BAB 1
“Tolong bantu Kakak, Kaira ... Tolong, menikahlah dengan Mas Azlan,” pinta Khalisa dengan suara bergetar yang memelas.
Suasana ruang tamu kediaman keluarga Kareem terasa mencekik, meski pendingin ruangan bekerja dengan maksimal. Di atas sofa beludru yang mewah, Khalisa duduk dengan bahu merosot, menggenggam jemari adiknya, Kaira, seolah-olah hidupnya bergantung pada genggaman itu. Air mata menggenang di pelupuk mata Khalisa, menciptakan kesan rapuh yang selama lima tahun ini selalu berhasil meluluhkan siapa pun.
Kaira terdiam, matanya menatap tautan tangan mereka. Lima tahun. Ia tahu persis bagaimana kakaknya membanggakan pernikahannya dengan Azlan Alzahir, pria dari dinasti bisnis yang kekuasaannya tak terukur. Namun, kemegahan itu kini retak karena satu hal yang tidak bisa diberikan Khalisa, seorang pewaris.
“Tapi, Kak ...” Kaira mencoba menyela, namun kalimatnya tertahan saat melihat tatapan sendu Khalisa yang semakin dalam.
“Kakak mohon,” bisik Khalisa lirih.
Kaira mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya yang duduk berseberangan. Papa Emir, yang biasanya bicara dengan nada memerintah, kini menatapnya dengan raut wajah yang dipaksakan terlihat prihatin. Di sampingnya, Mama Samira terus mengelus lengan suaminya, seolah mereka berdua adalah korban di sini.
“Kamu harus setuju, Nak,” ujar Papa Emir akhirnya. Suaranya berat, penuh penekanan yang tidak memberi ruang untuk membantah. “Orang tua Azlan sudah memberikan peringatan keras. Kalau dalam waktu dekat Khalisa tidak bisa memberikan keturunan, mereka akan mencabut semua investasi di perusahaan kita. Bukan cuma itu, mereka akan memaksa Azlan menceraikan kakakmu.”
Emir tidak mengatakan bahwa ia lebih mencemaskan saldo rekeningnya daripada kebahagiaan Khalisa. Baginya, stabilitas keuangan perusahaan adalah segalanya, bahkan jika itu berarti harus menumbalkan putri bungsunya ke dalam pernikahan poligami.
“Kamu mau kan, Nak? Membantu Kakakmu sendiri?” Mama Samira ikut membujuk dengan nada bicara yang dimanis-maniskan.
Kaira menatap Khalisa kembali. Wajah kakaknya itu tampak begitu pucat, namun ada kilat antisipasi di balik matanya. “Tapi bagaimana kalau Mas Azlan tidak setuju? Ini bukan hal sepele, Kak,” tanya Kaira, mencoba mencari celah untuk keraguannya.
Khalisa segera menggeleng cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak lama. “Tenang saja. Mas Azlan sudah setuju. Kami sudah membicarakannya tadi malam. Walaupun awalnya berat, dia akhirnya paham kalau ini satu-satunya jalan supaya kami tidak dipaksa cerai. Kami hanya butuh persetujuanmu sekarang.”
“Tapi tetap saja—”
“Ini demi keluarga kita, Kaira!” Mama Samira memotong dengan nada yang mulai meninggi, kehilangan kesabarannya. “Mama tidak mau tahu, kamu harus mau menikah dengan Azlan. Ini tugasmu sebagai anak.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kaira bisa merasakan beban harapan—atau lebih tepatnya paksaan—yang menghimpit dadanya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia menghela napas panjang dan mengangguk pelan.
Khalisa langsung tersenyum lebar. Ia memeluk Kaira dengan erat, menyembunyikan binar kemenangan di wajahnya. Dalam hati, Khalisa bersorak. Baginya, Kaira hanyalah sebuah sarana. Tugas melahirkan anak kini sudah ada di tangan adiknya; ia hanya perlu menunggu bayi itu lahir, mengambilnya, dan menyingkirkan Kaira kembali ke pojokan. Hak untuk menjadi istri satu-satunya dan ibu bagi ahli waris Alzahir tetap akan menjadi miliknya.
“Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan istirahat,” ucap Mama Samira dengan nada yang tiba-tiba melunak setelah mendapatkan apa yang diinginkan. “Masalah pernikahan dan t***k bengeknya, biar kami yang urus.”
Kaira mengangguk tanpa suara, berdiri, dan melangkah menuju kamarnya di lantai atas.
***
Begitu pintu kamar Kaira tertutup, atmosfer di ruang tamu berubah seketika. Ketegangan itu menguap, digantikan oleh rencana-rencana yang mulai digulirkan secara terang-terangan. Khalisa menatap orang tuanya dengan ekspresi lega yang nyata.
“Semuanya teratasi dengan baik, Mah, Pah,” ucap Khalisa sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Belum, Khalisa. Justru Mama sekarang mencemaskan hal lain,” sahut Mama Samira sambil mengerutkan dahi.
Khalisa mengernyit bingung. “Cemas soal apa lagi? Kaira sudah setuju, kan?”
“Bagaimana kalau Azlan justru jatuh cinta pada Kaira?” tanya Mama Samira terus terang.
Khalisa spontan terkekeh, suara tawanya terdengar meremehkan. “Itu tidak mungkin, Mah. Kaira? Dibandingkan denganku?”
Mama Samira menggeleng ragu. “Kenapa tidak? Akan ada anak di antara mereka nanti. Hubungan biologis dan emosional saat hamil bisa mengubah segalanya, Khalisa.”
Khalisa menghela napas, merasa ibunya terlalu berlebihan. “Mama pikir kenapa Mas Azlan masih mempertahankan pernikahan kami selama lima tahun ini meski aku belum bisa kasih anak? Itu karena dia mencintaiku, Mah. Sangat mencintaiku. Dia tidak akan berpaling hanya karena seorang gadis pendiam seperti Kaira.”
Khalisa mengingat perjuangannya membujuk Azlan semalam. Pria itu memang sempat menolak keras, namun Khalisa menggunakan senjata pamungkasnya, ancaman perceraian dari keluarga Alzahir. Azlan yang sangat menghargai keutuhan rumah tangga akhirnya menyerah.
“Tadi malam dia juga nggak langsung setuju. Aku harus meyakinkannya berkali-kali. Mas Azlan sangat takut kehilangan aku, makanya dia bersedia menikahi Kaira hanya demi status keturunan,” lanjut Khalisa dengan senyum angkuh.
Mama Samira perlahan ikut tersenyum. “Baguslah kalau begitu. Mama cuma tidak ingin sumber uang kita pergi begitu saja kalau kalian sampai cerai.”
Khalisa mengangguk mantap, lalu menoleh pada ayahnya. “Iya kan, Pah? Mas Azlan nggak akan mungkin cinta sama Kaira.”
Papa Emir meletakkan gelas kopinya, menatap putri sulungnya yang selalu ia banggakan itu. “Putri kita begitu cantik dan pintar mengambil hati. Azlan tidak akan berani berpaling dari wanita sesempurna kamu.”
Khalisa tersenyum penuh kemenangan. Di matanya, ia telah menyusun skenario yang sempurna di mana ia tetap menjadi ratu, sementara Kaira hanyalah bidak yang bisa ia gerakkan sesuka hati.
***
Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Kaira tidak sedang beristirahat. Ia berdiri di depan meja riasnya, menatap sebuah foto lama yang warnanya mulai memudar. Di foto itu, tampak seorang anak laki-laki berseragam SMA dengan senyum manis.
Raffi. Nama itu pernah menjadi segalanya bagi Kaira. Cinta pertamanya, kekasih yang ia banggakan, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan dunianya.
Kaira menyalakan pemantik api. Sudut foto itu mulai menghitam, dilalap api yang perlahan merambat ke wajah Raffi. Ia menatap nyala api itu dengan mata dingin, tanpa setetes pun air mata.
Pikirannya melayang kembali ke masa SMA, ke sebuah gudang sekolah yang pengap. Di sana, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Raffi, kekasihnya, sedang b******u panas dengan Khalisa, kakak kandungnya sendiri. Yang lebih menyakitkan bukan hanya perbuatan mereka, tapi bagaimana keduanya sama sekali tidak merasa bersalah saat tertangkap basah. Khalisa justru menatapnya dengan pandangan merendahkan, seolah mengatakan bahwa apa pun yang dimiliki Kaira bisa ia ambil kapan saja.
Sejak hari itu, perasaan Kaira telah hangus menjadi abu, persis seperti foto yang kini sudah tidak berbentuk di hadapannya.
Kaira mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Ia menutup mata sejenak, membiarkan kebencian yang ia simpan selama bertahun-tahun mengalir deras di pembuluh darahnya.
Keluarganya mengira mereka sedang mengorbankannya? Mereka salah besar.
Dulu Khalisa mengambil kekasihnya, merampas kebahagiaan remajanya dengan begitu kejam. Dan sekarang, keluarga ini memberinya jalan untuk masuk ke jantung kekuatan mereka sendiri. Mereka ingin Kaira menjadi “pabrik anak"? Baiklah. Tapi Kaira tidak akan berhenti di situ.
Ia akan mengambil Azlan. Ia akan mengambil posisi Khalisa. Ia akan memastikan setiap orang di rumah ini merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, persis seperti yang ia rasakan dulu. Dukungan dari keluarga Alzahir adalah tiket emasnya, dan ia tidak perlu bersusah payah mencurinya; keluarganya sendiri yang menyerahkannya di atas nampan perak.
Kaira menyeka sisa abu di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menyunggingkan senyum yang sangat manis, jenis senyum yang akan membuat siapa pun tertipu.
'Selamat datang di neraka yang sesungguhnya, Kak Khalisa,' batin Kaira.
Ia memejamkan mata dengan tenang, siap memulai perannya dalam sandiwara yang ia rancang sendiri untuk menghancurkan mereka semua.