BAB 10

1371 Kata
Tiga hari telah berlalu sejak kepulangan mendadak dari Paris, dan selama itu pula Azlan seolah terkunci di dalam dimensi yang sempit bernama ruang VIP rumah sakit. Ia tidak menyentuh pekerjaan, tidak pula menginjakkan kaki di kantor. Namun, ada satu hal yang mengusik nalar bisnisnya, tidak ada satu pun telepon masuk dari kakeknya, ayahnya, atau bahkan jajaran direksi Alzahir Group yang biasanya akan mencarinya jika ia menghilang lebih dari dua puluh empat jam. Keluarga besarnya seolah membiarkan Azlan hanyut dalam drama kecelakaan Khalisa. Mereka abai, seolah keberadaan Azlan di kantor tidak lagi menjadi prioritas. Padahal, sebelumnya, kakeknya akan menjadi orang pertama yang mengamuk jika ia menelantarkan tanggung jawab demi urusan pribadi. ‘Kenapa mereka sepihak seolah membuangku ke sini?’ batin Azlan bimbang. Ia menghela napas panjang, menatap punggung Khalisa yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Azlan beranjak dari kursinya, berniat keluar ruangan untuk menghubungi sekretarisnya. “Mas, kamu mau ke mana?” jerit Khalisa tiba-tiba. Suaranya yang melengking membuat Azlan tersentak di dekat pintu. Azlan menoleh, mencoba meredam kekesalannya. “Mas hanya ingin menghubungi sekretaris Fajar, Khalisa. Hanya sebentar, ada dokumen yang perlu dipastikan.” “Bohong!” Khalisa bangkit duduk dengan susah payah, wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap. “Mas pasti ingin menelpon Kaira, kan? Atau si pelakor itu yang menghubungi Mas duluan? Mengaku saja!” Azlan mendengus kasar. Tuduhan itu terasa sangat konyol di telinganya. Sejak malam panas di Paris itu, ia meninggalkan Kaira begitu saja. Ia tidak pernah menelpon, tidak mengirim pesan, bahkan sekadar menanyakan kabar pun tidak. Dan yang lebih mengejutkan—sekaligus entah kenapa terasa sedikit menyakitkan—adalah fakta bahwa Kaira pun tidak menghubunginya sama sekali. Gadis itu seolah lenyap ditelan bumi, padahal mereka memiliki kontak masing-masing. “Berhenti bicara sembarangan,” ucap Azlan dingin. Selama tiga hari ini, telinganya seperti dicuci oleh narasi buruk yang sama. Khalisa terus-menerus mengatakan bahwa Kaira adalah gadis licik, bahwa adiknya sendiri berniat merebut posisi istri sah dan menghancurkan rumah tangga mereka. Namun, realita yang Azlan hadapi justru berbanding terbalik. Kaira sama sekali tidak melakukan gerakan apa pun. Tidak ada teror telepon, tidak ada rengekan manja, tidak ada upaya pengejaran. “Kenapa Mas malah marah?” tanya Khalisa, air matanya mulai mengalir lagi. “Apa Mas sudah jatuh cinta dengan pelakor itu setelah malam di Paris?” Azlan memijat keningnya yang berdenyut. “Berhenti menyebut Kaira pelakor, Khalisa. Kamu tahu persis alasan kenapa dia menjadi istri keduaku. Itu karena permintaanmu sendiri yang memaksaku untuk menikahinya demi seorang anak.” Khalisa terkekeh sinis, tawanya terdengar sumbang. “Ya, aku memintamu menikahinya. Tapi aku tidak memintamu untuk mempertahankannya selamanya! Kenapa sekarang kamu tidak mau menceraikannya?” Teriakan Khalisa membuat kesabaran Azlan mencapai titik nadir. Tiga hari ini terasa seperti neraka kecil. Tuduhan demi tuduhan dilemparkan tanpa bukti yang jelas. Kaira ingin merebutnya? Gadis itu bahkan tidak mencari suaminya setelah ia ditinggalkan dalam kondisi fisik yang lemah pasca malam pertama mereka. Justru sikap abai Kaira yang membuat Azlan merasa terusik. “Terserah apa pun yang kamu pikirkan,” ucap Azlan akhirnya. Ia tidak tahan lagi. Ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar rawat itu dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan teriakan Khalisa yang memintanya kembali. *** Azlan berjalan menuju taman rumah sakit, mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Ia mengeluarkan ponsel, namun alih-alih menghubungi sekretarisnya, jarinya justru bergerak mencari nomor Altair, sepupunya yang tinggal di rumah utama Alzahir. “Halo, Altair. Bagaimana kabarmu?” tanya Azlan langsung saat sambungan terhubung. “Baik, Kak. Ada apa?” sahut Altair di seberang sana. Suaranya terdengar ceria, sangat kontras dengan suasana hati Azlan. “Di mana ... Kaira?” Azlan bertanya dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin. “Oh, Kaira? Dia sedang membuat kue sekarang.” Azlan mengernyit. “Kue?” “Iya. Wanginya luar biasa, Kak. Bahkan tercium sampai ke ruang baca, padahal aku sedang tidak di dapur. Benar-benar menggoda selera,” lapor Altair dengan nada antusias. Azlan menahan senyum yang hampir terbit di bibirnya. ‘Kue pandan,’ batinnya yakin. Tidak salah lagi, Kaira pasti sedang membuat kue kesukaannya. Ada perasaan hangat yang menggelitik dadanya; pemikiran bahwa Kaira mungkin merindukannya dan mencoba mengobati rasa rindu itu dengan membuatkan sesuatu untuknya. “Kalau dia berniat mengantar kue itu ke sini ... pastikan Khalisa tidak melihatnya,” pesan Azlan dengan suara rendah. “Maksud Kakak apa? Mengantar kue ke mana?” tanya Altair bingung. “Ya, ke rumah sakit. Bukankah dia membuat kue itu untukku?” Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, suara Altair terdengar heran. “Kak, sepertinya Kakak salah paham. Kaira membuat kue itu untuk kami semua yang ada di rumah. Katanya, dia ingin berterima kasih karena sudah diterima dengan baik. Kakek sendiri yang meminta Kaira membuatnya karena aroma dapur tadi pagi sangat enak.” Azlan terdiam. Senyum yang tadi sempat tertahan kini hilang sepenuhnya. Jadi, bukan untuknya? Kaira membuat kue untuk seluruh anggota keluarga, seolah ia benar-benar sudah menjadi bagian dari rumah itu, tanpa mempedulikan suaminya yang sedang terjebak di rumah sakit? “Kuenya sudah matang! Ayo semuanya berkumpul di ruang keluarga, tehnya juga sudah siap!” Suara lembut itu terdengar di latar belakang telepon Altair. Azlan mengenali suara itu seketika. Itu suara Kaira. Suara yang terdengar begitu riang dan penuh kehidupan, sangat berbeda dengan bayangan gadis malang yang menangis di kamar mandi. “Altair, dengarkan Kakak! Jika ada yang—” “Aduh Kak, nanti saja ya telponnya! Kuenya sudah diletakkan di meja. Aku harus segera ke sana sebelum dihabiskan oleh yang lain. Aku bisa gila kalau tidak sempat mencicipi kue buatan Kaira. Sampai nanti!” Tutt ... tutt ... Azlan melotot menatap layar ponselnya. Ia mengembuskan napas kasar. Kurang ajar sekali Altair, berani-beraninya mematikan telepon demi sepotong kue. Namun, beberapa menit kemudian, ponsel Azlan bergetar berkali-kali. Altair mengirimkan beberapa foto melalui aplikasi pesan singkat. Azlan membukanya satu per satu, dan setiap foto yang ia lihat membuatnya merasa semakin terasing. Foto pertama memperlihatkan kebun belakang rumah utama. Di sana, seluruh keluarga besar Alzahir tampak sedang menanam bibit bunga bersama. Mama Safira, bibi-bibinya, bahkan kakeknya pun ada di sana. Dan di tengah-tengah mereka, Kaira berdiri dengan senyum lebar, memegang sekop kecil dengan tanah yang sedikit mengotori pipinya. Ia tampak begitu bahagia, seolah beban hidupnya telah hilang sepenuhnya. Foto kedua diambil di halaman samping. Mereka menggelar karpet besar di bawah pohon rindang, menikmati teh sore. Kaira terlihat bersandar dengan nyaman di bahu Mama Safira, sementara tangan Mama Safira mengelus rambutnya dengan penuh kasih. Mereka terlihat seperti ibu dan anak yang sangat dekat. Foto ketiga memperlihatkan Kaira di rumah belakang, tempat di mana anak-anak para staf rumah tinggal. Kaira tampak sedang membantu mereka belajar dengan sabar. Senyumnya di foto itu begitu tulus dan manis, membuat Azlan menatap layar ponselnya tanpa berkedip selama beberapa saat. Ada kedamaian di wajah itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dan foto terakhir adalah saat mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Di atas meja jati yang besar, sepiring penuh kue pandan hijau cerah menggoda siapa pun yang melihatnya. Semua orang menatap ke arah kamera dengan senyum lebar, memegang potongan kue masing-masing. Mereka terlihat seperti keluarga besar yang sempurna dan bahagia—tanpa kehadiran Azlan. “Sialan,” maki Azlan lirih. Tiba-tiba saja, sebuah pesan teks menyusul dari Altair, 'Kue buatan Kaira benar-benar gila enaknya, Kak. Tadi siang dia juga memasak makan siang untuk kami. Masakannya benar-benar mengalahkan koki bintang lima manapun. Kakak rugi besar tidak ada di sini.' Azlan memasukkan ponselnya ke saku dengan gerakan kasar. Perasaan sesak mendadak menghimpit dadanya. Tiba-tiba saja, kehidupan di rumah sakit dengan segala drama dan teriakan Khalisa terasa sangat melelahkan. Ia merasa seperti sedang berada di tempat yang salah. Ia adalah pria yang menghidupi keluarga itu, ia yang memimpin perusahaan, namun kenapa sekarang ia merasa seperti orang asing yang sedang dihukum? Sementara Kaira, wanita yang awalnya ia anggap sebagai beban, justru berhasil menciptakan surga kecil di rumahnya sendiri. Azlan menyandarkan punggungnya pada bangku taman, menatap langit sore yang mulai menguning. Ada keinginan kuat untuk segera pulang, bukan untuk bekerja, melainkan untuk mencicipi masakan Kaira dan melihat senyum itu secara langsung—bukan melalui layar ponsel yang dingin. Kaira tidak mengejarnya, tidak memohon perhatiannya, dan justru itu yang membuat Azlan merasa benar-benar kalah. Gadis itu tidak sedang menghancurkan rumah tangganya dengan cara yang kotor, ia sedang menghancurkannya dengan cara menjadi lebih bahagia tanpa kehadirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN