BAB 9

1545 Kata
Pagi di Paris terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kaira duduk di sudut restoran hotel yang tenang, menatap sepiring sarapan yang baru disentuhnya sedikit. Aroma kopi dan roti panggang yang biasanya menggugah selera, kini terasa hambar. Ia mengaduk bubur gandumnya perlahan, membiarkan sendok peraknya berdenting pelan menghantam pinggiran mangkuk porselen. Di hadapannya, Abi duduk dengan ekspresi yang sulit dibaca. Sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan Azlan, Abi tahu persis apa yang terjadi di kamar penthouse itu semalam. Dan ia juga tahu bahwa saat fajar menyingsing, Azlan telah melesat menuju bandara, meninggalkan istri keduanya tanpa sepatah kata pamit yang layak. “Makanlah sedikit, Kaira. Kamu butuh tenaga,” ucap Abi memecah kesunyian. Suaranya rendah, mengandung nada simpati yang tidak bisa ia sembunyikan. “Kakak mengerti bagaimana perasaanmu saat ini.” Kaira mendongak, matanya yang sedikit sembab menatap Abi dengan tatapan polos. “Maksud Kak Abi?” Abi menarik napas panjang. “Kamu pasti merasa sedih, atau mungkin kecewa. Suamimu pergi begitu saja setelah ... setelah malam pertama kalian. Wanita mana yang tidak akan merasa diabaikan jika ditinggal dalam keadaan seperti ini?” Kaira terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. Sebuah senyum tipis yang terlihat sangat tulus menghiasi bibirnya yang pucat. “Aku tidak memikirkan tentang diriku sendiri, Kak. Benar-benar tidak.” “Lalu apa yang membuatmu tampak begitu terbebani?” “Aku hanya cemas pada keadaan Kak Khalisa,” bisik Kaira lemah. Ia menunduk, memainkan jemarinya di atas serbet. “Mendengar kabar dia kecelakaan membuatku merasa bersalah berada di sini. Aku ingin sekali menelpon dan bertanya langsung, tapi aku takut. Aku tahu Papa dan Mama pasti tidak akan senang jika aku yang menghubungi.” Abi terpaku. Jawaban itu benar-benar di luar dugaannya. Ia mengira akan menghadapi kemarahan atau tangisan seorang istri yang merasa dikhianati, namun yang ia temukan justru kekhawatiran seorang adik yang tulus. Rasa kagum mulai menyelinap di hati Abi. Ia sudah mengenal Khalisa cukup lama, dan menurut pengamatannya, Khalisa tidak pernah memiliki ketulusan seperti yang terpancar dari mata Kaira saat ini. “Kakakmu pasti baik-baik saja. Azlan sudah di sana, dia akan memastikan Khalisa mendapatkan perawatan terbaik,” hibur Abi. “Semoga saja begitu. Nanti, jika Kak Abi bicara dengan Mas Azlan, tolong tanyakan keadaan Kak Khalisa, ya? Aku hanya ingin tahu dia sudah melewati masa kritisnya,” pinta Kaira dengan nada memohon. Abi mengangguk mantap. “Tentu. Aku akan menanyakannya untukmu.” Ia terdiam sejenak, lalu mencoba mencairkan suasana. “Azlan meninggalkan kartu kreditnya padaku untuk keperluanmu. Jika kamu mau, besok Kakak akan mengajakmu berkeliling Paris. Kita bisa mengunjungi beberapa tempat indah agar pikiranmu sedikit lebih rileks.” Mata Kaira sempat berbinar sesaat. “Benarkah?” Namun, sedetik kemudian binar itu meredup. Ia kembali menunduk. “Tapi ... sepertinya aku tidak punya selera untuk jalan-jalan sekarang.” “Tidak masalah. Untuk hari ini kamu bisa istirahat total di kamar. Kita lihat besok bagaimana perasaanmu. Besok malam kita sudah harus kembali ke Indonesia,” ujar Abi lembut. Kaira berdiri dari kursinya, memberikan anggukan sopan. “Terima kasih, Kak Abi. Aku akan kembali ke atas. Jika ada kabar tentang Kak Khalisa, tolong segera beri tahu aku.” Abi memperhatikan cara jalan Kaira yang sedikit kaku saat meninggalkan restoran. Pemandangan itu menusuk nuraninya. Ialah yang memasukkan obat perangsang itu ke dalam kopi Azlan atas perintah Tante Safira. Ia yang menjerumuskan gadis ini ke dalam gempuran Azlan yang tidak terkendali semalam. Wanita sebaik ini seharusnya mendapatkan pria yang mencintainya dengan cara yang benar, bukan malah dijadikan tumbal keluarga, batin Abi penuh penyesalan. *** Begitu pintu kamar hotel tertutup rapat, Kaira menyandarkan punggungnya di daun pintu. Helaan napasnya terdengar panjang dan berat. Wajah polosnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Ia tidak tahu apakah kecelakaan Khalisa itu nyata atau sekadar drama picisan agar Azlan segera pulang. Namun yang pasti, hal ini mengacaukan ritme permainannya di Paris. “Sepertinya aku harus segera memperlihatkan sifat asli wanita itu di hadapan Mas Azlan,” gumam Kaira pelan. Ia melangkah menuju tempat tidur yang masih berantakan, jejak pergulatan semalam masih terasa di sana. Ia tahu, jika Khalisa benar-benar sakit, kakaknya itu akan menggunakan kelemahannya untuk mengikat Azlan dua puluh empat jam sehari. Khalisa tidak akan membiarkan Azlan menoleh sedikit pun ke arahnya. “Baiklah,” ucap Kaira pada dirinya sendiri sembari naik ke atas ranjang. “Mungkin untuk satu atau dua minggu ke depan, aku akan membiarkan mereka bersandiwara. Aku akan fokus mengambil hati keluarga besar Alzahir. Biarkan Khalisa merasa menang untuk sementara.” *** Jakarta, Rumah Sakit Medika. Suara tangisan histeris memecah keheningan koridor ruang VIP. Di dalam salah satu kamar, Khalisa sedang mendekap tubuh Azlan dengan sangat erat, seolah-olah suaminya itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedikit saja. “Kamu tega sekali sama aku, Mas! Kamu jahat!” jerit Khalisa. Suaranya melengking, penuh dengan nada tuduhan. Azlan hanya diam, membiarkan istrinya meluapkan emosi. Ia memeluk tubuh Khalisa yang gemetar, namun pikirannya melayang pada noda merah di sprei hotel di Paris. Rasa bersalah dan tanggung jawab bertarung di dalam dadanya. “Hiks ... Kaira pasti yang merencanakan ini semua. Dia ingin merebutmu dariku! Dia wanita jahat yang ingin menghancurkan pernikahan kita, Mas!” teriak Khalisa lagi, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan penuh kebencian. Azlan menghela napas pendek. Merebut dan menghancurkan? Dua kata itu terasa ironis di telinganya. Bukankah Khalisa sendiri yang merancang pernikahan ini? Bukankah Khalisa yang memohon agar ia menikahi adiknya sendiri demi seorang anak? “Tenanglah, Khalisa. Jangan bicara seperti itu,” bujuk Azlan pelan. “Mas, aku ingin kamu menceraikan dia sekarang juga! Jatuhkan talak pada Kaira! Cepat ceraikan pelakor itu!” seru Khalisa dengan mata yang melotot karena marah dan cemburu. Azlan menggelengkan kepala. “Tidak mungkin, Khalisa. Tidak semudah itu.” Bagaimana mungkin ia menceraikan Kaira sekarang? Setelah apa yang ia lakukan semalam, Azlan merasa bertanggung jawab sepenuhnya. Bagaimana jika Kaira hamil? Bagaimana ia bisa membuang wanita yang baru saja ia ambil kesuciannya? “Tenangkan dirimu dulu. Kita bicara setelah kamu lebih stabil,” ucap Azlan tegas. Mendengar penolakan itu, Khalisa menangis semakin keras. Ia merasa frustrasi karena senjatanya—tangisan dan kecelakaan ini—ternyata tidak cukup kuat untuk membuat Azlan melepaskan Kaira seketika. Dua jam kemudian, kelelahan akhirnya membuat Khalisa tertidur. Namun bahkan dalam tidurnya, ia terus meracau tentang betapa buruknya Kaira. Di luar ruangan, Azlan sudah ditunggu oleh Dewi dan Emir. Kedua mertuanya itu menatapnya dengan pandangan menuntut. “Apa kamu tidak kasihan melihat istrimu? Khalisa sedang sakit, Azlan. Dia tidak boleh banyak pikiran,” desak Dewi dengan nada menyalahkan. “Betul. Kaira akan baik-baik saja tanpa pernikahan ini. Kami akan mengirimnya ke luar negeri untuk sekolah lagi setelah kamu menjatuhkan talak. Itu yang terbaik untuk semua orang,” tambah Emir dengan wajah serius. Azlan mengusap wajahnya kasar. “Aku tidak bisa menceraikan Kaira begitu saja. Pernikahan bukan permainan.” “Kenapa tidak bisa? Ingat, Azlan! Wanita yang kamu cintai itu Khalisa! Kamu harus menjaga perasaan istrimu yang sah!” Dewi mulai menaikkan suaranya. “Mama mertuamu benar. Kaira itu punya niat tidak baik. Dia memang putri kami, tapi merebut suami saudaranya sendiri adalah perbuatan rendah. Dia harus diberi pelajaran agar tahu diri,” ucap Emir ketus. Azlan hanya terdiam, namun hatinya terasa panas. Melihat bagaimana kedua orang tua itu begitu kompak menyudutkan putri kandung mereka sendiri—anak yang baru saja dikorbankan demi kepentingan mereka—membuat ingatan Azlan kembali pada mimpi buruk Kaira di Paris. Ia teringat betapa ketakutannya Kaira saat itu. Tekad Azlan justru menguat. Ia tidak akan membiarkan Kaira kembali ke tangan orang tua yang memperlakukannya seperti barang. Setidaknya di rumah keluarga Alzahir, Kaira akan aman. “Tidak akan ada perceraian,” ucap Azlan final. “Aku akan membuktikan kesetiaanku pada Khalisa dengan cara lain. Aku berjanji tidak akan menemui Kaira secara pribadi tanpa sepengetahuan kalian atau tanpa alasan yang darurat.” Dewi dan Emir saling pandang. Untuk saat ini, janji itu dirasa cukup. Mereka yakin bisa memisahkan Azlan dan Kaira pelan-pelan. Setelah kedua mertuanya masuk kembali ke dalam kamar, Azlan melangkah ke ujung koridor dan mengeluarkan ponselnya yang bergetar. “Kenapa menelpon?” tanya Azlan ketus saat melihat nama Abi di layar. “Kaira memintaku menelponmu,” jawab Abi di seberang sana. Alis Azlan bertaut. “Kaira? Kenapa kamu menyebut namanya dengan begitu akrab? Dan untuk apa dia memintamu menelponku? Apa dia sengaja ingin membuat Khalisa semakin marah?” Abi menghela napas di seberang telepon. “Bukan, Azlan. Kamu salah sangka. Kaira memintaku menanyakan keadaan kakaknya. Dia bilang dia terlalu takut untuk menelpon orang tuanya langsung. Dia benar-benar cemas.” Azlan tertegun. Lagi-lagi, ia salah menilai. Di tengah pengabaiannya, Kaira justru masih memikirkan wanita yang baru saja mengutuknya sebagai pelakor. “Kecelakaannya tidak parah, tapi dia mungkin kesulitan berjalan untuk beberapa minggu ke depan,” jawab Azlan, suaranya sedikit melunak. “Tapi dengar, Abi. Aku belum memukulmu karena obat yang kamu campurkan ke minumanku semalam. Jangan pikir aku lupa.” “Aku memang pantas dipukul, Azlan,” sahut Abi dengan nada suara yang terdengar sangat tulus dan lelah. “Baguslah kalau kamu sadar.” “Aku bukan hanya sadar, Azlan. Aku menyesalinya. Sangat menyesal.” Klik. Abi mematikan sambungan secara sepihak. Azlan menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. “Menyesal? Ada apa dengan pria itu?” gumamnya heran. Ia tidak tahu bahwa ketulusan Kaira di Paris telah mulai meruntuhkan tembok-tembok yang dibangun oleh orang-orang di sekelilingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN