Suara ceklek dari pintu kamar yang terbuka kasar mengejutkan Kaira. Ia menoleh, mendapati Khalisa melangkah masuk dengan gaya angkuhnya yang biasa. Kakaknya itu tampak sibuk merapikan tatanan rambut di depan cermin besar milik Kaira, seolah kamar adiknya hanyalah persinggahan sementara yang tidak berharga.
“Nanti Mas Azlan mau ke sini, jemput Kakak. Kamu bilangin dia untuk tunggu, karena Kakak mau pergi sebentar sama Mama,” ucap Khalisa tanpa menoleh, jemarinya lincah mematut anting-anting emas yang berkilau.
Kaira segera berdiri dari tepi ranjang. “Kakak sama Mama mau ke mana?”
Khalisa seketika melotot, menatap tajam melalui pantulan cermin. “Ada urusan penting! Kamu jangan ke mana-mana, di rumah saja,” tunjuk Khalisa dengan nada mengancam sebelum bergegas menutup pintu dan pergi, meninggalkan aroma parfum menyengat yang tertinggal di udara.
Begitu derap langkah heels kakaknya menjauh, ekspresi lugu di wajah Kaira menguap. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang sarat akan rencana. Ia segera berlari ke kamar mandi. Di bawah kucuran air, ia membasuh diri dengan cepat, lalu memoles wajahnya dengan riasan yang sangat tipis—jenis riasan “no-makeup look” yang memberikan kesan polos dan murni. Ia memilih gaun rumah sederhana berbahan katun yang pas di tubuhnya, namun tetap terlihat sopan.
Hari ini, rencana pertama dimulai, mengupas satu per satu kulit kebohongan yang selama ini dibungkus rapi oleh Khalisa di hadapan suaminya.
Kaira melangkah ke dapur. Ia mulai mengeluarkan bahan-bahan kue dari lemari, tepung terigu berkualitas, mentega, telur, dan ekstrak vanila. Dengan gerakan yang telaten dan sangat mahir, ia mulai mencampur adonan. Tangannya bergerak ritmis, menghancurkan gumpalan tepung, sementara pikirannya menghitung waktu dengan presisi.
Ia melirik jam dinding. Adonan sudah masuk ke dalam cetakan dan siap dipanggang. Jika perhitungannya tepat, Azlan akan sampai di rumah ini tepat saat aroma harum kue mulai memenuhi ruangan.
Sambil menunggu oven bekerja, Kaira beralih ke meja bar dapur. Ia menyiapkan dua gelas kopi s**u. Ia sengaja tidak menggunakan mesin otomatis; ia menyeduhnya secara manual agar aromanya lebih kuat dan personal.
“Kamu membuat kue?”
Suara berat dan bariton itu membuat Kaira tersentak. Ia menoleh cepat, menemukan Azlan sudah berdiri di ambang pintu dapur, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Azlan Alzahir. Pria itu selalu tampak dominan, bahkan dalam setelan kemeja kantor yang lengannya digulung hingga siku. Azlan mengabaikan reaksi kaget Kaira dan langsung menarik kursi, duduk di meja bar.
“Mas Azlan ... sedang menjemput Kak Khalisa, ya? Tapi Kak Khalisa dan Mama sedang ada urusan di luar. Katanya sebentar lagi pulang,” ucap Kaira, mencoba menetralkan suaranya agar terdengar setenang mungkin.
“Mas tahu,” sahut Azlan datar. Matanya tidak lepas dari sosok Kaira yang kini tampak sedikit salah tingkah di depannya.
Kaira mencoba mengalihkan suasana. “Mas mau kopi atau teh? Kebetulan aku baru saja menyeduh kopi.”
Azlan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan. “Kamu bisa membuat kopi?”
“Bukan hanya bisa, Mas. Tapi rasanya juga boleh diadu,” sahut Kaira dengan nada sedikit menantang namun tetap lembut. Ia segera mengambil gelas kosong dan menuangkan kopi buatannya dengan gerakan anggun.
Azlan memperhatikan setiap gerak-gerik adik iparnya. Ingatannya kembali pada pembicaraan dengan Khalisa tadi malam tentang rencana pernikahan kedua. Melihat Kaira yang begitu telaten di dapur, ada secercah rasa bersalah yang menusuk dadanya.
‘Bagaimana mungkin aku menghancurkan hidup gadis ini hanya untuk menyelamatkan egoku dan Khalisa?’ batin Azlan.
Di mata Azlan, Kaira adalah gadis baik-baik yang berhak mendapatkan pria hebat dan kehidupan yang normal, bukan menjadi istri kedua demi sebuah “kontrak keturunan".
“Ini, Mas. Semoga suka,” ucap Kaira sambil meletakkan segelas kopi yang mengepul di hadapan Azlan.
Aroma kopi itu langsung menyeruak, kuat dan menggoda. Azlan menyesapnya perlahan. Matanya sedikit membelalak saat cairan hangat itu menyentuh lidahnya. Perpaduan antara pahit kopi dan gurih s**u itu begitu sempurna. Azlan mengangguk kecil, mengakui dalam hati bahwa kopi ini jauh lebih enak daripada buatan pelayannya di rumah, atau bahkan buatan Khalisa yang biasanya terasa terlalu manis.
Kaira tersenyum puas melihat reaksi Azlan, namun ia segera berbalik untuk memeriksa ovennya. Ia membuka pintu oven, dan aroma manis mentega langsung memenuhi dapur. Namun, dalam ketergesaannya yang dibuat-buat, Kaira menyentuh cetakan kue yang masih membara dengan jari telanjangnya.
“Aww!”
Kaira memekik kecil, refleks menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya dengan wajah meringis kesakitan.
Tanpa diduga, Azlan spontan berdiri dari kursinya. Ia melangkah lebar mendekati Kaira dan langsung meraih tangan gadis itu. “Ck! Ceroboh sekali kamu,” tegur Azlan. Ia menarik tangan Kaira ke arah wastafel dan menyalakan air dingin, membiarkan aliran air membasuh jari-jari Kaira yang memerah.
“Sshhh ... perih, Mas,” desis Kaira. Tubuhnya sangat dekat dengan Azlan hingga ia bisa merasakan panas tubuh pria itu dan aroma maskulin yang bercampur dengan bau kopi.
Azlan mengambil lap bersih, lalu dengan sangat hati-hati mengeringkan dua jari Kaira yang mulai melepuh kecil. “Lain kali hati-hati. Jangan asal pegang benda panas,” ucapnya pelan, menatap wajah Kaira yang kini mendongak menatapnya.
Jarak mereka hanya beberapa senti. Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Ada ketegangan aneh yang merayap di udara, sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan kakak ipar dan adik ipar. Azlan yang pertama kali memutuskan kontak mata, merasa ada yang salah dengan degup jantungnya sendiri.
“Maaf, Mas,” lirih Kaira. Ia menarik tangannya pelan dari genggaman Azlan, lalu beranjak mengambil salep di laci bawah.
Azlan berdehem, mencoba menguasai diri. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, lalu menggunakan bantuan lap untuk mengeluarkan kue dari oven. Saat kue itu diletakkan di atas meja, Azlan tertegun.
Itu adalah kue bolu pandan dengan tekstur lembut, kue kesukaan Azlan yang selama ini selalu ia puji-puji jika Khalisa membawanya pulang ke rumah mereka.
“Kamu yang membuat ini?” tanya Azlan, suaranya sedikit berubah.
Kaira, yang sedang mengolesi jarinya dengan salep, mengangguk polos. “Iya, Mas. Kak Khalisa juga sangat suka kue itu. Setiap kali Kakak ke sini, dia pasti memintaku membuatkannya untuk dibawa pulang ke rumah Mas Azlan.”
Azlan menahan napas. Kalimat itu seperti tamparan keras baginya. Jadi, selama lima tahun ini, setiap kali Khalisa mengaku kelelahan di dapur demi membuatkan kue kesukaannya, itu semua adalah kebohongan? Pantas saja setiap kali Azlan meminta Khalisa membuat kue itu di rumah mereka, istrinya selalu punya seribu alasan—mulai dari oven yang rusak hingga tangan yang sedang sakit.
“Mas mau mencobanya?” tawar Kaira, memecah lamunan pahit Azlan.
Azlan mengangguk kaku. Kaira dengan piawai memotong kue itu, menyajikannya di atas piring kecil. Begitu Azlan mencicipinya, keraguannya hilang. Rasanya identik. Teksturnya, aromanya, semuanya sama persis dengan yang biasa ia makan. Kebenaran itu kini terasa sepahit kopi yang mulai dingin di meja.
Tuk ... tuk ... tuk ...
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Kaira segera berdiri tegak, sementara Azlan tetap duduk tenang sambil terus mengunyah kuenya.
“Mas! Loh, kamu sudah sampai?” Khalisa muncul di ambang dapur, wajahnya langsung menegang saat melihat suaminya sedang duduk di sana bersama adiknya, menikmati sepotong kue.
Azlan menatap istrinya dengan pandangan datar. “Mas kira kamu membuat kue ini khusus untuk Mas.”
Khalisa sempat gagap sejenak, namun ia segera tertawa renyah, mencoba menutupi kegugupannya. “Tadinya mau aku bawa pulang sebagai kejutan buat Mas Azlan. Tapi karena Mas sudah memakannya di sini, ya sudah, apa boleh buat.”
Khalisa kemudian melirik tajam ke arah punggung Kaira yang sedang mencuci piring, sorot matanya penuh kebencian. Azlan menyadari tatapan itu, namun ia memilih diam.
“Mas, ayo pulang. Aku sudah capek,” ajak Khalisa sambil mendekati Azlan.
Kaira berbalik, menunduk sopan. “Iya Kak, Mas. Maaf kalau aku merepotkan tadi.”
“Nggak apa-apa, Kaira. Maaf ya sudah merepotkanmu menjaga kue buatan Kakak,” ucap Khalisa dengan nada manis yang dibuat-buat, memberikan tekanan pada kata “buatan Kakak".
Kaira pura-pura kaget, lalu mengangguk pelan dengan wajah tertunduk. “Iya, Kak.”
Setelah Kaira pergi menuju kamarnya, Azlan menghela napas panjang. Ia menatap istrinya, lalu menarik kedua tangan Khalisa. Ia mengecup punggung tangan itu secara bergantian, sebuah gerakan romantis yang biasanya membuat Khalisa melayang.
“Kenapa kamu harus repot membuat kue saat tahu mau pergi sama Mama?” tanya Azlan sambil menatap tangan Khalisa.
Khalisa tersenyum manja, merasa menang. “Maaf ya, Mas. Tadi setelah aku masukkan cetakan ke oven, tiba-tiba Mama ngajak pergi mendadak. Jadi aku minta Kaira yang jaga.”
Azlan hanya mengangguk, namun di dalam kepalanya, ia sudah menyimpulkan segalanya. Tangan Khalisa sangat halus, wangi parfum mahal, dan sama sekali tidak ada sisa tepung atau aroma mentega di sela-sela kukunya. Berbeda jauh dengan tangan Kaira tadi yang masih memiliki sisa noda pewarna makanan dan aroma dapur yang nyata.
Kebohongan Khalisa kini terpampang nyata di depan matanya. Azlan melepaskan tangan istrinya sedikit lebih kasar dari biasanya, lalu berdiri. “Ayo pulang. Mas masih banyak urusan.”
Azlan melangkah pergi dengan wajah kaku, meninggalkan Khalisa yang terpaku bingung di tengah dapur.
Dari balik celah pintu kamarnya di lantai atas, Kaira menyaksikan mobil Azlan meninggalkan halaman rumah. Sebuah senyum manis—senyum yang akan menjadi mimpi buruk bagi keluarganya—terukir jelas di wajahnya. Rencana pertama sukses besar. Benih keraguan sudah tertanam di hati Azlan.
Kini, saatnya beralih ke rencana kedua, memenangkan hati seluruh keluarga Alzahir dan mematikan langkah Khalisa selamanya.