"disini sunyi dan juga gelap. jalan ini begitu menakutkan untuk aku lalui sendiri. Aku takut saat ini seperti ada orang yang mengikutiku dibelakang" kata Riko mencoba menjelaskan
Freya salah seorang detektif handal yang sedang memantau beberapa tempat yang mungkin saja menjadi tempat berlalunya pembunuh tanpa nama itu. Saat dia berjalan di sebuah jalan yang menanjak, ada seorang anak yang baru saja pulang dari les malamnya berjalan. Freya juga melihat lelaki dibelakangnya yang sedari tadi berjalan. Tetapi Freya mengira lelaki itu adalah kerabatnya sampai suatu ketika.
"aaaaaaaa" anak itu menjerit dan berjongkok sambil menunduk ketakutan.
Freya yang semakin yakin lelaki itu bukanlah kerabatnya mencoba berteriak dan mengejarnya. Lelaki itu juga berlari mengetahui ada seseorang yang mencoba mengejarnya.
Saat Freya ingin mengejar lebih jauh lagi, Freya berpikir keadaan anak tersebut hingga memutuskan untuk kembali.
anak itu terlihat gemetar, sepertinya dia telah merasakan sedari awal sudah diikuti oleh orang yang mencurigakan itu.
"kamu tidak apa-apa?" kata Freya melihat anak tersebut meringkuk ketakutan
"aku takut" sahut anak itu yang masih tertunduk
"jangan risau aku akan mengantarkan mu sampai rumah" kataku pada bocah itu
Setelah mengantar anak tersebut pulang, freya kembali ke tempat kejadian memeriksa jejak kaki pelaku. Kebetulan keadaan jalan saat ini begitu becek karena habis hujan. Freya membuat laporan tambahan. Ciri ciri tubuh yang saat itu dia lihat dari belakang.
"lelaki itu memiliki kaki yang sangat panjang hingga larinya begitu cepat. ukuran kakinya 42cm. Tubuhnya juga tidak buntal. ha iya? gelang yang dia kenakan terlihat seperti penganut ajaran Budha" kata Freya mencoba mengingat ciri-ciri pelaku
"Apa dia ada hubungannya dengan kasus pembunuhan yang banyak terjadi?" tanya rekan kerja Freya yang melihatnya sedari tadi begitu sibuk
"tidak yakin. Tapi bisa jadi. Makanya aku akan menyelidiki nya" freya sambil memijat kepalanya dengan tangannya
Ragas begitu kesal melihat aksinya yang gagal, kini dia mencoba untuk melampiaskan kekesalannya kepada orang lain. Ragas juga begitu kesal dengan anggota FBI itu. Kini ragas menargetkan Freya juga.
Ragas memasuki rumah tetangga yang tengah tidur terlelap. tetangga yang sudah lansia. Umurnya 60 tahun. Hidup seorang diri dirumah kayu minimalis.
"sebenarnya aku tak perlu melakukan hal ini, toh dia sebentar lagi akan mati. Tetapi aku akan mempercepat dirimu menemui suamimu di neraka. Selamat tinggal nenek tua" raga melayangkan pisau yang telah diasah tajam ke leher nenek tua itu
"kkkkkokkkk" suara leher yang di gorok
Ragas mengakhiri nyawa wanita tua itu dengan menggorok leher dengan pisau yang telah dibawanya. Tak hanya sampai disitu, ragas pun mengumpulkan darah wanita tua itu didalam toples dan menyimpan toples itu di tanah dekat gudang rahasia miliknya.
"ragas" ibu ragas memanggil
ragas membersihkan baju serta pisau dari darah nenek tua itu. Dia kembali dengan ekspresi seperti biasa. Ekspresi tak bersalah sama sekali. Ekspresi dimana seseorang merasa lega apa yang dia inginkan bisa dia dapatkan.
"tidak biasanya kamu keluar tidak menggunakan pakaian?" tanya ibu ragas melihat anaknya tak mengenakan pakaian.
"disini begitu panas" jawab ragas
"hmm oke baiklah" sahut ibunya tak habis pikir karena di ruangan begitu dipenuhi pendingin udara.
****************
Tim forensik mengepung rumah nenek tua itu, ibu ragas curiga dengan keadaan nenek sebelah yang beberapa hari ini tidak kelihatan. Ibu ragas hanya berpikir positif saja selama beberapa hari yang lalu, tetapi kali ini kecurigaannya bertambah sejak suara gonggongan anjing yang begitu keras mengarah ke rumah nenek tua itu. Hingga pada akhirnya ibu ragas mengambil handphone dan menelpon polisi.
"sangat kejam, kepala nenek ini digorok hingga putus dan si pembunuh meletakkannya di ruang tamu sebagai pajangan. dari pemeriksaan yang kami temukan, darah nenek ini sepertinya diambil" penelitian yang dilakukan anggota forensik
"sudah pasti orang yang sama" kata Freya menyambung perkataan tim forensik
"bisa jadi" jawab anggota tim forensik
mayat nenek itu dibawa untuk di otopsi. setelahnya tatapan ragas sedari tadi yang mengarah ke Freya membuat ragas mengepalkan tangannya dibawah. Lagu lagi Freya ada disini. tatapan yang ragas timbulkan seperti melihat mangsa yang selanjutnya diterkam. Freya melihat ragas yang sedari tadi memandangnya aneh, tetapi dia mencoba biasa. Freya beranggapan itu hanya perasaannya saja.
"ibu yang pertama kali menemukan korban?" tanya Freya pada ibu ragas
"ah iya. Saya tetangga si nenek. Kejadiaannya begitu tidak diketahui. Saya juga tidak tahu suara apapun kejadiaan didalam rumah nenek. Saya curiga terjadi sesuatu saat anjing itu menggonggong sangat kencang. lalu saya masuk kedalam melihat nenek sudah terbaring berlumuran darah tanpa kepala" jelas ibu ragas menjelaskan kronologi saat penemuan mayat
"kalau ini siapa?" tanya Freya menunjuk ragas
"oh ini anak saya. ragas" sahut ibu memperkenalkan
"kira-kira beberapa hari yang lalu apakah ibu melihat orang yang mencurigakan disekitar sini?" tanya Freya kembali menyelidiki
"tidak ada. tapi saya kurang tau juga soalnya saya bekerja jadi kurang mengawasi 24 jam daerah ini. Setau saya nenek ini sangat baik. dia hidup sebatang kara sejak kepergian suaminya. sepertinya dia juga tidak mungkin memiliki musuh yang sampai tega membunuhnya begitu sadis seperti ini" terang ibu ragas kembali
"saya permisi dulu" sahut ragas meninggalkan Freya dan ibunya
"baik terima kasih. Jika ibu menemukan hal hal yang mencurigakan dan bisa menjadi tambahan bukti pembunuhan ini. Ibu bisa hubungi kantor kami" Freya menyudahi penyelidikannya pada ibu ragas
"baiklah" sahut ibu ragas
Pembunuh berdarah dingin ini semakin meresahkan orang orang. Masyarakat ketakutan jika suatu ketika bisa saja mereka bertemu dengan si pembunuh.
Freya pun berjalan dan melangkah ke TKP mencoba kembali mencari bukti. Bisa jadi ada sebuah bukti yang belum semua dikumpulkan. Tetapi hasilnya nihil. Freya pun kembali ke ruang otopsi nenek. kini kepala nenek mencoba disatukan dengan badannya. terlihat bekas jahitan di leher nenek.
"Seperti yang bisa dilihat, dari tebasan yang dilakukan pembunuh. Sebuah pisau yang diasah begitu tajam untuk mempercepat pembunuhan. Tolong kumpulkan segala jenis pisau yang berada di rumah nenek" kata Freya memerintah anggotanya
"siap" sahut para anggota FBI
Belum saja selesai menyelidiki kasus pembunuhan nenek, telpon kantor berbunyi dengan laporan pembunuhan lainnya. Kini korbannya ibu berkepala 4.
Anggota tim langsung menuju lokasi pelapor. Freya mengambil name tag nya secara terburu buru menyelidiki kasus baru. dengan segera mobil tim bergerak dengan bantuan suara serinai untuk menghalau kemacetan kota.
Sesampainya disana Freya melihat 4 orang anak yang masih kecil menangis didepan rumahnya yang tengah dipenuhi orang dan digarisi oleh polisi. Sepertinya mereka semua masih SD. Saksi beranggapan ini sebuah pembunuhan yang dilandasi emosi. Seperti kelihatannya, ada beberapa kulit yang melepuh akibat siraman air panas. Dan hal yang mengerikan lainnya, korban memiliki payu dara yang tidak lagi utuh. Sepertinya pembunuh kali ini psikopat buah d**a.
Freya berusaha berpikir, semua yang saat itu saling berkaitan. Tetapi kali ini berbeda. Apakah ini orang yang sama dengan sebelumnya. Atau ada psikopat lainnya lagi muncul berbeda?
Apakah hanya ragas yang menjadi psikopat? ataukah ada orang lain berdarah psikopat juga?