rumah—tempat yang sama di mana Kaira baru saja melakukan “pertunjukannya".
Awalnya, Safira menentang keras ide ini. Ia merasa harga diri keluarga Alzahir dipermainkan karena Azlan harus terikat dengan dua wanita dari keluarga Kareem—keluarga yang menurutnya terlalu haus harta. Namun, apa yang baru saja ia lihat dan dengar di depan pintu kamar mandi tadi mengubah segalanya. Ia melihat “penderitaan” Kaira dan ketulusan gadis itu untuk berkorban demi kakaknya.
Khalisa terdiam, menatap ibu mertuanya dengan tatapan tidak suka. Selama lima tahun menikah, ia tahu betul betapa Safira membencinya.
“Ada apa, Besan?” tanya Dewi, ibu Kaira dan Khalisa, mencoba mencairkan suasana.
Safira tidak memedulikan Dewi. Ia menatap Azlan dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. “Mulai hari ini, Kaira akan tinggal bersamaku, di rumah utama keluarga besar Alzahir.”
Pernyataan itu seperti ledakan bom di tengah ruangan. Khalisa terkesiap, matanya membelalak kaget. Selama lima tahun menjadi istri sah Azlan, ia tidak pernah diizinkan menginjakkan kaki untuk tinggal di rumah utama keluarga Alzahir. Ia selalu diasingkan di apartemen atau rumah pribadi Azlan karena Safira tidak mengakuinya. Lalu sekarang, kenapa Kaira mendapatkan keistimewaan itu dalam hitungan menit?
“Tapi, Ma ...” Azlan mencoba menyela, namun Safira memberikan isyarat tangan agar putranya diam.
“Ini sudah menjadi keputusanku. Kaira adalah menantuku yang sah, dan dia akan tinggal di bawah pengawasanku di rumah Alzahir,” tegas Safira.
Azlan terdiam. Ia tidak tahu apa yang merasuki ibunya, namun di sisi lain, ada rasa lega yang aneh di hatinya. Ia merasa berutang budi pada Kaira. Gadis itu telah mengorbankan masa depannya, dan tinggal di rumah utama mungkin akan menjamin keamanannya dari tekanan keluarga Kareem.
Di sisi lain, Khalisa mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Ini benar-benar di luar rencananya. Ia setuju Azlan menikahi Kaira hanya untuk satu tujuan, meminjam rahim. Ia bahkan sudah menyiapkan sebuah rumah kecil yang jauh dan terpencil untuk Kaira tinggali begitu gadis itu hamil nanti. Rencananya sederhana, nikah, hamil, ambil bayinya, lalu buang Kaira sejauh mungkin. Tapi tinggal di rumah utama Alzahir? Itu artinya Kaira akan memiliki perlindungan dari sang ratu keluarga, Safira.
“Tidak bisa! Kalau ada yang harus tinggal di rumah keluarga Alzahir, itu seharusnya putriku, Khalisa! Dia istri sah dan wanita yang dicintai Azlan!” Dewi menimpali dengan suara melengking. Ia panik. Rencana mereka untuk memanfaatkan Kaira bisa berbalik menyerang jika Kaira justru dekat dengan mertuanya.
Safira menyeringai sinis, tatapannya menghina. “Lalu apa Kaira bukan putrimu? Kenapa kamu seolah membedakan mereka?”
“Ck! Itu ...” Dewi kehabisan kata-kata. Ia melirik suaminya, Emir, meminta bantuan.
Emir berdehem, mencoba bersikap bijak meski hatinya diliputi kecemasan. “Walau bagaimanapun, Kaira adalah putri bungsu kami. Dia harus tetap di sini untuk menemani kami yang mulai kesepian.”
Safira terkekeh sinis. Jawaban Emir justru semakin menguatkan tekadnya. Ia tahu keluarga ini hanya ingin terus mengontrol Kaira agar tetap menjadi b***k keinginan mereka. Safira mendekati Azlan, menepuk bahu putranya.
“Mama akan kembali sekarang bersama Kaira. Malam ini, datanglah ke rumah utama. Kita akan mengadakan jamuan makan malam keluarga besar untuk meresmikan posisi Kaira,” ucap Safira.
“Mas, kenapa kamu diam saja?” tanya Khalisa kesal pada Azlan.
Safira melirik Khalisa dengan tatapan dingin. “Dan ingat, Azlan. Jangan mengajak wanita ini. Mama tidak sudi dia menginjakkan kaki di rumah utama.”
Setelah mengatakan itu, Safira mengambil tas mahalnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk menjemput Kaira, meninggalkan Khalisa yang gemetar karena amarah dan penghinaan.
Brukk!
Tubuh Khalisa lemas. Ia terduduk di lantai, menangis histeris karena merasa martabatnya diinjak-injak. Dewi langsung mendekati menantunya itu, menatap Azlan dengan tatapan menuntut.
“Azlan! Bicaralah pada ibumu! Kaira itu dinikahi bukan untuk menjadi istrimu yang sesungguhnya. Dia hanya alat! Hanya alat supaya kamu dan Khalisa bisa punya anak!” teriak Dewi tanpa saringan.
Azlan menatap ibu mertuanya dengan tatapan tak percaya. Hatinya mencelos. Bagaimana bisa seorang ibu kandung menyebut anaknya sendiri sebagai “alat” dengan begitu mudahnya? Azlan melirik Khalisa yang masih menangis di pelukan Emir. Pagi ini, ia melihat dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ia melihat Kaira yang berjuang menahan air matanya di depan semua orang agar tidak merusak suasana. Dan di sisi lain, ia melihat keluarga ini yang begitu tega memperlakukan Kaira seperti benda mati.
“Azlan! Kenapa diam? Pergi temui ibumu! Apa kamu tega melihat Khalisa menderita seperti ini?” desak Dewi lagi.
Azlan menghela napas panjang, rasa lelah psikisnya mencapai puncak. “Tidak ada yang akan menderita. Baik Khalisa maupun Kaira, mereka berdua sekarang adalah istriku. Aku akan mengurus ini.”
Azlan mendekati Khalisa, membantunya berdiri. “Ayo kita pulang ke rumah kita dulu.”
“Mas ... hiks ...” Khalisa memeluk Azlan erat, menyembunyikan wajahnya di d**a suaminya. Azlan hanya diam, membiarkan Khalisa menangis. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa kecewa yang mulai tumbuh. Pernikahan ini adalah ide Khalisa, dan sekarang Khalisa sendirilah yang hancur karena keputusannya.
“Aku akan mengantar Khalisa pulang dulu. Nanti malam aku akan ke rumah Mama,” ucap Azlan pada mertuanya.
Khalisa mendongak, matanya yang sembab menatap Azlan dengan tajam. “Apa Mas benar-benar akan menemui Kaira malam ini?”
“Aku harus, Khalisa. Mama sudah memerintahkannya.”
Khalisa meremas jas Azlan, kepalanya bersandar di d**a suaminya, namun sorot matanya berubah menjadi dingin dan penuh kebencian.
Ia menyeringai dalam hati. Persetan dengan rencana memiliki anak. Jika Kaira mulai mendapatkan posisi di keluarga Alzahir, maka anak itu tidak lagi penting. Sekarang, prioritas utamanya adalah satu, menyingkirkan Kaira secepatnya sebelum adiknya itu benar-benar mencuri posisi ratu yang selama ini ia incar.
'Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana, Mas. Tidak akan,' batin Khalisa.