Nim dan teman-temannya mendapatkan sebuah benda berbentuk sisik berwarna biru yang diberikan oleh seekor naga biru, yaitu Shirashfer yang sebelumnya sudah merubah wujudnya menjadi sebilah pedang lalu ikut berjuang bersama dengan Nim dan teman-temannya. Setelah itu, tampak Nim dan teman-temannya yang menceburkan diri mereka ke dalam danau.
"Ternyata benar, kita bisa bernafas di dalam air," ucap Nim yang menyelam ke dasar danau bersama dengan teman-temannya.
"Apa kau mengetahui lebih tepatnya dimana lokasi Putri Alice, Michi?" tanya Grazel.
"Sebentar," jawab Michi kemudian memejamkan kedua matanya, "Disana," ucapnya lagi menunjuk sebuah bongkahan batu besar di dasar danau setelah membuka kedua matanya.
"Ayo," ajak Nim dengan semangat seketika mempercepat gerakkannya menyelam ke arah batu besar yang ditunjuk oleh adiknya.
"Dimana pintu masuknya?" tanya Juno ketika mereka tiba tepat di dekat sebuah batu besar di dasar danau.
"Nim," panggil Shirashfer yang berwujud pedang dan tepat menempel di belakang tubuh Nim.
"Ya, Shirashfer?" tanya Nim.
"Tancapkanlah aku ke salah satu bagian batu itu," ucap Shirashfer.
"Baik," sahut Nim sembari mengangguk kemudian berenang mendekat di salah satu bagian batu, lalu menancapkan pedangnya.
"Aku akan melacak jalurnya," ucap Shirashfer kemudian kristal biru tepat pada pedang yang merupakan wujudnya pun bercahaya, "Sudah selesai," ucapnya lagi seketika cahaya kristal biru meredup.
"Bagaimana, Shirashfer?" tanya Nim.
"Tepat di bawah batu ada sebuah lorong," jawab Shirashfer, "Itu adalah jalan masuknya," sambungnya.
"Ayo kita kesana," ajak Nim seketika mempercepat geraknya berenang ke dasar danau dan diikuti oleh teman-temannya.
Nim tiba tepat di depan sebuah lorong yang berada pada batu besar di dasar danau. Seketika Nim dan teman-temannya dikejutkan oleh dua sosok monster raksasa yang tiba-tiba berada tepat di belakang mereka. Satu monster berwujud seperti hiu yang tubuhnya berwarna merah, dan satu monster lagi berbentuk seperti seekor kepiting berwarna hitam.
"Mau apa kalian!" ucap salah satu monster raksasa yang berwujud seperti seekor hiu dengan tubuh berwarna merah.
"Sepertinya kita harus melawan mereka dulu," ucap Luiji seketika bersiaga.
"Sebentar, Luiji," ucap Tion, "Aku merasa energi mereka sama dengan kami," sambungnya seketika terkejut ketika merasakan energi yang berasal dari kedua monster tersebut.
"Benar, tidak salah lagi," sahut Naken.
"Apa maksud kalian?" tanya Nim.
"Mereka juga Beaster sama seperti kami," jawab Tion.
"Tapi, jika mereka adalah Beaster, bukankah tanpa gelang ini mereka akan menjadi makhluk yang buas?" tanya Luiji.
"Kau benar, Luiji," jawab Tion, "Tapi lihat benda yang menempel di atas kepala mereka," sambungnya.
"Benda yang berwarna hitam itu?" tunjuk Nim ke arah benda yang tepat menempel di kepala kedua monster di depan mereka.
"Sepertinya kalian tidak mau menjawab!" ucap salah satu monster berbentuk kepiting raksasa kemudian seketika menghuyungkan salah satu capitnya ke arah Nim dan teman-temannya.
"Awas!" ucap Grazel seketika menghindari serangan dari monster kepiting raksasa tersebut dan diikuti oleh Nim dan yang lainnya.
"Hampir saja," ucap Nim lega.
"Nim," panggil Tion.
"Ya, Tion?" tanya Nim.
"Keluarkan aku sebentar," sahut Tion.
"Baiklah," ucap Nim mengangguk.
"Luiji, aku juga," ucap Naken.
"Baik," sahut Luiji.
Kemudian Nim dan Luiji memusatkan seluruh kekuatan yang berada di tubuh mereka menuju tepat di bagian jantung. Seketika sebuah cahaya melesat dari gelang Nim dan tubuh Luiji. Tampak cahaya yang melesat tersebut seketika membentuk wujud harimau dan gurita.
"Aku tidak ingin bertarung dengan kalian," ucap Tion seketika berada tepat di depan dua monster raksasa berwujud hiu dan kepiting.
"Kalian juga Beaster?" tanya salah satu monster berwujud hiu.
"Benar, kami Beaster sama seperti kalian," jawab Naken.
"Sebaiknya kalian menjauhlah dari tempat ini, jika kalian tidak ingin memiliki nasib yang sama seperti kami berdua," ucap salah satu monster berbentuk hiu.
"Ya, sebaiknya kalian pergi dari sini," lanjut salah satu monster berbentuk kepiting.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada kalian?" tanya Tion.
"Kami sudah dikendalikan oleh orang itu," jawab monster berwujud hiu.
"Orang itu? Apa maksudmu Neilto?" tanya Nim seketika mendekat dan berdiri di samping Tion dan Naken.
"Apa yang kalian tahu tentang dia?" ucap monstet berwujud kepiting balik bertanya kepada Nim.
"Kami tidak tahu banyak tentang dia," jawab Nim kemudian menundukkan kepalanya, "Tapi yang aku tahu sekarang dia sudah menculik Putri Alice," sambungnya.
"Putri Alice?" gumam salah satu monster berwujud hiu, "Siapa namamu?" tanyanya menatap ke arah Nim.
"Namaku Nim," jawab Nim memberitahukan namanya.
"Baiklah Nim, namaku Sharken dan temanku ini bernama Cracken," ucap monster berwujud hiu memperkenalkan dirinya dan temannya yang berwujud kepiting.
"Baik, Sharken, Cracken, apa kalian bisa membantu kami memberitahu dimana Putri Alice ditawan?" tanya Nim.
"Aku bisa memberitahumu dimana temanmu itu ditawan," jawab Sharken, "Tapi, aku tidak bisa membolehkan kalian semua melewati lorong itu dan masuk ke dalam," sambungnya.
"Kenapa?" tanya Nim.
"Lihatlah benda hitam di atas kepala kami," jawab Cracken.
"Benda apa itu sebenarnya?" tanya Nim.
"Ini adalah alat kendali," jawab Sharken.
"Alat kendali?" gumam Luiji seketika mendekat dan berdiri di samping Nim tepat di depan Sharken dan Cracken berada.
"Kami tidak bisa menolak perintah yang sudah ditanamkan pada benda ini," jelas Cracken.
"Ya, siapa saja orang yang ingin masuk melewati lorong itu, maka benda ini akan mengendalikan kami menyerang orang itu," ucap Sharken.
"Dan siapa saja yang ingin menyerang kami, maka kami akan menyerangnya kembali," lanjut Cracken.
"Sepertinya kami harus melepaskan benda itu dari kepala kalian," ucap Nim.
"Itu tidak bisa," sahut Sharken.
"Kita tidak akan mengetahui hasilnya jika tidak dicoba," ucap Nim tersenyum kemudian menatap ke arah Luiji yang berdiri di sampingnya, "Ayo, Luiji," ajak Nim seketika melesat ke arah Sharken dan Cracken.
"Jangan!" teriak Sharken seketika mengibaskan ekornya ke arah Nim sehingga membuat Nim terlempar, "Sudah ku katakan, semuanya hanya sia-sia," ucapnya lagi.
"Nim!" teriak Tion seketika melesat ke arah Nim dan menghalangi tubuhnya yang terlempar.
"Terima kasih, Tion," ucap Nim seketika perlahan mencoba berdiri.
"Aku juga akan membantu," ucap Grazel seketika melesat ke arah Nim kemudian membantunya berdiri.
"Aku juga," ucap Juno.
"Ayo, Kak," ucap Michi.
"Aku punya rencana," ucap Nim.
"Apa rencana mu, Nim?" tanya Tion.
"Lumpuhkan mereka berdua tanpa menyerang!" jawab Nim seketika melesat ke arah Cracken dan Sharken
"Apa itu termasuk rencana?" teriak Luiji ke arah Nim.
"Ayo!" ajak Grazel seketika melesat menyusul Nim yang melesat ke arah Cracken dan Sharken.
"Baik," ucap Michi dan Juno bersamaan seketika ikut melesat menyusul Nim.
Luiji tersenyum, "Aku mengerti," ucap Luiji kemudian juga ikut melesat menyusul Nim.
Nim dan teman-temannya mendekat ke arah Sharken dan Cracken kemudian bermaksud untuk menyerang, namun seketika Sharken dan Cracken balas menyerang.
"Nim, gunakan kekuatanku untuk membekukan tubuh mereka," ucap Shirashfer.
"Baik," sahut Nim kemudian meraih sebilah pedang hitam di belakangnya lalu seketika mengayunkan pedang tersebut ke arah Sharken dan Cracken, namun sasasarannya meleset.
"Pedang itu hebat juga," ucap Naken ketika melihat kekuatan dari pedang yang merupakan wujud dari Shirashfer yaitu Dewa Penjaga Air.
Serangan dari Nim yang menggunakan kekuatan dari Shirashfer pun akhirnya mengenai Sharken dan Cracken sehingga membuat tubuh kedua Beaster tersebut membeku, namun kekuatan tersebut masih belum cukup untuk melumpuhkan Sharken dan Cracken. Kemudian kedua Beaster tersebut memecahkan es yang menyelimuti tubuh mereka dan seketika menyerang balik. Seluruh serangan dari Sharken dan Cracken dapan dihalau dan dihindari oleh Nim bersama teman-temannya, sehingga tidak berapa lama membuat Sharken dan Cracken tampak kelelahan.
"Sebentar lagi," gumam Nim yang juga tampak kelelahan, "Ayo teruskan!" teriaknya kemudian.
"Jadi seperti itu rencananya," gumam Tion ketika melihat Nim dan teman-temannya berusaha membuat Sharken dan Cracken kelelahan.
"Anak itu," ucap Naken menatap ke arah Nim yang berusaha menghindari seluruh serangan dari Sharken dan Cracken.
Tidak berapa lama setelah Nim dan teman-temannya menghindar dari serangan Sharken dan Cracken, seketika kedua Beaster itupun tumbang.
"Aku tidak menyangka kalau Nim memiliki rencana seaneh ini," ucap Greatshfer.
"Begitulah, kakakku," sahut Michi tersenyum.
"Rencana pertama sudah berhasil," ucap Nim tersenyum seketika berdiri tepat di depan Sharken dan Cracken yang telah tumbang.
"Ayo kita lepaskan kedua benda ini," ajak Grazel seketika mendekat ke arah kepala Sharken kemudian mencoba melepaskan benda hitam yang menempel pada kepala Sharken, "Benda ini sudah diikat dengan sihir," ucapnya lagi setelah tidak berhasil melepaskan benda hitam tersebut.
"Lalu, bagaimana kita bisa melepas kedua benda itu?" tanya Juno.
"Michi!" teriak Nim menoleh ke arah adiknya.
"Tuan Putri," panggil Greatshfer kepada Michi.
"Ya?" tanya Michi.
"Sepertinya ini tugas kita," jawab Greatshfer.
"Tugas kita?" tanya Michi lagi, "Maksudmu sama seperti sewaktu kita melepaskan sihir yang mengurung kak Juno?" sambungnya.
"Benar," jawab Greatshfer.
"Baik," ucap Michi mengangguk kemudian melesat mendekat ke arah Sharken dan Cracken.
"Ikuti apa yang saya katakan, Tuan Putri," ucap Greatshfer mengarahkan.
"Baik," jawab Michi, "Ini yang pertama," ucapnya kemudian mendekat ke arah Sharken lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada benda hitam yang menempel pada kepala Sharken dan memejamkan ke dua matanya.
Setelah Michi mengikuti mantra yang diucapkan oleh Greatshfer, dengan seketika benda hitam yang menempel pada kepala Sharken pun terlepas. Kemudian Michi mendekat ke arah Cracken, dan berhasil melepaskan benda hitam pada kepala Cracken.
"Terima kasih," ucap Sharken kemudian berusaha bangun.
"Terima kasih," sambung Cracken.
"Sama-sama," sahut Michi tersenyum ke arah kedua Beaster di hadapannya.
"Kau hebat, Nim," ucap Luiji seketika menepuk pundak Nim.
"Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh hatiku," sahut Nim sembari menggaruk kepalanya.
"Nim," panggil Sharken.
"Ya?" tanya Nim.
"Sepertinya kalian harus cepat menyelamatkan teman kalian," jawab Sharken.
"Baik," sahut Nim.
"Sebaiknya aku kembali," ucap Tion seketika menjadi segumpal cahaya lalu melesat menuju gelang di tangan Nim.
"Aku juga," ucap Naken seketika merubah wujudnya menjadi segumpal cahaya lalu masuk ke dalam tubuh Luiji.
"Sekali lagi, terima kasih," ucap Sharken kemudian berenang menjauh dari Nim dan teman-temannya.
"Terima kasih," ucap Cracken kemudian berjalan menyusul Sharken.
"Daah!" teriak Nim melambaikan tangannya ke arah Sharken dan Cracken yang sudah tampak jauh.
"Ayo, kita harus segera masuk ke dalam sana," ucap Grazel.
"Baik," sahut Nim kemudian masuk melalui lorong yang berada pada batu besar tepat di dasar danau.
"Dimana mereka menahan Tuan Putri?" gumam Grazel setelah masuk ke dalam batu besar di dasar danau.
"Tempat ini seperti sebuah laboraturium," ucap Juno memperhatikan tempat sekelilingnya ketika berada di dalam sebuah batu besar di dasar danau.
"Benar, aku mengenal tempat ini," ucap Michi, "Dimana ruangan itu?" sambungnya mengerutkan keningnya sembari menoleh ke kiri dan kanan mencari sebuah ruangan.
"Sepertinya ada yang tidak beres," ucap Luiji.
"Ada apa, Luiji?" tanya Nim menoleh ke arah Luiji.
"Sangat aneh kalau tempat ini tidak dijaga," jawab Luiji.
"Kau benar," sahut Grazel, "Jika benar tempat ini adalah persembunyian Black Tail, seharusnya anggota Black Tail pasti berkumpul di dalam sini," sambungnya.