Jenie menatap nanar pada langit-langit kamar yang dihias dengan kertas berwarna gold yang dibentuk menyerupai bintang. Bintang yang hanya ada di kamar Jane selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Ya, saat ini Jenie sedang berbaring di kamar Jane. Manatap bintang-bintang buatan yang ada di kamar Jane karena langit malam sedang menumpahkan semua air mata dan sembilunya. Perlahan bulir-bulir bening jatuh turun membasahi pipi Jenie. Dia masih terbayangkan akan kondisi sahabatnya yang begitu mengenaskan, Aliska. Dia tak percaya jika orang yang dia sayangi setelah Jane akan ikut meninggalkannya. “Aliska ...,” teriak Jenie memanggil nama sahabatnya. Dia merasa ada seauatu yang hilang dari dalam dirinya, seauatu yang begitu besar dan membuat sebuah lubang kosong di dalam hatinya. Perlahan J

