Suamiku Pria Cacat Mental

1312 Kata
Sunyi, di dalam mobil sama sekali tak ada interaksi. Supir sibuk mengemudi sedangkan aku tenggelam dalam lamunan. Aku menanti dalam ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Mobil terasa bergerak lambat. Seketika aku tersentak kembali ke dunia nyata. Kompleks perumahan mewah dengan gerbang megah berdiri di hadapanku. Dari balik kaca mobil aku dapat melihat beberapa satpam berjaga di sejumlah titik. Penjagaan disini begitu ketat, itulah yang terlintas di pikiranku. Kali ini fokusku teralihkan pada sebuah rumah mewah bertingkat tiga dengan kedua pilar menjulang tinggi di sisi pintu. Pagar rumah itu juga memiliki motif acak, sangat berbeda dari rumah disekitarnya. "Silahkan turun, Bu Cahaya," ucap supir itu memecah kesunyian. Terlalu sibuk memandangi rumah megah ini, aku tidak sadar sudah sampai di tujuan. Turun dari mobil, aku melihat Bu Navisa berdiri di depan pintu bersama seorang pelayan. Bu Navisa tampak begitu anggun nan cantik dengan mengenakan gaun hitam. Namun sayang ekspresi wajahnya begitu dingin. "Masuk!" titah Bu Navisa singkat ketika melihatku berjalan menuju pintu rumahnya. Aku mengangguk pelan kemudian berjalan mengikuti Bu Navisa dari belakang. Kami bertiga terus berjalan ke dalam rumah besar itu. Dapat kulihat beberapa furniture mahal dan antik tersusun rapi di setiap ujung ruangan. Saking megah dan indahnya rumah milik Bu Navisa, aku seperti merasa berada di istana fantasi. Tempat dimana para pangeran dan puteri raja menghabiskan hari-harinya. Roda waktu berjalan terlalu cepat. Tanpa sadar kini aku berada di ruang tengah rumah ini. Telah menunggu kami seorang penghulu dan saksi pernikahan yang sama sekali tidak kukenali. "Duduk, Aya," ucap Bu Navisa menarikku agak kasar. Ia mengarahkanku untuk duduk di hadapan penghulu. Tanpa banyak protes, aku menuruti semua perkataan Bu Navisa. Kutekankan berkali-kali dalam benakku bahwa ini semua kulakukan demi kesembuhan mama. "Aku mau mengurus beberapa hal lebih dulu. Tunggu saja disini," bisik Bu Navisa kepadaku dengan wajah datar. Kemudian ia berlalu pergi, meninggalkanku sendirian bersama penghulu dan para saksi. Selama beberapa menit ke depan, perasaan gelisah bercampur takut selalu menghantuiku. Entah karena aku akan menikah dengan Tuan Raisen atau karena aku merasa terdampar di ruangan yang asing ini. Sungguh aku sendiri juga tidak mengerti. Barangkali ini adalah efek gugup karena aku akan menjalani hari terpenting dalam hidupku. Meskipun sekedar sandiwara, aku tetaplah seorang calon mempelai wanita. Aku menengadah sebentar, menatap penghulu di depanku. Pria itu menyapaku sebentar seraya tersenyum tipis. Aku pun meresponnya dengan senyuman. Setelahnya tidak ada lagi percakapan di antara kami. Rasa gelisah yang melandaku sedikit mereda tatkala mendengar beberapa pelayan berbisik pelan. Namun suasana kembali hening saat Bu Navisa kembali. Ia langsung berdiri di sampingku dengan menyisakan sedikit jarak di antara kami. Dalam gaya apapun, bosku ini memang selalu nampak cantik dan anggun. Aku mencuri pandang ke sekeliling rumah. Kulihat Bu Navisa terus memandangi tangga, tepatnya ke lantai dua. Secara refleks, mataku mengikuti arah pandang Bu Navisa. Tak berselang lama aku menangkap keberadaan dua orang pria yang sedang menapaki anak tangga. Salah satunya mengenakan tongkat sedangkan yang lain memapah pria itu. Pria yang mengenakan tongkat itu mengenakan setelan jas berwarna hitam. Aku terkesima melihat parasnya yang begitu tampan. Seolah ia baru saja keluar dari salah satu kisah novel atau buku dongeng. Dilihat dari pakaian dan wajahnya, sekali tebak aku langsung mengenalinya sebagai Tuan Raisen, calon suamiku. Aku tak bergeming, terus menatap sosok itu. Begitu juga dengan penghulu dan para saksi yang menoleh bersamaan. Sejenak pria paruh baya yang memapah Tuan Raisen berhenti. Nampaknya ia bersiap menanggulangi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. "Nggak mau! Raisen nggak mau ikut! Raisen takut!" teriak Tuan Raisen berusaha melepas tangan pria yang memegangi lengannya. Aku tersentak mendengar cara bicara Tuan Raisen. Kenapa bahasanya mirip seperti anak kecil? Aku hanya tertegun tanpa bisa membuka suara. Aku yakin semua yang hadir juga sama terkejutnya denganku. Bu Navisa segera berlari menghampiri suaminya. Tuan Raisen terus memberontak sembari menangis hingga membuat pelayannya kerepotan. Tingkah lakunya benar-benar seperti anak kecil, batinku. "Hentikan, Raisen! Kamu mau bertemu teman mainmu kan? Itu dia, gadis yang memakai kebaya putih. Namanya Cahaya. Kamu bisa memanggilnya Aya. Mulai sekarang dia akan menemanimu bermain asalkan kamu menurut padaku," ucap Bu Navisa mengatasi kerewelan sang suami. Walau Bu Navisa berbicara pelan, aku masih dapat mendengar suaranya. Ia berusaha bicara dengan tegas namun lembut untuk menenangkan Tuan Raisen. Tak lama tangis pria itu mereda ketika mendengar namaku disebut. Dia mengangguk pelan sembari menatap Bu Navisa. "Aku mau punya teman. Cahaya," ucapnya lirih. Namun aku dan yang lain dapat mendengar dengan jelas karena suasana ruangan ini terbilang hening. "Kalau gitu kamu cukup mengucapkan apa yang aku ajarkan kemarin di depan Bapak itu. Setelahnya kamu bebas bermain dengan Cahaya,” ujar Bu Navisa menunjuk ke arahku dan penghulu. "Tapi Raisen takut...." lirih pria itu menunduk. Bu Navisa terlihat jengah menghadapi tingkahnya. Telapak tanganku mulai berkeringat menyaksikan semua kejadian ini. Apakah ini kelainan mental yang dimaksudkan oleh Bu Navisa? Jadi Tuan Raisen bersikap layaknya anak kecil meskipun dia adalah seorang pria dewasa. Sebegitu parahkah kondisinya hingga Bu Navisa menyerahkannya padaku? "Kalau kamu nurut, Kakak akan belikan kamu es krim, gimana?" tanya Bu Navisa berusaha keras untuk bersabar. Mendengar janji manis itu, Tuan Raisen mengangguk senang. Ia pun berhenti memberontak. Kemudian dengan patuh, ia dibantu oleh pelayannya menuruni tangga. Sedangkan Nu Navisa sudah lebih dulu turun lalu berjalan menghampiriku. "Aya," panggil Bu Navisa. Spontan aku menoleh ke arahnya. "Itu Raisen, calon suamimu. Kalian akan resmi menjadi suami istri sebentar lagi." Aku mengangguk meskipun jantungku berdebar-debar. Aku tidak mungkin mundur sekarang dari pernikahan ini. Perlahan Tuan Raisen berjalan dengan digandeng oleh pelayannya. Bu Navisa membantu suaminya itu duduk berdampingan denganku. Setelahnya, Bu Navisa bergerak menjauh. Tuan Raisen memandangku polos seperti tatapan mata seorang anak laki-laki. "Kamu Cahaya, teman main Raisen?” tanyanya tiba-tiba. Aku balas menatapnya dengan canggung. "Iya, aku temanmu." Mendengar ucapanku, Tuan Raisen tertawa senang. Terlihat jelas gurat bahagia di wajahnya seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan. “Ekhem!” Aku tersentak kaget kala penghulu mengetes suara mikrofon. Tampaknya ia ingin memastikan mikrofon itu berfungsi dengan baik. "Baik, kita mulai saja acaranya karena mempelai pria dan wanita sudah duduk bersama untuk menjalankan hari sakral dan bahagia pada hari ini,” ucap penghulu membuka acara pernikahan kami. Dari belakang, seorang pelayan memakaikan aku dan Tuan Raisen sebuah kain putih transparan di atas kepala kami. Kemudian pelayan tersebut mengarahkan Tuan Raisen supaya menjabat tangan penghulu itu. Terus terang aku tidak bisa fokus mendengar ucapan ijab kabul si penghulu. Perhatianku hanya tertuju pada Tuan Raisen yang tengah membalas ucapan penghulu dengan terbata-bata. Pada kali kedua, ia mampu mengucapkannya dengan suara lantang. Merasa berhasil, Tuan Raisen tertawa gembira seolah ini semua adalah sebuah permainan. "Bagaimana para saksi? Sah?" "SAH!" seru seluruh saksi lalu kami semua menengadahkan tangan. Aku membaca doa pernikahan. Dari ekor mata, kudapati Tuan Raisen hanya mengikuti gerakanku. Ia sama sekali tidak membaca doa pernikahan. “Aamiin...." lirihku mengusap wajah pelan kemudian menyalami tangan Tuan Raisen. Kini aku telah berubah status menjadi istrinya. Tuan Raisen tampak kebingungan, namun ia hanya diam sembari memandangku. "Sekarang kita boleh main? Oh iya, kita belum kenalan. Nama panggilanku Raisen. Siapa tadi nama panggilanmu?" tanya Tuan Raisen sedikit memiringkan kepalanya. "Kamu bisa memanggilku Aya. Salam kenal, Raisen," balasku canggung disertai senyuman tipis. "Sekarang silakan tanda tangani buku nikah ini," ucap penghulu sembari menyodorkan dua buku kecil. Aku segera mengambil pena di dekat buku dan menandatanganinya. Karena Tuan Raisen terlihat kebingungan, ia hampir saja mencoret asal buku nikahnya. Bu Navisa bergegas maju ke depan. Ia membimbing tangan suaminya supaya membubuhkan tanda tangan dengan benar. "Baiklah, selamat karena kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri," ucap penghulu itu tersenyum ramah kepada kami berdua. Sepanjang acara kulihat Bu Navisa sangat tenang. Tak ada raut sedih di wajahnya. Sebaliknya, ia memberikan persetujuan dengan senang hati. Baru sekali ini aku melihat seorang istri yang justru bahagia melihat suaminya menikahi wanita lain. Bahkan ia sendiri bersedia turun tangan untuk melancarkan acara ini. Entah apa yang ada di pikiran Bu Navisa. Mungkinkah cintanya sudah mati terhadap Tuan Raisen?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN