Jenie tertidur di tempat ridurnya yang begitu lembut dan hangat. Tubuh basahnya kini telah kering setelah dia berganti pakaian. Jenie begitu terlelap dengan tenangnya seolah dia tidak memperbaiki apa-apa. Dia terlihat memeluk guling dengan lembutnya. Tok ... tok ... tok ... yang ketukan terdengar menggema di pintu kamar Jenie hingga terbangun dari tidurnya yang jadi nyenyak. Perlahan dia dimulai dan mulai membiasakan tatapannya dengan cahaya mentari yang mulai masuk ke dalam kamarnya. "Masuk," teriak Jenie sambil menggulung rambut panjangnya. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Jenie membawa sandwich dan segelas s**u. "Saya letakkan di mana sarapannya, Non?" Tanya pelayan kepada Jenie yang masih di tempat tidur. "Simpan di balkon," kata Jenie sambil beranjak dari tempat tidur da

