BAB 8

1019 Kata
Malam di Paris seolah berhenti berdetak di dalam kamar hotel itu. Suara hiruk pikuk kota di bawah sana tenggelam oleh suara napas yang memburu dan gesekan kulit yang intens. Azlan tidak lagi memikirkan etika atau batasan. Gairah yang sedari tadi membakar pembuluh darahnya telah mengambil alih seluruh kesadarannya. Di bawahnya, Kaira hanya bisa meracau tidak jelas, suaranya parau akibat guncangan demi guncangan yang ia terima tanpa henti. Sudah dua jam berlalu sejak Azlan pertama kali menyentuhnya, namun stamina pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Setiap dorongan yang diberikan Azlan justru terasa semakin kuat dan dalam, seolah tubuhnya memiliki cadangan energi yang tidak terbatas. “Nikmat sekali ...” gumam Azlan dengan suara serak yang berat. Ia menunduk, menatap titik penyatuan mereka yang basah. Pandangan itu justru semakin memicu adrenalinnya. Ia merasa seolah sedang dimanjakan oleh sesuatu yang begitu sempit, hangat, dan sangat pas. Bagi Azlan, ini adalah pengalaman fisik paling intens yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Tidak ada yang bisa menandingi sensasi bagaimana Kaira menjepitnya begitu erat setiap kali ia melakukan penetrasi. “Kak Azlan!” jerit Kaira kencang. Tubuh gadis itu mengejang hebat. Punggungnya melengkung ke atas saat gelombang pelepasan kembali menghantamnya untuk kesekian kali. Namun, Azlan tidak membiarkannya beristirahat. Jeritan itu justru disambut dengan hujaman yang semakin membabi buta. Azlan menarik pinggang Kaira agar lebih dekat, memastikan setiap inci dari dirinya masuk lebih dalam hingga menghantam titik terdalam rahim gadis itu. “Ampun, Kak ... hh ...” Kaira terengah-engah, air matanya menetes di sudut mata bukan karena sedih, melainkan karena rangsangan yang terlalu kuat. Saraf-sarafnya masih sangat sensitif akibat puncak yang baru saja ia capai, namun Azlan terus menghujamnya tanpa ampun. Tubuh kecilnya bergerak mengikuti ritme Azlan yang tidak terkendali. Ia meremas sprei dengan kedua tangan hingga kain mahal itu kusut masai. Di tengah siksaan nikmat itu, Kaira harus mengakui bahwa ia belum pernah merasakan hal luar biasa seperti ini. Gairah Azlan yang meledak-ledak seolah meracuni logikanya, menyeretnya ke dalam pusaran kenikmatan yang memabukkan. “Aku ingin keluar ... hh,” ucap Azlan dengan napas pendek-pendek. Ia meraih kedua kaki Kaira dan menyampirkannya di atas pundaknya yang kokoh, memberikan akses yang lebih lebar untuk melakukan serangan terakhir. Hentakannya kini benar-benar seperti orang yang kesetanan. Kaira menjerit kencang di setiap tusukan yang ia rasakan. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri secara acak, mencoba mencari pegangan di tengah badai gairah itu. “Ini sangat cepattt ...” jerit Kaira saat ia merasakan rahimnya berkedut hebat. Detik berikutnya, Azlan menarik pinggang Kaira ke bawah dengan kasar, melakukan hentakan terakhir yang paling dalam. Bersamaan dengan itu, keduanya mendesah kencang saat cairan hangat Azlan membanjiri bagian dalam Kaira. Tubuh mereka bergetar sinkron selama beberapa saat sebelum akhirnya lemas. Azlan menjatuhkan seluruh beban tubuhnya di atas Kaira, lalu segera membungkam bibir istrinya itu dengan ciuman penuh nafsu yang masih tersisa. *** Setelah beberapa saat hanya suara napas yang terdengar, Azlan akhirnya beranjak. Ia duduk menyandar di kepala tempat tidur, memperlihatkan dadanya yang bidang dan berkeringat. “Kemarilah, Sayang,” pinta Azlan sembari menepuk paha kokohnya. Kaira