Sinar mentari pagi masuk melalui celah tirai kamar Jenie. Sesekali tubuh indahnya menggeliat sambil mengucek mata indahnya. Jenie merasakan beberapa bagian tubuhnya kaku karena apa yang dilakukannya kemarin. Ya, sudah lama dia tidak berenang apalagi tanpa pemanasan terlebih dahulu. Tapi kemarin dia terpaksa harus berenang dan menunjukkan keindahan tubuhnya pada Ben. Pria yang cukup populer di kampusnya dan sekaligus pria yang telah membuat kembarannya meregang nyawa beberapa waktu lalu. Tok ... tok ... tok ... sebuah ketukan terdengar begitu jelas di telinga Jenie. Mata indahnya yang dihiasi dengan bulu mata lentik segera menatap ke arah jam yang bertengger cantik di meja samping tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi yang artinya dia masih memiliki waktu beberapa jam lagi sebe

