Bab 23

1073 Kata

Perlahan Jenie membuka matanya dan menatap langit-langit kamar mandi yang bercat putih. Rasa puas yang diberikan prianya masih terasa menaungi Jenie padahal sudah dua puluh menit berlalu dari kepergian pria itu. Tapi setiap sentuhan yang penuh dengan gelora itu masih saja menempel lekat di dalam tubuh mulusnya. Huft ... Jenie menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Seulas senyum tersungging dari bibirnya yang sedikit bengkak karena serangan pria yang begitu dicintainya. “I love you my husband,” gumam Jenie sambil beranjak dari lantai kamar mandi yang begitu dingin. Dengan hati-hati Jenie melangkahkan kakinya menuju shower untuk membersihkan diri. Lututnya terasa telah bergeser dari tempatnya hingga membuat Jenie tak mampu berjalan cepat. Lemas, kata itu yang leb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN