Pria Dewasa Berumur Sepuluh Tahun

1424 Kata
Acara pernikahan antara aku dan Tuan Raisen telah selesai. Penghulu sudah pergi lebih awal, begitu juga dengan para saksi. "Cahaya, Cahaya!" panggil Tuan Raisen sembari menggoyangkan lenganku. Aku yang sedang melihat sekitar spontan menoleh ke arahnya. "Ada apa Tuan Raisen?" tanyaku padanya, masih merasa canggung dan kikuk menghadapi tingkah pria yang baru saja menjadi suamiku ini. "Apa itu Tuan? Panggil aku Raisen. Ayo kita main! Raisen mau main lego sama Cahaya," ucap Tuan Raisen dengan tatapan mata berbinar. Ia seperti anak kecil yang sangat polos sehingga sulit bagiku menolak permintaannya. "Baik, setelah ini kita main ya." Sebelum Raisen merespon jawabanku, Bu Navisa tiba-tiba saja datang ke hadapan kami. Raut wajahnya begitu dingin ketika bertemu pandang padaku. Namun sinar matanya berubah ramah ketika menatap Tuan Raisen. "Raisen, main sama Cahaya nanti saja ya. Kakak mau ngomong dulu sebentar sama dia," bujuk Bu Navisa sembari menarik lengan suaminya. Aku baru paham bahwa Tuan Raisen menganggap Bu Navisa sebagai kakaknya, bukan istrinya. Tuan Raisen tampak merajuk dan enggan mengikuti langkah bu Navisa. "Nggak mau! Raisen mau main sama Cahaya!” rengek Tuan Raisen hampir menangis. Aku sedikit kelabakan ketika melihat air mata Tuan Raisen hampir jatuh membasahi pipi. Bu Navisa menghela napas gusar, namun sedetik kemudian ia tersenyum kepada suaminya. "Raisen mau es krim?" tampak Bu Navisa sekali lagi membujuk suaminya. Air mata yang hampir lolos dari kantung mata lelaki tampan itu kembali tertarik ke tempat semula. Bak anak-anak yang dibelikan mainan, ia tersenyum lebar. Tatapan berbinar ia layangkan pada Bu Navisa. "Mau!" ucap Tuan Raisen mengangguk senang. Aku pun terkejut tatkala Tuan Raisen menoleh cepat ke arahku. "Tungguin Raisen ya! Raisen beli es krim dulu." "I...iya," jawabku canggung seraya mengangguk. Kusunggingkan senyum tipis untuk membuat Tuan Raisen senang. "Pak Jan!" seru Bu Navisa menarik tangan Tuan Raisen mendekat kepada pembantunya. "Antar dia beli es krim atau apapun yang ia mau," bisik Bu Navisa pada seorang pria bernama Pak Jan yang sejak awal selalu mendampingi Tuan Raisen. Bisikannya masih bisa kudengar walaupun samar. Pak Jan mengangguk kemudian membantu Tuan Raisen berjalan dengan tongkatnya menuju mobil. Setelah melihat suaminya pergi, Bu Navisa kembali menatapku. Ekspresi wajahnya begitu datar dan dingin. "Ikut aku, aku ingin bicara denganmu," ucap Bu Navisa ketus kemudian berjalan pergi mendahului aku. Dengan tergesa-gesa, aku berusaha mengimbangi langkah lebar Bu Navisa. Mengenakan kebaya serta jarit membuatku kesulitan berjalan dengan cepat. Bu Navisa membuka pintu sebuah ruangan dengan daun pintu berukir. Sementara aku hanya mengikuti dari belakang. Ketika berada di dalam, kulihat ada foto Tuan Raisen terpajang di dinding. Dari foto itu jelas terlihat bahwa semasa masih normal, Tuan Raisen adalah pria yang mempesona. "Duduk," titah Bu Navisa menyuruhku duduk berhadapan dengannya. Jarak kami hanya terpisah oleh meja kayu jati berlapis. Bu Navisa sendiri sudah bertahta di atas kursi berwarna hitam yang berukuran agak lebar. Bentuk kursi ini sama dengan kursi yang biasa dipakai oleh para direktur perusahaan. Atmosfer di antara kami terasa canggung atau mungkin hanya aku yang merasakannya. Dalam beberapa detik ke depan, baik aku maupun Bu Navisa sama-sama terdiam. Bu Navisa menghela napas panjang sebelum memulai percakapan kami. "Cahaya, karena kamu sudah sah menjadi istri Raisen, aku akan menjelaskan kondisinya yang sebenarnya. Raisen mengalami gegar otak yang sangat parah pasca kecelakaan, bahkan dia sempat mengalami koma." Aku terperanjat mendengar pengakuan Bu Navisa. Kuperhatikan dengan seksama setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sambil berusaha memaknai kalimat demi kalimat dengan benar. "Saat Raisen sadar, dia kehilangan sebagian besar ingatannya. Itulah yang menyebabkan Raisen bertingkah seperti anak-anak,” jelas Bu Navisa menatapku sesaat sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Dokter yang menangani Raisen mengatakan bahwa Raisen mengalami kerusakan memori akibat gegar otak, sehingga yang tersisa hanya kenangan hidupnya sampai dia berusia sepuluh tahun," lanjut Bu Navisa menghela nafas pendek. Sorot matanya kosong sekaligus tajam. Beruntung Bu Navisa tidak menatapku secara langsung. "Satu hal lagi yang perlu kamu tahu. Emosi Raisen tidak stabil. Terkadang dia berteriak histeris seperti orang gila jika kepalanya sedang pusing," ucap Bu Navisa lagi-lagi menghembuskan napas pelan. Bu Navisa tampak frustasi ketika menjelaskan keadaan Tuan Raisen padaku. Sebelum kembali melanjutkan perkataannya, Bu Navisa sejenak memperbaiki posisi duduk serta melipat tangan di depan d**a. Ia menaikkan dagu dengan gaya yang begitu angkuh. Walaupun begitu aku berusaha mengabaikan hal tersebut dan tetap fokus pada perkataan Bu Navisa. "Raisen adalah pewaris tunggal dari keluarga Tirtakusuma. Kedua orang tua Raisen sudah meninggal dan yang merawat Raisen dari remaja sampai sekarang adalah om dan tantenya. Ruangan ini adalah ruang kerja Raisen saat dia masih menjabat sebagai presiden direktur." Aku mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Bu Navisa. Tak kusangka di balik gelimang harta yang dimilikinya, hidup Tuan Raisen cukup menyedihkan. Ia sudah tidak memiliki orang tua dan sekarang malah mengalami musibah seperti ini. "Sementara ini yang mengurus perusahaan keluarga Tirtakusuma adalah sepupu Raisen yang bernama Abimanyu." Bu Navisa tampak mengambil jeda, sepertinya ia agak kewalahan menjelaskan latar belakang Tuan Raisen padaku. Sebaliknya aku kembali terkejut ketika mendengar nama Abimanyu. Nama itu sangat familiar untukku. Ya, aku pernah menyukai cowok tampan yang bernama Abimanyu ketika usiaku masih lima belas tahun. Namun aku hanya bisa memendam perasaanku jauh di dalam hati, mengingat saat itu Abimanyu adalah kakak kelasku sekaligus bintang sekolah yang digilai banyak gadis. Sedangkan aku hanyalah satu dari sekian banyak murid yang biasa saja di sekolah. "Cahaya, kamu masih mendengarkan aku?" bentak Bu Navisa. Mungkin dia tahu jika aku melamun dan tidak menyimak penjelasannya. "Maaf, Bu...." jawabku tertunduk. "Dengarkan baik-baik semua kata-kataku. Jangan sampai ada yang terlewat," tekan Bu Navisa. "Raisen menjalani terapi bersama psikiater setiap hari Selasa. Selain itu Raisen juga harus menjalani terapi di rumah sakit untuk mengobati kakinya yang pincang. Total dia harus menjalani terapi sebanyak dua kali dalam seminggu," jelas Bu Navisa. Aku hanya diam sembari menunggu waktu yang tepat untuk berbicara, sekarang jelas bukan waktunya. "Apa kamu sudah menghafal jadwal makan dan minum obat Raisen?” tanya Bu Navisa menatap lurus ke arahku. "Sudah, Bu." Aku memandang bagian belakang tubuh Bu Navisa, tak berani menatap matanya secara langsung. Bu Navisa pun tersenyum puas sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bagus. Lusa aku berangkat ke Bangkok untuk berbelanja baju keperluan butik. Setelah itu aku akan ke Paris menonton acara pagelaran fashion show. Aku butuh penyegaran, bisa stress aku lama-lama di sini," lanjut Bu Navisa bergumam di akhir kalimat. Aku meremas jari-jemariku ketika mendengar penuturan Bu Navisa. Jika dia pergi artinya aku akan sendirian di rumah besar ini bersama Tuan Raisen? Pikirku berusaha terlihat santai di depan Bu Navisa. "Aku baru akan kembali sekitar dua minggu lagi." Tatapan Bu Navisa berubah menjadi dingin, lebih dingin dari sebelumnya. Aku bahkan dapat merasakan sesuatu menusuk tubuhku begitu mataku bersitatap dengan manik hitamnya yang gelap. "Ingat, jika sampai kamu lalai atau Raisen jatuh sakit, aku tak akan segan menghukummu Cahaya," ancam Bu Navisa. Aku hanya mampu mengangguk pelan sebagai respon. "Maaf, Bu Navisa, apa saya tetap bisa bekerja di butik Anda dari pagi sampai sore?” tanyaku ketika suasana hati Bu Navisa terlihat membaik. Bu Navisa menggeleng pelan. "Tidak Cahaya, tidak boleh. Kamu harus menemani Raisen sepanjang hari. Jangan khawatir soal gaji, aku akan tetap membayarmu setiap bulan." Bu Navisa lalu bangkit dari kursi kebesarannya. "Sekarang ikut aku! Aku akan menunjukkan dimana kamar Raisen berada." Aku segera berdiri dan kembali mengikuti langkah Bu Navisa menuju lantai dua. Ia berjalan ke kamar paling depan lalu membuka pintunya. Aku tercengang saat melihat betapa luasnya kamar ini. Ditambah semua furniture yang terlihat mewah dan mahal. "Ini kamar Raisen dan di sebelahnya adalah kamarmu. Antara kamar ini dan kamarmu ada pintu penghubung. Kalian berdua akan tidur bersebelahan. Tetapi jika Raisen sedang merajuk, kamu harus tidur bersama dengannya sampai dia tenang." Aku mengangguk sebagai tanda mengerti, kali ini aku tak ingin banyak bicara. Belum selesai Bu Navisa memberikan penjelasan, kudengar ponselnya berbunyi. Ia segera menyuruhku untuk masuk ke dalam kamarku melalui pintu penghubung. "Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu di kamar," ucap Bu Navisa sebelum mengangkat panggilan. Aku segera melakukan perintahnya dan membuka pintu menuju ke kamarku. Namun sebelum itu aku mendengar Bu Navisa berbicara dengan mesra pada lawan bicaranya. "Iya, iya, aku janji kita akan makan malam berdua nanti. Jemput aku jam tujuh, Sayang." Sekilas aku melirik kepada Bu Navisa. Wajah cantiknya begitu sumringah, suaranya juga terdengar manja. Kuputuskan untuk berlalu dan tidak menguping pembicaraannya. Aku pun masuk ke dalam kamar dan segera menuju lemari pakaian. Di dalam lemari ada sejumlah baju, tiga diantaranya mirip dengan pakaian pelayan. Aku mengambil salah satu pakaian itu dan melepas kebaya yang masih menempel di tubuhku. Setelah selesai, aku kembali memikirkan perkataan terakhir Bu Navisa. Apakah ia malas merawat suaminya karena sudah memiliki kekasih baru? Pikirku merasa iba pada Tuan Raisen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN