga.
Angga beralih kepada Elma. Elma sudah tidak menangis. “Papa pulang, ya. Jika kamu membutuhkan sesuatu, telepon Papa!” ujar Angga.
“Iya, Pa. Terima kasih,” jawab Elma. Elma mencium tangan Angga. Angga menjadi sedih ketika melihat Elma yang sedang mencium tangannya.
“Assalamualaikum.” Angga masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mobil Angga melaju meninggalkan rumah orang tua Elma.
.
.
Selama berada di rumah orang tuanya, Elma mematikan telepon seluler. Ia ingin tenang. Ia tidak mau diganggu oleh siapapun. Malam hari setelah sholat isya Fadil menelepon Idris. Fadil kebingungann ketika pulang ke rumah Elma sudah tidak ada. Ia merasa kalau Elma pergi ke Bandung, pulang ke rumah orang tuanya. Ia tidak bisa menghubungi Elma karena telepon Elma dimatikan. Fadil terpaksa menghubungi Idris.
“Elma sedang istirahat. Ia tidak mau diganggu,” ujar Idris ketika Fadil menelepon.
“Maafkan Fadil, Ayah. Fadil tidak mengantarkan Elma ke Bandung. Fadil tidak tahu kalau Elma pergi ke Bandung,” ucap Fadil dengan menyesal.
“Iya, Ayah mengerti,” jawab Idris.
“Fadil titip Elma. Fadil belum bisa mengunjungi Elma karena Fadil harus bekerja. Sabtu pagi Fadil akan menyusul Elma ke Bandung,” kata Fadil.
“Kamu tenang saja. Elma tidak akan pergi kemana-mana. Ia tetap di sini. Ayah dan Ibu akan selalu menjaganya,” ujar Idris.
“Terima kasih, Ayah. Assalamualaikum.” Fadil mengakhiri pembicaraannya.
.
.
Sabtu pagi Fadil datang ke rumah orang tua Elma untuk menjemput Elma. Namun, Elma menyambut kedatangan Fadil dengan dingin.
“Mau apa Mas datang ke sini? Saya rasa kita sudah tidak ada apa-apa lagi,” kata Elma dengan tatapan dingin. Tatapan penuh cinta sudah pudar dari mata Elma. Sekarang tatapan mata Elma kepada Fadil menjadi tatapan marah.
“Elma, Mas datang ke sini untuk menjemputmu pulang. Senin kamu harus masuk kerja. Pak Abrisam pasti akan mencarimu kalau hari senin kamu tidak masuk kerja,” ujar Fadil.
“Pulang? Mas ingin Elma dimadu? Maaf saja, Mas. Elma tidak rela untuk dimadu. Jika Mas Fadil tetap akan menikah dengan Fitri, Elma akan menuntut Mas Fadil. Karena Mas Fadil menikah tanpa ijin dari Elma. Mas Fadil bisa masuk penjara.” Elma tersenyum sinis.
Fadil diam dan mencoba mencerna perkataan Elma. Sepertinya Elma sudah mencari tahu tentang poligami. Ada undang-undang yang mengatur tentang poligami. Apa yang dikatakan Elma memang benar.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Fadil khawatir Elma akan ditegur oleh Abrisam. Abrisam sangat disiplin dengan pekerjaan. Fadil sudah kenal dengan karakter bos Elma. Karena Elma sudah lama menjadi sekretaris Abrisam.
“Itu urusan Elma bukan urusan Mas Fadil.” Jawab Elma.
Fadil diam dan mencari ide agar Elma mau kembali ke rumah mereka. Bagaimanapun juga ia tidak ingin berpisah dengan Elma.
“Mas Fadil tidak ingin di penjara, kan? Malam pertama Mas Fadil akan dihabiskan di dalam penjara. Dan Tante Rika tidak akan segera mendapatkan cucu selama Mas Fadil di dalam penjara,” kata Elma sambil tersenyum sinis. Elma mengganti panggilan Rika dengan Tante Rika. Elma sudah menganggap Rika bukan mertuanya lagi.
“Tapi Mas tidak ingin menceraikan kamu, Elma. Mas sayang dan cinta sama kamu,” ujar Fadil dengan lembut.
“Hah? Cinta? Ini yang Mas sebut cinta? Dengan menyakiti perasaan Elma, Mas sebut cinta?” tanya Elma dengan sinis. Elma merasa Fadil sudah tidak mencintainya. Jika Fadil mencintainya Fadil tidak akan menyakitinya dan menentang rencana Rika. Elma merasa Fadil tertarik dengan Fitri.