“Tidak, saya tidak tahu milik siapa kalung itu,” jawab Jenie mantap tanpa adanya keraguan sedikit pun. “Anda yakin?” desak Iptu Haidar yang marasa jika Jenie mengetahui mengenai kalung yang ada di tangannya itu. “Saya yakin!” kata Jenie yang masih mencoba bersikap tenang dan tidak tersulut emosinya. IPTU Haidar menatap mata Jenie lekat. Dia seolah sedang mencari kesungguhan dari kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh gadis yanh ada di hadapannya. Karena bagaimanapum entah kenapa hatinya merasa tak yakin dengan apa yang di katakan oleh Jenie. Dia merasa jika Jenie memgetahui sesuatu, tapi menyembunyikan kenyataan itu dari dirinya. Gadis itu menyimpan kesakitan dan teka-teki mengenai kematian sahabatnya seorang diri. Jenie menyadari apa yang sedang di pikirkan oleh IPTU Haidar, tapi

