Freya tidak yakin dengan keputusannya untuk meninggalkan mayat ini di ruang otopsi hingga dia memutuskan untuk memperketat penjagaan.
Hari natal sebentar lagi. natal Desember tetapi situasi sangat kacau membuat perayaan Natal mendadak sepi di beberapa jalan. Ini akibat kasus pembunuhan yang beberapa hari ini terjadi, hingga banyak keluarga yang memutuskan merayakannya di rumah bersama keluarga masing masing. Bahkan kepercayaan terhadap orang asing menjadi begitu menakutkan.
"ini" sahut Freya mengambil balon anak kecil yang tersangkut di ranting pohon.
"aaaa mama" teriak anak kecil itu sambil berlari kepelukan mamanya yang berjalan jauh dibelakang
Freya mulai bersikap biasa kembali. mengira hal waspada mungkin saat ini lebih baik agar setiap orang bisa berjaga jaga untuk menjauhi psikopat gila itu. dengan jaket tebal menandakan Desember musim salju yang dingin sekali membuat Freya berjalan ke tempat makan pinggir jalan mencari alkohol yang dapat menghangatkan tubuhnya yang sedang kedinginan. Sembari berpikir, Freya memusatkan penglihatannya kepada prempuan yang tengah duduk di depannya. Tidak asing bagi Freya hingga ia mencoba mendekat kearah meja wanita itu dan menoleh seraya mengingat jelas.
"Pamela?" tebak Freya melihat teman kuliahnya di luar negeri
"hei Freya. Dunia begitu sempit hingga kita berjumpa disini" jawab Pamela dengan senyum manisnya
Pamela yang sama beberapa tahun yang lalu, Pamela yang hampir mati karena ragas. Sejak kejadian pembunuhan suster itu, Pamela dan ayahnya pindah ke Kanada, tetapi kini Pamela kembali dengan begitu penuh kebahagiaan. Seolah dia sudah tidak takut lagi hal buruk dahulu akan menimpanya kembali.
"ngapain kamu disini?" sahut Pamela
"seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu Pamela. aku bekerja disini. kamu?" tanya Freya kembali
"aku mengunjungi makan ibu ku di dekat sini" pamela sambil menghabiskan seteguk alkohol yang ada di depannya
"ayah kamu gak ikut?" tanya Freya lagi melihat Pamela sendiri
"ikut, dia sedang bertemu teman lamanya" jawab pamela
"wah sama seperti kita yang saat ini teman lama selama di Kanada. senang sekali lihat kondisi kamu baik baik saja" kata Freya melihat Pamela yang lebih kelihatan cantik
"kata Jefry kamu detektif penangan khasus pembunuhan ya?" sahut Pamela mencoba menebak
"dasar Jefry ember. ya begitulah Pamela" Freya menjawab dengan santai
"hebat dong. Aku berharap kamu memecahkan kasus ini dengan baik" kata Pamela mendukung pekerjaan freya
Pamela masih menyembunyikan kisah lamanya kepada orang terdekatnya termasuk Freya. Padahal jika Freya mengatakan hal itu, bisa membantu penyelidikan khasus Freya saat ini. Pada dasarnya Pamela tidak ingin mengingat kejadian mengerikan itu lagi dan juga ingin hidup tanpa bayangan si pembunuh itu. Efek positif dari kejadian dahulu, Pamela sembuh dari penyakitnya. Ada kemungkinan trauma keduanya menjadi pemicu kesembuhan trauma pertamanya saat kehilangan ibu kandung.
Setelah berbincang cukup lama, Freya yang masih terlihat sadar mengantarkan Pamela ke apartment nya. Dengan membopong tubuh sintal Pamela susah payah, akhirnya Freya sampai di depan pintu kamar apartemen Pamela. Freya mencoba mengambil card pembuka pintu milik Pamela, kali ini Pamela benar-benar mabuk dan tidak sadar. Bisa jadi karena Freya dan Pamela berbicara mengenai ibunya yang telah tiada hingga ia begitu sedih.
Setelah pintu terbuka, Freya membopong tubuh Pamela hingga jatuh ke kursi. dan mencoba melepaskan sepatu milik Pamela serta mengambil satu buah selimut diatas tempat tidurnya untuk menyelimuti Pamela di kursi tersebut. Dengan ratapan kasihan Freya melihat kearah temannya itu yang pada zaman mereka kuliah sangat tertutup. Freya akhir akhir ini baru mengetahui bahwa Pamela adalah salah satu korban psikopat saat dia masih berumur 10 tahun. Freya mengetahui setelah dia mencoba menyelidiki kembali kasus pembunuhan yang telah lalu.
"sekarang aku tahu kenapa dahulu kamu begitu tertutup, kamu masih menyimpan kenangan itu. Semoga saja aku bisa segera menangkap pelakunya, hingga kamu bisa lebih baik" kata Freya berbicara sendiri sambil melihat kearah Pamela yang tertidur pulas.
Pagi ini kembali lagi di kejutkan pembunuhan seorang mahasiswa dengan kulit yang terlepas dari badannya. lalu terlihat sebuah setrika listrik yang berada tak jauh dari jasad korban. Teridentifikasi jasad mahasiswa itu dikuliti hingga pada akhirnya pembunuh itu mencoba menempelkan kembali ke tubuhnya dengan setrika panas. Yang terlihat bukan menempel, akan tetapi melepuh dan memperlihatkan guratan daging yang masih fresh.
Freya pun melihat jasad tersebut seketika itu pun mual hingga seluruh bulu kuduknya merinding psikopat itu mengkuliti habis tubuh mahasiswa itu dari tubuhnya. bahkan kepalanya pun di gunduli untuk menguliti bagian kepala. Hingga terlihat tengkorak dengan sedikit daging yang tersisa.
Menurut rekamaman kamera CCTV di dekat kejadian, seorang pria mengikuti lelaki 30 tahun itu dengan menggunakan topi dan masker hingga wajahnya tak terlihat. Tetapi Freya melihat sosok yang berbeda dari yang pertama kali Freya coba kejar dan lolos. Lelaki ini sedikit memiliki badan kekar dan tegap. tingginya juga standard. Bahkan kalau dilihat, pria yang menjadi korban saat ini terlihat lebih kuat daripada pelakunya. Bisa jadi lelaki ini belum sempat ancang ancang menyerang balik, karena posisi pembunuh berada di belakang. Bisa jadi di serang dari belakang.
"Ini adalah korban yang ke tiga saat aku menangani kasus ini. biadap itu akan aku buat menyesal" Freya menggeram sendiri melihat kelakuan pelaku kejahatan sadis.
Saat melihat acara televisi pagi ini, ragas terlihat kaget melihat ada sebuah pembunuhan tetapi bukan dia pelaku dari pembunuhan itu. Begitu menikmati berita di televisi ragas yang menonton sambil memakan popcorn tak sadar jika dia telah menggigit jarinya hampir putus. Ragas takerasakan apapun saat melakukannya. Sepertinya urut ragas telah mati begitu juga hatinya.
"berengsek karena berita bagus ini aku hampir memutuskan jariku " sambil menghisap darah yang keluar dari tangannya yang segera dia seka dengan perban yg ada di dekatnya. Ragas juga membersihkan sekitar mulutnya yang masih penuh darah jarinya.
"Aku semakin menikmati ada seseorang yang mencoba sama seperti ku" sahut ragas menyeringai dan tertawa sendiri setelah menonton berita.
"mungkin dia akan menjadi partner ku kelak jika kami dipertemukan" sahut ragas kembali dengan senyum menakutkannya.
Ragas mengambil gelang yang iya tidak sengaja jatuhkan di tempat kejadian dia membunuh ibu empat orang nak itu.
Flashback kejadian pembunuhan ibu 4 anak
Ragas sedang melewati area panibela, tidak sengaja dia melihat 4 orang anak sedang bersama ibunya di supermarket dekat gang. Ragas melihat raut wajah anak anaknya yang gembira begitu mengusiknya dan mencoba mengikuti ibu dan 4 orang anak ini. Saat mereka mencoba masuk ke dalam gerbang rumah mereka, ibu tersebut berpesan kepada anak tertuanya agar segera menguncinya. Hingga pada akhirnya dia melihat ada seonggok permen diluar gerbang, lalu anak tersebut pergi keluar dengan meninggalkan pintu gerbang terbuka.
Dengan mudah ragas masuk mengendap hingga ke dalam rumah. Saat menunggu anak anak ibu tidur, ragas pun melanjutkan aksi pembunuhan kepada ibu mereka ketika ibu mereka tengah berada di dapur. sedangkan anak anak masih berada di kamar. Dengan keras ragas memukul punggung ibu tersebut hingga tidak sadarkan diri. Air mendidih yang tengah ibu tadi masak disiramkan ketubuh korban, Lalu dia mencoba membelah payu darah ibu karena bagi ragas ini yang selama ini membuat ke empat orang anak ini tumbuh dengan baik.
Tanpa ragas ketahui ada salah seorang anak lagi yang berada di luar hingga saat ia masuk menyaksikan pembunuhan ibunya. mendadak seketika itu juga si anak menjadi gagap tak bisa berteriak. dia hanya terdiam melihat ragas begitu sadis Bahakan anak itu meneteskan air mata tanpa suara. Sepertinya syok anak tersebut membuatnya menjadi bisu. Tetapi ada baiknya seperti itu, jika ragas mengetahui anak itu maka dia akan membuat anak tersebut bungkam untuk selamanya.
Gelang milik ragas di ambil oleh anak yang telah menyaksikan pembunuhan ibunya setelah ragas pergi meninggalkan rumah. Dengan isakan tangis anak itu lah yang mencoba memanggil bantuan setelah kepergian ragas, ia membangunkan ketiga adiknya di kamar hingga pada akhirnya mereka berempat menangis melihat kondisi ibu mereka. Tetapi gelang itu tetap di genggam dan di simpan di laci milik anak pertama ibu tersebut. Itulah hal yang membuat ragas gelisah saat ini kehilangan gelang miliknya.