Kalau kamu tidak bisa memberiku kepastian, setidaknya jangan membuatku berharap untuk mendapatkannya. Setelah berbuka puasa Harzi langsung pamit pulang, aku tidak tahu apa alasannya tapi sepertinya dia terlihat sangat begitu terburu-buru. Mungkin saja ada sesuatu yang mendesak baginya. Saat ini pandanganku sedang menatap langit gelap sambil menunggu seseorang yang berada di sampingku membuka obrolan, ya siapa lagi kalau bukan Ibnu. "Gai?" Kemudian aku mengalihkan pandanganku untuk menatapnya sekarang. "Ya?" "Dia orangnya?" Sebentar, sebentar. Aku tidak paham dengan maksud Ibnu. Siapa memangnya yang lagi dia bicarakan? Harzi? "Siapa tadi namanya, Ha-- Harzi ya?" Aku menganggukkan kepalaku. Aku melirik Ibnu, laki-laki itu kini sedang menarik napasnya. "Dia ya orangnya? Yang pergi s

