Tugas Pertama Sebagai Istri

1201 Kata
Aku merasa lega setelah melepas kebaya dan semua aksesoris pengantin. Sebenarnya baju yang kupakai tidak terlalu merepotkan. Justru aku merasa lebih terbebani dengan acara pernikahan yang terkesan dipaksakan. Pernikahan tadi lebih mirip pertunjukan anak-anak daripada ikatan resmi antara suami dan istri. Aku terduduk lemas di tepi tempat tidur. Dari cermin yang terpasang di dinding, kuamati diriku sendiri. Aku terlihat cocok memakai baju ganti yang mirip dengan seragam pelayan. Tentu saja aku memilihnya karena menyadari posisiku di rumah ini. Aku hanyalah seorang istri bayaran, lebih tepatnya aku adalah perawat bagi Tuan Raisen. Lewat pekerjaan inilah aku mendapat uang dalam jumlah besar. Karena itu, aku harus mengerjakan semua tugas yang diberikan Bu Navisa dengan baik. "Aya, apa kamu sudah selesai? Kalau sudah keluarlah," panggil Bu Navisa seraya mengetuk pintu. "I...iya, Bu," jawabku bergegas membuka pintu. Kulihat Bu Navisa sudah menenteng salah satu tas mahalnya dengan tangan kanan. Nampaknya ia sudah bersiap untuk pergi. "Aku akan ke butik dan baru kembali malam hari. Kamu cepatlah turun dan tunggu Raisen di depan. Sebentar lagi dia pasti pulang." "Baik, Bu." "Nanti kalau Raisen mengajakmu bermain, turuti saja. Sebisa mungkin penuhi semua kemauannya asalkan tidak melanggar pantangan makan dari dokter. Jangan kecewakan aku, Aya." Bu Navisa menuruni anak tangga terlebih dulu sedangkan aku mengikuti di belakangnya. Tanpa menoleh lagi, Bu Navisa keluar dari rumahnya. Bisa kudengar suara mobilnya yang melaju meninggalkan bangunan megah ini. Selepas Bu Navisa pergi, aku bingung dengan apa yang harus kuperbuat. Aku berdiam saja di ruang tamu sambil menunggu kepulangan Tuan Raisen. Melihat kebingunganku, seorang pelayan wanita setengah baya menghampiriku. "Nyonya, saya belum memperkenalkan diri. Saya Minah, kepala pelayan disini. Apa Anda mau makan atau minum?" tanya wanita itu penuh sopan santun. Barangkali karena melihatku menikah dengan Tuan Raisen maka ia menganggapku layak dihormati. "Tidak usah, Bi Minah, terima kasih. Saya sedang menunggu Tuan Raisen." "Kalau Nyonya butuh sesuatu, panggil saya saja." Aku tersenyum sebagai jawaban. Entah mengapa aku merasa tidak pantas bila diperlakukan sebagai majikan di rumah ini. Tepat setelah Bi Minah pergi, aku mendengar suara deru mobil memasuki halaman. Dari jendela kulihat Pak Jan, pelayan setia Tuan Raisen keluar dengan tergesa-gesa dari mobil. Kemudian ia membukakan pintu untuk Tuan Raisen. Wajah Tuan Raisen tampak berseri-seri. Tangan kanannya membawa es krim sedangkan tangan kirinya memegang tongkat penyangga. Pak Jan tampak kerepotan karena ia juga menenteng sebuah tas belanjaan besar. Aku pun bergegas keluar untuk membantunya. "Cahaya, aku bawa es krim!" teriak Tuan Raisen ketika aku datang menghampirinya. "Iya. Ayo kita masuk," jawabku menggandeng tangan Tuan Raisen. Tak kusangka Tuan Raisen sangat berat, apalagi bisa kurasakan otot-otot di bagian lengannya yang menonjol. Sepertinya dulu dia adalah pecinta olah raga berat. Namun aku harus membiasakan diri untuk mengurusnya sekaligus menjadi teman yang baik baginya. "Raisen mau makan es krim di kamar," timpal Tuan Raisen. "Pak, tidak apa-apa makan di kamar?" tanyaku memastikan kepada Pak Jan. "Iya, Nyonya. Tuan Raisen lebih nyaman melakukan semua aktivitas di kamar. Apa Nyonya sudah tahu dimana kamar Tuan?" "Sudah, Pak." Dengan penuh semangat, Tuan Raisen menikmati es krim strawberry vanila yang dipegangnya. Ekspresinya yang polos mengingatkan aku pada masa kecilku sendiri. Dulu aku juga sebahagia ini saat papaku membelikan es krim. Sayangnya semua tinggallah kenangan yang tak akan pernah kembali. "Nyonya, biar saya yang membawa Tuan Raisen ke kamarnya," ucap Pak Jan menawarkan diri. Barangkali dia tahu bahwa aku mengalami kesulitan untuk memapah Tuan Raisen. "Tidak usah, Pak. Saya bisa kok," jawabku bersikeras. Mana mungkin aku merepotkan Pak Jan yang jauh lebih tua dariku. Sekuat tenaga aku berusaha membantu Tuan Raisen menapaki anak tangga. Sedangkan Pak Jan mengikuti kami dengan membawa tas belanjaan. Tanpa disuruh, Pak Jan langsung membukakan pintu kamar untuk kami. "Nyonya, ini mainan yang dibeli Tuan Raisen. Saya letakkan disini." "Terima kasih, Pak. Bapak bisa istirahat," ucapku mendudukkan Tuan Raisen di sofa. Pak Jan nampak ragu-ragu saat hendak meninggalkan aku berdua saja dengan Tuan Raisen. Mungkin dia cemas bila aku tidak mampu mengurus suamiku dengan baik. "Kalau Nyonya butuh bantuan saya, silakan tekan tombol merah ini. Jangan lupa satu jam lagi Tuan Raisen harus minum obat. Saya permisi." Sedikit membungkukkan badan, Pak Jan keluar dari kamar Tuan Raisen. Sementara Tuan Raisen masih sibuk menikmati es krimnya. Karena terlalu asyik, sudut bibirnya terkena es krim hingga akan menetes ke bawah. Sebelum itu terjadi, aku menyambar tissue untuk mengelap bibir Tuan Raisen. Ketika aku mengusap sisa es krim di bibirnya, Tuan Raisen tiba-tiba memegang tanganku. "Cahaya, mau es krim juga?" "Nggak," jawabku menolak. "Es krim ini enak. Aya cicipi," ujarnya menyodorkan es krim kepadaku. "Untuk Raisen saja." Mata Tuan Raisen mulai berair seperti hendak menangis. Melihatnya begitu, aku takut sekaligus tidak tega. Karenanya aku pun terpaksa menerima permohonannya. "Jangan nangis. Aku mau es krim." Tuan Raisen mengangguk senang. Ia pun menyodorkan es krim itu ke bibirku. "Cahaya makan yang di kanan, aku yang di kiri." Tanpa menunggu, ia mulai menikmati es krimnya lagi begitu pula denganku. Akibatnya wajah kami saling berdekatan satu sama lain. Aku jadi merasa kikuk karena ini untuk pertama kalinya aku sangat dekat dengan seorang pria. Ketika es krim itu hampir habis, aku pun memundurkan wajahku. Tuan Raisen menatapku dengan bingung. "Kenapa nggak dihabiskan?" tanyanya. "Karena es krimnya tinggal sedikit. Raisen yang habiskan ya." Tuan Raisen mengangguk kemudian ia habiskan es krim di tangannya yang sudah meleleh. Karena hampir habis, sisa es krim itu terjatuh mengenai kemejanya. Raisen pun terkejut dan spontan berteriak. "Bajuku basah. Raisen mau ganti baju," rengeknya seraya menarik-narik kerah kemeja. "Iya, aku ambilkan baju dulu." Serta merta aku berdiri dan menuju ke lemari pakaian. Melihat baju-baju Tuan Raisen yang begitu banyak, aku jadi kebingungan. Entah baju mana yang harus kupilih di antara baju-baju ini. Padahal di sofa Tuan Raisen tidak berhenti merajuk. "Cahaya, cepat. Baju ini lengket," keluhnya. "Eh, iya, sebentar." Kuputuskan untuk mengambilkan kaus santai berwarna hitam dan celana pendek untuk Tuan Raisen, mengingat ini masih siang hari. "Raisen mau pakai ini?" tanyaku. "Mau. Bantu aku berdiri dan pakaikan baju untukku," pinta Tuan Raisen. Mataku terbelalak seketika melihat Tuan Raisen melebarkan tangannya. Haruskah aku melepaskan semua yang dipakai Tuan Raisen saat ini? Itu artinya aku akan melihat tubuhnya. Tidak, aku harus menghindar dari situasi ini. Aku pasti akan malu setengah mati. Meskipun tidak akan terjadi apapun di antara kami, tapi fisik Tuan Raisen tetaplah seorang pria dewasa. Dan seumur hidup aku belum pernah melihat pria tanpa baju. "Cahaya, cepat!" seru Tuan Raisen memaksaku. "Raisen nggak bisa ganti baju sendiri?" tanyaku membujuknya. "Nggak bisa. Kaki Raisen sakit kalau berdiri terlalu lama. Biasanya Pak Jan yang mengganti baju Raisen. Tapi sekarang Pak Jan pergi," ucap Raisen terdengar manja. "Oh begitu." Aku mengalami dilema. Apakah aku harus memanggil Pak Jan supaya dia yang mengganti baju Tuan Raisen? Tapi jika aku meminta bantuannya maka akan menimbulkan tanda tanya besar, karena aku berstatus istri Tuan Raisen. Istri mana yang tidak bersedia mengganti baju suaminya? Lagipula tugas utamaku memang merawat Tuan Raisen, termasuk mengurus segala keperluannya. "Aku yang akan mengganti bajumu," jawabku mengambil keputusan. Dengan tangan gemetar, aku membuka satu per satu kancing kemeja Tuan Raisen. Setelah terlepas aku langsung menanggalkannya. Hatiku berdebar tak karuan saat melihat bentuk tubuhnya yang sempurna sebagai pria. Cepat-cepat kupakaikan kaos ke tubuhnya untuk menghentikan rasa canggung yang melandaku. "Cahaya sekarang ganti celanaku. Raisen kepanasan," pinta Tuan Raisen dengan tatapan polosnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN