bc

Hold me tight || Kim taehyung × Kim seokjin ff

book_age16+
21
IKUTI
1K
BACA
manipulative
drama
twisted
serious
mystery
city
lies
Jeon Jungkook x Kim Taehyung
BTS
hostages
like
intro-logo
Uraian

"Aku tidak bermaksud menyakitimu bahkan aku ingin melindungimu"

Ucapan Atharya selalu tersimpan di ingatan Naya, tapi apakah ia akan percaya? pemuda misterius itu tiba-tiba datang di kehidupan nya, mengatakan bahwa ia dalam bahaya. Atau, apakah ia akan lebih mempercayai ucapan Adam, kakaknya. Yang justru menyuruhnya menjauh dari Atharya. Atharya mempunyai bukti dan fakta, Adam selalu melindungi nya. Mana yang harus Naya pilih?

chap-preview
Pratinjau gratis
1.Aneh dan gila
Hembusan angin menyentuh rambut nya yang panjang dengan begitu lembut, membuat semua nya terlihat sangat sempurna. Duduk di bangku taman yang sepi, memejamkan matanya sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Mengapa sepi? Yah ini memang tak wajar baginya, seorang siswi sendirian berada di taman saat jam sekolah berlangsung. Ia hanya tersenyum sendiri mengingat dirinya mampu berhasil berada di sini. Seharusnya tak mudah kegiatan membolosnya kali ini, pak Suprapto guru BP di sekolahnya telah mengetatkan penjagaan sekolah agar tak ada yang berhasil keluar sekolah. Bahkan ia tak segan-segan membagikan foto dirinya kepada seluruh satpam yang bekerja. Agar para satpam hafal dengannya dan diharap mampu mencegah nya membolos. Apakah ia malu? Tentu tidak. Bahkan ia merasa bangga, merasa level nya berada di atas anak-anak sekolah yang lain, bahkan laki-laki sekalipun, tak ada yang mampu memecah kan rekor membolosnya. Kalian mungkin bertanya mengapa sekolah tak memberi tindakan yang tegas padanya, mengeluarkannya dari sekolah misalnya. Tentu sekolah tak akan berani melakukan tindakan tegas itu, karna ia merupakan bagian dari keluarga Adhitama. Keluarga yang sukses dengan usaha property dan merupakan penyumbang dana terbesar di sekolah. Memang terdengar licik menggunakan posisi keluarganya untuk semua tindakan nakal nya. Tapi ia tak peduli, suasana sendirian di tempat yang nyaman dengan melakukan kegiatan yang ia sukai sangat candu baginya. Banyak hal aneh yang mengganggu fikirannya, terutama potongan-potongan ingatan yang samar dan acak, ia sama sekali tak mengerti tentang semua yang hadir di kepalanya. Setiap kali datang selalu membuat nya pusing. Ia berusaha bertanya pada kakak nya tentang semua ingatan samar itu, Tapi Kakak nya selalu bilang itu hanya sakit kepala biasa, yang mungkin efek dari kecelakaan yang ia alami sepuluh tahun yang lalu. Meskipun begitu, Kakaknya tetap membawanya ke dokter. Kakak nya khawatir efek nya akan menjadi parah dan mempengaruhi kesehatannya. Sebuah tepukan menyapa punggung kirinya, ia terganggu dengan hal itu, berniat untuk mengabaikan nya, hingga akhirnya earphone di kedua telinga nya di cabut secara tiba-tiba. Ia pun membuka matanya dan memberi kan tatapan garang milik nya pada orang yang telah berani mengganggunya. “Hai” Berdiri seorang pemuda memakai piama putih di depan nya. Tatapan pemuda itu polos meski kedua matanya tajam seperti Elang. “Siapa kau? Berani sekali menggangguku?” “Apakah kau Naya?” Ia bingung dengan pertanyaan itu, bagaimana ia tahu namanya. Karena meskipun keluarganya terkenal, ia belum pernah sekalipun di perkenal kan ke publik. Tapi rasa penasaran telah mengalahkan nya sepenuh nya. “Darimana kau tahu aku Naya? Siapa kau? Dan untuk apa kau ada di sini?” Ia menjawab seketus yang ia bisa. Detik selanjutnya ia terkejut, tatapan polos pemuda itu perlahan berubah menjadi seringaian yang menakutkan. Pemuda itu mendekatkan wajah nya pada Naya, membuat Naya terkejut dan reflek memundurkan wajah. Rahang pemuda itu tegas, kedua matanya tajam, hidung nya mancung dengan t**i lalat di bawah ujung hidung nya. Dua lain nya ada di bawah mata kiri dan di mulutnya. Tampan, itu kesimpulan yang mampu ia dapatkan dari pengamatan singkat nya. “Finally, I found you. Pretty as always” Ucapnya dengan suaranya yang rendah dan dalam. Ia pun memundurkan wajah nya memberi jarak di antara kedua nya. Naya pun berdiri, ia merasa terancam dengan pemuda itu. “Siapa kau? Jangan macam-macam atau kau akan menyesal” “Jangan takut, aku tidak bermaksud menyakiti mu bahkan aku ingin melindungi mu” “Apa? Kau akan melindungi ku?” Pertanyaan Naya membuat ekspresi pemuda itu tersenyum entah karena alasan apa. “Iya, betul sekaliiiii” Naya bingung, pemuda itu mengatakan jawaban terakhir dengan nada anak kecil, bahkan ekspresinya berubah menjadi seperti anak lima tahun. Ia sekarang melompat-lompat kecil sambil berputar. Menyanyikan sorakan yang ia buat sendiri dengan riang. “Ketemuu” “Ketemuuu” “Ketemuuuu” Naya menjadi tidak sabar, ia merasa di permainkan pemuda aneh ini. “STOP” Pemuda itu berhenti, menatap Naya dengan tatapan polos lagi. “Beritahu aku siapa kau, kenapa kau mengganggu ku?” “Kau tak mengingat ku? Kita dulu sering menghabiskan waktu bersama,” ucapnya dengan tatapan polos. Naya mengerutkan keningnya, “Apa kau teman sekolah ku dulu?” “Apa?” pemuda itu terkejut. “Naya, aku bukan teman mu, kita lebih dekat dari itu” Naya menatap pemuda itu bingung, pemuda itu menjadi geram, ia mendekat ke arah Naya secara tiba-tiba. Membuat Naya terkejut, pemuda itu berusaha menyentuh kepalanya. Naya tak suka, ia berontak berusaha menjauhkan pemuda itu darinya. “Biarkan aku memeriksa kepalamu!”, pemuda itu terlihat kesal dan tak sabar. “Aku tak akan membiarkan orang asing menyentuhku”, ucapnya lantang. Pemuda itu menghela nafas,”Baiklah, aku tak akan memaksa. Sepertinya aku membuat mu takut” “Kenyataannya itulah dirimu”, jawab Naya ketus. Pemuda itu terkejut,”Hei, ak…”. Ia tak meneruskan ucapannya, menghela nafas dan menunduk. “Okey, aku tahu ini akan sulit. Aku sudah menduganya”, ucapnya lembut. Naya hanya terdiam ia sudah penasaran dengan pemuda itu. “Aku Atharya Dharmendra” Naya terkejut, ia meragukan pendengaran nya, benarkah ia mengucapkan Dharmendra? Tapi ia tak dapat mengingat sosok pemuda itu. Siapa dia sebenarnya? Kebingungan itu di pecah oleh segerombolan orang berjumlah lima orang datang tiba-tiba. Mereka memakai seragam rumah sakit, tiga perawat menahan kedua tangan Atharya, dua di tangan kanan dan satu di tangan kiri. “Sial, kenapa harus sekarang. Lepaskan aku!” teriak Atharya, ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri. “Naya tolong aku, aku mohon” Satu perawat datang mendekat, ia menyuntik Atharya dengan cairan tertentu. Lima detik kemudian Atharya melemas dan berakhir pingsan. Para perawat itu pun membawa nya pergi. Semua itu di saksikan Naya dengan penuh kebingungan. Satu perawat lain yang tampak berwibawa mendekat, Naya berpikir dia pasti ketuanya. “Maaf nona, apakah pasien kami mengganggu anda?”, ucap nya dengan lembut dan sopan. “Pasien?” “Benar nona, pemuda tadi adalah pasien kami yang kabur dari rumah sakit. Apakah ia sempat menyakitimu?” Naya tak langsung menjawab, ia terlampau terkejut. Perawat itu pun terpaksa mengejutkannya untuk mendapatkan respon. “Ahh tidak, aku tidak apa-apa”, jawabnya tergagap. “Sekali lagi maafkan keteledoran kami, kami berjanji hal ini tak akan terjadi lagi” Naya hanya bergumam sambil mengangguk sebagai respon. Perawat itu berlalu pergi, baru dua langkah berjalan Naya menahan perawat itu pergi. Perawat itu berbalik dengan ekspresi bingung. Naya melihat nametag perawat itu secara tak sengaja, YAHYA RSJ. HARAPAN INDAH "Ada yang bisa saya bantu nona?” “Emm, bisakah kau memberitahu ku siapa pasien itu?”, tanyanya hati-hati. “Maaf nona, kami tidak bisa memberitahu riwayat pasien kepada orang asing”, perawat itu pun mundur dan berlalu pergi. Naya kecewa, tapi ia lebih bingung dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia memutuskan pergi mencari taksi untuk pulang. *** Taksi yang di tumpangi Naya melaju dengan kecepatan sedang, Naya tahu sang supir sengaja memutar-mutar rute jalan menuju ke arah rumah nya. Seharusnya jarak antara taman bisa di tempuh kurang dari dua puluh menit, tapi ini sudah setengah jam lebih diri nya tak kunjung sampai. Ia tak peduli, mungkin sang supir butuh lebih banyak upah, jadi ia biarkan saja toh dirinya mempunyai banyak uang. Ia lebih tertarik dengan ponsel nya. Di layar ponsel tertera semua hal tentang Rsj. Harapan Indah. Rumah sakit itu besar dan elit, berada cukup jauh dari rumah nya. Ia tau harusnya tak perlu memerdulikan kejadian yang menimpanya hari ini. Isi nya otak nya penuh dengan empat hal, Atharya, Dharmendra, pasien, dan masa kecil. Atharya, Naya tak tahu sebabnya, tapi nama itu memberi pengaruh kuat padanya. Seperti ada hal yang mengganjal pikiran nya. Dharmendra, itu adalah nama keluarga yang mengasuh nya saat ini. Nama belakang Naya adalah Adhitama, ia menjadi yatim piatu sejak umur 8 tahun. Sebuah kecelakaan menewaskan kedua orang tua nya. Dan sejak saat itu ia di asuh keluarga Dharmendra, bahkan keluarga itu sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri, begitupun sebaliknya. Karena itu ia kaget, kenapa pemuda itu juga menyandang nama Dharmendra. Pasien, ia bisa saja mengabaikan semuanya jika pemuda aneh itu benar-benar pasien gangguan jiwa. Ia bisa saja mendengar nama Dharmendra dari berita atau dari seseorang, lalu menggunakan nya untuk mengganggu nya. Tapi semuanya masih membingungkan oleh kenyataan keempat, ia tak bisa benar-benar mengakui ia mengingat semua masa kecilnya. Itu seperti sebuah puzzle, ada bagian yang terpotong, ada yang buram, ada juga yang tiba-tiba datang. Dan nama Atharya seolah benar-benar membekas di ingatan, seperti ada sesuatu penting yang perlu ia ingat. Taksi pun berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang megah, ia pun keluar setelah membayar sang supir. Penjaga rumah yang melihatnya terkejut, ia segera membuka kan pintu. “Selamat siang nona” “He.em ada siapa di rumah?” Mendengar pertanyaan Naya, si Penjaga tersenyum, ia paham Naya takut ketahuan membolos. “Tenang saja nona, di dalam Cuma ada tuan Adam”,ucapnya sambil tersenyum. “Benarkah? yang lain kemana? “Tuan dan Nyonya keluar urusan bisnis, sepertinya menginap, tuan Abi keluar bersama teman-teman nya seperti biasa” “Oo begitu, baiklah terima kasih” , ucap nya tersenyum manis. Naya pun berjalan riang masuk ke dalam rumah, ia berniat pergi menuju ke kamar kakak nya. Kak Adam, begitulah ia sering memanggil, menjadi anggota Dharmendra terfavoritnya. Adam selalu memanjakannya, menuruti semua keinginannya, bahkan ketika ia terkena masalah karena kenakalannya, ia sering membantu dan membelanya. Itulah mengapa ia sangat dekat dengan kakak sulung angkatnya itu, berbeda dengan Abimana, kakak keduanya. Ia sangat ogah bertemu bahkan berurusan dengannya, kakaknya suka ketus bahkan ia pun sering mengadukan kenakalannya pada orang tua angkat nya. Akhirnya ia pun sampai ke pintu coklat kamar Adam, seperti biasa ia tak pernah mengetuk atau mengucap salam. Ia dengan lancang langsung membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci, namun kemudian urung, terdengar kakaknya sedang mendapat telfon penting, ia tak berniat mengganggu, bisa saja itu urusan penting kantor. Jika ia tanpa sengaja merusaknya, mungkin ia akan membawa kakaknya ke lembur panjang yang tak berhenti. Ia tak tega melihat kakak kesayangan nya tersiksa, ia memutuskan menunggu di depan pintu yang sedikit terbuka. “Ayah tenang, aku yakin semua ada solusinya, aku janji akan membantumu, kau bisa mengandalkan ku ayah”, ucap kakaknya lantang. Naya bangga dengan kakaknya, Ia tegas dan bertanggung jawab dalam pekerjaan, pantas kedua orang tuanya sangat bangga dan mengandalkannya. “Apa? Atha bertemu dengan Naya?”, Naya terkejut mendengar ucapan kakaknya, ia memposisikan dirinya menguping tanpa ketahuan. “Apakah ada sesuatu yang terjadi?" “Berikan aku nomor perawat itu!” “Iya ayah, aku akan mengetatkan penjagaan” Naya yakin kakak dan ayahnya membicarakan hal yang terjadi padanya di taman. Tapi kenapa ayah dan kakaknya begitu khawatir, seolah-olah pertemuannya dengan Atharya merupakan kesalahan besar. “Naya?” “Ayah tak perlu khawatir, aku akan mengurusnya” “Ya ayah, serahkan semua yang ada di sini padaku”. Setelah itu Adam mematikan telepon, ia pun kemudian menekan tombol lain, dan kembali menelepon. “Temui aku di tempat biasa, ada yang harus kita bicarakan!”, Adam pun mematikan telepon lagi dan menuju ke kamar mandi pribadinya di salah satu sudut kamar.Naya pun menutup pintu perlahan, ia perlahan kembali ke kamarnya sendiri. Sesampai dikamar ia merebahkan dirinya di ranjang, ia terkejut dengan semua yang terjadi. Ia ingin sekali mengabaikan Atharya, tapi sikap kakak dan ayahnya seolah membenarkan bahwa ia dan dan Atharya memang dekat. Dan mungkin sesuai dengan omongannya, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tapi ia juga kesal, ia tak dapat mengingat apapun. “Biarkan aku memeriksa kepala mu!” Suara itu menyadarkan Naya, ia ingat Atharya begitu bersikeras menyentuh kepalanya. Ia pun segera pergi ke cermin, mencoba memeriksa sesuatu yang dicari Atharya. Tangannya akhirnya menyentuh sebuah bekas luka, terletak di sebelah kiri kepalanya. Ia menyibak sebagian rambut, ia terkejut. Itu bukan hanya sebuah bekas luka, tapi bekas operasi. Ia bingung kapan ia pernah operasi, apakah ini alasannya kenapa ayah nya begitu melarangnya untuk memotong rambut menjadi pendek, ia beralasan ia cantik dengan rambut panjang. Ia pun merasa bodoh selama 18 tahun hidupnya, bagaimana ia bisa tak menyadari bekas itu. Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba, ia berbalik terkejut. Detik selanjutnya masuklah Adam dengan pakaian casual namun rapi. “Ada apa? Kenapa kau terkejut?”, tanya Adam dengan raut wajah khawatir. “Eem tidak, untuk apa kakak kemari?”, ucap Naya sedikit gugup. Adam berfikir sejenak sebelum menjawab, “Memeriksamu ku dengar kau sudah pulang, bukankah kau seharusnya pulang tiga jam lagi?” “Eem yah begitulah”jawab Naya masih gugup. Adam mulai mendekat, ia duduk di atas ranjang, menepuk pelan sebelah sisinya, seolah menyuruh Naya untuk duduk mendekat. Naya menuruti dengan sedikit canggung. “Seriusan, sebenarnya kau kenapa?”,Adam kembali bertanya, ia sedikit curiga dan khawatir tapi tetap berusaha tenang, dan mengontrol nada suaranya. Kemampuan berbohong yang ia miliki mungkin sangat terkutuk, tapi ia bersyukur saat ini, setidaknya ia bisa menyelamatkannya. “A, Aku pikir tadi itu ayah, aku terkejut, ku pikir a, aku ketahuan”, jawabnya dengan menunduk. Adam pun tertawa, “Hahaha kau itu lucu sekali, kenapa adikku bisa semenggemaskan ini?”,ucap Adam sambil mengusap rambutnya. “Ayah dan ibu ada urusan di luar kota, mereka menginap selama tiga hari, mungkin akan lebih lama jika clien nya meminta”,jelas Adam. “Benarkah? Syukurlah kalau begitu”, pekik Naya senang. Adam menghela nafas, “Jadi kau membolos lagi hari ini?” Naya mengangguk, “Aku heran, bagaimana kau bisa membolos? Bukan kah pak Suprapto sudah mengetatkan penjagaan? Bahkan kau hampir mirip buronan loh?”,tanya Adam penasaran. Naya pun terkikik dengan pertanyaan kakaknya, “Ra, ha, si, a. kau bisa saja berkhianat kalau tahu”, goda Naya. “Hei kenapa begitu? Aku selalu di pihak mu loh”, rengek Adam, “Yah walaupun kadang aku sendiri yang menangkapmu, jika kau keterlaluan”, lanjutnya. “Nah itu tahu” “Itu karena kau membuat ku khawatir”, jelas Adam. Naya hanya mencebikkan bibirnya sebagai balasan, yang hanya di balas kekehan oleh kakaknya. “Kau mungkin menganggap ayah terlalu kejam dan tegas, tapi kau tahu, aku bisa lebih dari itu, jika kau macam-macam, bahkan kalau itu sampai membuat mu terluka”, peringat Adam. Naya pun hanya mengangguk, ia sudah paham kakak sulungnya sangat protektif terhadapnya. Sedetik kemudian terlintas sebuah ide, “Kak”, panggil Naya. Adam hanya bergumam menjawab Naya. “Besok ayah dan ibu kan tidak ada, maukah kau mengijinkan ku untuk libur?”, pinta Naya. Adam pun hanya menggelengkan kepalanya, adiknya ini walaupun perempuan sangat nakal. “Kau mau apa besok?” “Aku malas sekolah, tolong biarkan aku bersenang-senang, aku mohon”, pinta Naya sambil menyatukan kedua tangannya. Adam sedikit berfikir, ia pun menghela nafas sebelum mengangguk mengabulkan keinginan adiknya. Naya pun tersenyum senang, Adam memang tak pernah membiarkan nya sedih. Adam melirik jam di tangannya, ia pun berdiri. “Kakak ada urusan, jadi harus pergi. Kau turunlah makan siang, jangan sampai sakit” “Iya kak, setelah ini aku turun”, jawab Naya patuh. Adam pun mengusap puncak kepala Naya sekali lagi, sebelum ia menuju pintu. Setelah pintu tertutup Naya menghela nafasnya lega. Perlahan ia tersenyum, ia akan melakukan sebuah rencana besok.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook