Bab 1. Dare Nandung adikku
Bujang Nadi dan Dare Nandong adalah dua kakak beradik yang merupakan anak dari Raja Tan Unggal, yaitu Raja yang pernah memerintah di Kerajaan Sambas. Namun mereka memiliki seorang biu/ibunda, yang sampai saat ini tidak di ketahui keadaannya, dan seperti apa wujud biu mereka kalangan itu tak pernah terungkap pun dari bibir sang ayahanda.
Pernah sekali Bujang Nadi dan Dare Nandong mempertanyakan perihal masalah biu mereka, baru saja akan mengungkitnya, ayahanda sudah sangat marah dan murka. Entah, mungkin apa dan bagaimana ayahanda mereka seakan membenci beliau.
Baik ayahanda maupun orang yang berada di istana seakan mengunci rapat mulut nya, bukan takkan pernah Dare Nandong bertanya soal menyangkut biu ke terhadap dayang, tapi itulah mungkin mereka takut atau sudah di ancam oleh sang ayahanda.
" Dayang Sumbi, engkau bukankah dayang sangat terlama dan tertua di istana " pertanyaan Dare Nandong terhadap dirinya seakan banyak nya pertanyaan di pikiran,
" Iya, dok. Dare Nandong "
Tidak ada banyak komitmen dayang Sumbi menjawab seadanya.
" Kemarilah, mendekat lah " pinta Dare Nandong terhadap dayang Sumbi, dayang Sumbi mengikuti perintah sang Dare Nandong, duduk/bersimpuh tepatnya dibawah dimana Dare Nandong terduduk di sebuah bangku kayu Belian/jati. Yang di pahat oleh seorang yang namanya tidak terkenal, kalangan saat itu dia di ambil dari rakyat biasa. Tapi, kemampuan nya boleh di cap jempol. Sangking hebat nya dia sendiri bahkan di sebut-sebut " Datok pahat "
Dare Nandong, merentangkan kedua tangannya di atas pahan sembari tersenyum lembut. Dayang Sumbi, meretakkan telapak tangan nya di atas tangan Dare Nandong. " Hamba, Dare Nandong " ucap dayang Sumbi menghadap sang empunya.
" Wahai, sang alam langit dan bumi. Berucap lah engkau, oh dayangku. Kabarkan lah berita biu,, sungguh ananda ini, Dare yang rakus ke kasih belai beliau. " Tak terasa setetes air bening lurus terluruh, tepat mengenai tangan dayang Sumbi.
Ada kalanya, dayang Sumbi ikut juga yang berembun kala di mata yang kendur juga banyak garis-garis menua tapi tidak kunjung menghilangkan keanggunan seorang dayang Sumbi. Entah, itu perawatan atau apa.
" Oh, ananda dareku. Sungguh sangat berkecamuk, jangan lah sia-siakan air pelita mu. " Bak tersayat sebilah/pisau dayang Sumbi tak sanggup lagi menahan diri. " Ketahuilah, wahai ananda. Dare Nandong, ibunda mu iya lah seorang gadis rakyat biasa. Sampai itu sesungguhnya hamba tidak benar mengetahui berita beliau, hamba, sebagian itu isi cerita yang hamba ketahui "
Sungguh terogis bukan, tapi ketahuilah bahwa sampai sekarang masih tanda tanya?
Raja Tan Unggal dikenal sebagai raja yang kejam, figure yang paling ditakuti, karena disamping tubuhnya tinggi besar, wataknya keras, tegas serta garang, kekuatannya pun luarbiasa.
Bujang Nadi dan Dare Nandong sering didera pilu dan gelisah, sebab watak sang ayah yang garang, keras dan tegas itu menjadikan hati mereka seakan disayat sembilu.
Mereka tak sependapat dengan tabiat ayahnya selaku Raja yang sedemikian garang itu.
Konflik kejiwaan semacam ini acapkali bergejolak di batin mereka.
Bujang Nadi dan Dare Nandong yang dianugerahi paras nan elok menawan, pembawaan mereka lemah lembut, memiliki perasaan kasih sayang terhadap manusia disekitarnya.
Darah panas dan ganas yang tercermin pada sikap Tan Unggal sama sekali bertentangan dengan hati nurani mereka, walaupun dari titisan darah yang sama mereka dilahirkan.
" wahai, Dare Nandung adikku, apakah gerangan dinkau bermuka demikian ?"
Sungguh Bujang Nadi tidaklah sanggup mendapatkan wajah sang adik yang terus merajuk/cemberut.
" wahai, Kakanda Bujang Nadi. Sungguh sangat disayangkan, kehidupan bagilah seekor burung yang menimang imangkan kebebasan yang takkan kunjung "
Seakan mengetahui maksud dari tutur kata sang adik, Bujang Nadi yang sebagai kakak sudah sepatutnya menghibur adiknya.
Bujang Nadi, pun sembari kan menduduki b****g tepat di samping Dare Nandong, tak lupa tangan iya usapkan tepat di kepala sang adik yang tertutup selendang sutra. " Ketahuilah, adikku. Takkan selamanya kebebasan itu menjanjikan kenikmatan "
Dare Nandong, tersenyum menampakkan gigi suingnya " maafkan lah adinda, Kakanda Bujang Nadi. Sesungguh apa yang dikatakan adinda, tetap takkan pernah mengubah pendirian ayanda "
" Benar, Dare Nandung adikku. Jangan lah dinkau bersedih hati, sangat di sungguhkan jikalau menyia-nyiakan air mata dinkau "
Bujang Nadi dan Dare Nandong, sangatlah tahu persis bagaimana tabiat " Raja Tan Unggal " ayandanya kejam dan zalim, kekejaman Tan Unggal bukan hanya pada rakyatnya, bahkan anaknya, ikut merasakan kekejaman sang ayahanda. Pada masa hidup mereka, mereka abadikan dalam kediaman istana. di karenakan Tan Unggal melarang anaknya bergaul/berteman dengan rakyat bisa.
Pada masa itu, Bujang Nadi sangat menggemari memelihara ayam jago. Sedangkan Dare Nandong, paling suka untuk menenun kain. Memang, abad ke-15 M. Kalangan sebagian penduduk setempat sering menggunakan tenun. Sampai-sampai Dare Nandong dia mendapatkan hadiah berupa mesin tenun yang berlapis emas.
" Tidak kah, engkau hendak menenun adikku ? "
" Ya, Kakanda. Perbolehkan lah Adinda melanjutinya " Dare Nandong meminta persetujuan Kakanda Bujang Nadi untuk melanjutkan tenun nya yang sempat tertunda.
Butuh ketekunan dan sabar, konsentrasi lah yang utama dalam menenun kain, itulah yang terlintas dipikiran Bujang Nadi. Dia tahu betul bagaimana adik nya, jika dirinya tidak konsisten bahkan yang mahir masih bisa salah jalur saja akan membuat tenunan tidak bermakna/jelek.
taman belakang.
" Buay, Buay, si laju perahunya...Kakanda ayang,.. apakah gerangan... b***k menari... di atas lencana, lencana... Oh, berbidu kasih sayang... Apakah tidak, apakah tidak dinkau.. merajut kasih... Pujaan hati Pun tiada, apa lah lagi memadu kasih... "
" Pedang bertempur tidak lah lupa, tidak lah lupa berbunyi nyaringnya...oh sungguh adinda cantik rupawan wajah nya, pandai bernyanyi merdu suaranya "
" Ah, Kakanda. Jangan lah dinkau mengejek adinda " akhirnya dare merasa jengkel. Niat hati ingin mengenakan kakaknya, tapi sang kakak malah mengejek diri nya dengan mengatakan suara nyanyian yang merdu padahal dia bukan bernyanyi melainkan bernandung saja.
" Hahaha, jangan Kakanda tidak tahu adikku" berucap Bujang Nadi sambil menjentikkan jari tepat mengenai hidung Dare Nandong
" Kakanda, " Rajuk nya
Jengkel sudah Dare Nandong kepada Kakanda nya Bujang Nadi, " takkan adinda bertutur lagi " dirinya pun langsung melompat dari buayan/ayunan di pohon rindang yang terdapat di belakang istana.
Bujang Nadi, bukan nya menghibur sang adik. Dirinya malah semakin terbahak-bahak menertawai wanita yang sedang merajuk, banyak nya tingkah laku yang sang adik perbuat kalau sedang merajuk. Dari menghentakkan kaki, mulut yang tidak mau diam. Entah apa yang dia komat kamit kan, seakan membuat diri nya terhibur.
" Ada-ada saja, " sambil memandangi punggung sang adik yang mulai sedikit menghilang dari pandangan nya, sembari duduk di buayan/ayunan di mana sang adik duduki tadi kini berpindah kepada dirinya nya menduduki.
Entah lah, Andina. Jangan kan memiliki pujaan hati keluar saja kita tidak lah mampu apa lagi memadu kasih dengan orang yang Kakanda ingin kan. " Bukan perang pedang yang kini berkecamuk di Bujang Nadi, melainkan perang di hati nya di satu sisi menyayangi sang adik, di sisi satu nya takut menentang sang ayah.
Tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya pun ingin merasakan apa kehidupan di luar istana, tapi apa daya tangan sang ayah yang mengurung dirinya dan juga sang adik.dia hanya bisa menguat kan diri bahwa itu sudah kehendak takdirnya.
" Hey kamu kemarilah "
" Hamba, menghadap " jawab dayang sambil membungkuk menghadap sang jukung nya.
Bujang Nadi sempat Tak menghiraukan dayang istana ini, di karena kan dari tadi dia asyik bermain dengan pikiran nya sendiri.
" Siapa nama mu "
tanya nya yang tidak tahu, hampir seluruh istana, diri nya tidak mengetahui nama pengawal maupun pelayan atau dayang di sini, ya meskipun dia berdiam di istana, tapi dia terlalu sibuk bermain dengan Dare Nandong adiknya. Sampai-sampai membuat dia harus bertanya satu persatu nama mereka.
" Hamba, Sukma " jawab nya tak berani mengangkat wajahnya dia takut menatap wajah Bujang Nadi.
" Em, nama yang elok. Baik lah kamu boleh pergi " pintanya yang langsung di turuti dayang Sukma.
Ada yang aneh, tapi apa ? Ah, sudah lah. Sebaiknya aku bergegas pergi dari tempat ini. Bujang Nadi akhirnya meninggal kan tempat itu menyisakan ayunan yang masih bergoyang.
Di sisi lain, dayang Sukma. Tersenyum bahagia lantaran dia bisa berdekatan hari ini dengan junjungan. Jujur saja dirinya bukan dayang satu-satunya menaruh hati kepada Bujang Nadi. Hampir seluruh dayang muda mengagumi kegagahan yang di miliki Bujang Nadi seolah membius mereka ingin berteriak istris.