hanya diam, matanya sayu dan dadanya masih naik turun dengan cepat. Tubuhnya terasa seperti remuk. “Tapi, Kak ...” “Cepat, Kaira!” titah Azlan tak sabaran. Sorot matanya kembali menggelap, menunjukkan bahwa gairah itu belum sepenuhnya padam. Mau tidak mau, Kaira memaksa tubuh lelahnya untuk bangkit. Ia merangkak pelan dan naik ke pangkuan Azlan. Azlan mengusap punggung mulus istrinya yang kini dipenuhi tanda kemerahan, lalu kembali melumat bibir mungil itu. Satu tangannya yang besar mengarahkan miliknya yang kembali menegang untuk memasuki liang hangat Kaira lagi. Hleb. Dalam satu hentakan yang mantap, Azlan kembali mengisi kekosongan di dalam diri Kaira. Desahan dan bunyi kecipak penyatuan mereka kembali memenuhi kamar hotel itu, mengabaikan waktu yang sudah merambat menuju fajar. *** Lima jam setelah pergulatan panas itu berakhir, Azlan hanya duduk terdiam di tepi ranjang. Ia memandangi tubuh polos Kaira yang tertidur pulas dengan posisi menyamping. Kulit putih gadis itu kini dipenuhi bercak-bercak kemerahan, bukti betapa kasarnya ia memperlakukan Kaira semalam. Azlan menghela napas panjang lalu meremas rambutnya dengan frustrasi. Rasa bersalah mulai menyelinap di antara sisa-sisa kepuasan fisiknya. Sebagai pria, ia merasa telah mengkhianati Khalisa, namun di sisi lain, ada kebanggaan aneh yang muncul di hatinya saat ia melihat noda merah di atas sprei putih itu. Ia adalah pria pertama bagi Kaira. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya lirif. Ia tidak begitu peduli pada bagaimana respon Khalisa nanti, karena toh istrinya itu sendiri yang memaksanya menikahi Kaira agar bisa memiliki anak. Namun, Azlan mencemaskan perasaan Kaira. Ia takut gadis itu akan marah atau merasa terhina karena telah “digempur” secara habis-habisan dalam kondisi yang tidak sadar sepenuhnya. Azlan yakin, gairahnya yang tidak masuk akal semalam adalah pengaruh obat. Pikirannya langsung tertuju pada Abi. Pasti asistennya itu telah meletakkan sesuatu di dalam kopi yang ia minum di kafe hotel tadi. Dan dalang di balik semua ini tidak mungkin orang lain selain keluarganya sendiri di Jakarta yang memang ingin ia segera memberikan keturunan melalui Kaira. “Ck! Sial.” Maki Azlan saat tiba-tiba ponselnya di atas nakas berdering nyaring. Nama mama mertuany—Mama Dewi—tertera di layar. Azlan mengatur napasnya, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia turun dari tempat tidur, melilitkan handuk pada pinggangnya, lalu menjauh dari ranjang sebelum mengangkat telepon. “Halo, Mah.” “Azlan! Istrimu kecelakaan! Khalisa sekarang ada di rumah sakit,” suara Mama Dewi terdengar histeris di seberang sana. Mata Azlan membelalak. “Kecelakaan?” “Iya! Cepatlah pulang! Khalisa terus memanggil namamu, dia sangat ketakutan sekarang.” “Baiklah, aku segera cari penerbangan pertama.” Tutt. Sambungan terputus. Azlan terdiam sejenak, melirik Kaira yang masih terlelap tanpa beban sedikit pun. Ada konflik besar di dalam dadanya. Ia ingin memastikan kondisi Kaira saat terbangun nanti, namun keadaan Khalisa di Jakarta sepertinya sangat darurat. Tanpa membuang waktu, Azlan bergegas memasuki kamar mandi. Ia harus membersihkan diri secepat mungkin. Dalam benaknya, ia sudah memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih dulu dan membiarkan Kaira menyusul nanti bersama Abi. Perasaannya campur aduk; antara sisa gairah semalam yang masih membekas dan kekhawatiran yang mendadak muncul untuk istrinya yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN