“Dia akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah dia lakukan pada Aliska,” gumam Jenie sambil memukul air kolam renang dengan cukup keras hingga sebagian cipratan airnya mengenai dirinya. Amarah yang terpendam terlihat jelas di wajah Jenie. Mata indahnya yang di hiasi oleh bulu mata lentik menyorotkan dendam yang begitu mendalam. Sesekali terdengar suara giginya yang bergemeletuk menahan amarah yang telah memuncak di dalam dadanya. Jenie masih saja terdiam di pinggir kolam renang meski matahari telah berada di atas kepalanya. Dan tak ada satu orang pun yang berani mengusik ketenangan Sang nona karena semua memang tak ingin bermasalah dengannya. “Ma... maaf Non,” kata seorang pelayan yang memberanikan diri untuk menghampirinya. Jenie langsung menolehkan wajahnya dan berus

