"Bisa Raisen bantu Aya dulu?" tanyaku membujuk Tuan Raisen. Sengaja kuubah gaya bicaraku supaya lebih mirip dengan anak-anak. Berharap Tuan Raisen akan lebih mudah menerimaku sebagai temannya.
"Bantu apa, Aya?" Aku meletakkan tangannya di bahuku agar tidak terjatuh.
"Tolong buka ritsleting celana Raisen lalu turunkan sampai di lutut. Setelah itu, Aya yang akan melepasnya."
Tuan Raisen melebarkan iris matanya seolah tidak memahami petunjuk dariku.
"Raisen nggak paham?" tanyaku memastikan.
Tuan Raisen menggeleng seraya mengerucutkan bibir. Namun tak berselang lama, ia melakukan apa yang kuminta.
"Terima kasih, Raisen," ucapku melepas celana itu seraya menunduk. Segera kusambar celana santai yang sudah kusiapkan sebelumnya di tempat tidur.
Dengan masih berpegangan pada bahuku, Tuan Raisen mengangkat kaki kiri kemudian kaki kanan untuk memudahkan aku memakaikannya celana. Nampaknya ia bermaksud meringankan pekerjaanku.
"Sudah selesai. Raisen mau berbaring?" tanyaku.
Tuan Raisen tidak menjawab pertanyaanku tapi ia malah balik bertanya.
"Aya, Raisen pintar kan bisa buka celana sendiri?"
"Iya, Raisen pintar," jawabku mendudukkan Tuan Raisen di tepi tempat tidur.
"Kalau begitu Raisen minta hadiah." Wajah tampannya nampak lebih bersinar ketika mengatakan hal itu.
"Hadiah apa?" tanyaku mengerutkan alis.
"Raisen mau dipeluk."
"Dipeluk?"
"Iya, Raisen kangen Mama. Kalau Raisen dapat nilai bagus di sekolah, Mama selalu peluk Raisen."
Melihat tatapannya yang penuh harap, aku pun tak kuasa menolak permintaannya. Aku yakinkan diri sendiri bahwa aku akan memeluk seorang anak laki-laki yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Dan aku hanya akan melakukannya sebentar saja.
Dengan berpegang teguh pada keyakinan itu, kudekati Tuan Raisen. Sebelum aku mendekapnya, dia lebih dulu menghambur ke pelukanku. Dia meletakkan kepalanya di bahuku, layaknya seorang anak yang merindukan kasih sayang ibunya.
Hatiku menghangat. Aku merasa Tuan Raisen begitu rapuh, bagai sebuah gelas kristal yang berkilau di permukaan tapi mudah retak di dalam. Ia membutuhkan tempat berlindung untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Tapi sayangnya, aku bukanlah tempat bersandar yang patut diharapkan olehnya. Ibarat kata orang buta tidak mungkin menuntun sesama orang buta. Lagipula bila Tuan Raisen tahu bahwa keberadaanku di sisinya semata-mata karena uang, mungkin ia akan sangat membenciku.
Semakin lama memeluk Tuan Raisen, aku justru semakin terlarut dalam rasa bersalah. Karena itu, aku melepaskan pelukanku dan menjauh dari tempat tidur.
"Mau kemana, Aya? Yuk, sekarang kita main. Raisen beli mainan lego city yang baru," tunjuk Raisen ke tas besar yang tadi diletakkan oleh Pak Jan.
"Aya ambilkan obat untuk Raisen dulu. Setelah Raisen minum obat, baru kita main. Setuju?" bujukku seraya membuka kotak obat yang terpasang di dinding.
"Setuju, Aya," jawabnya ceria. Sebenarnya Tuan Raisen memiliki warna suara yang serak dan dalam. Ciri khas suara seperti ini banyak disukai oleh kaum wanita. Hanya saja karena ia bersikap seperti anak kecil, suaranya terdengar lebih melengking.
"Obatnya ada empat macam. Raisen minum yang warna putih dulu."
Dengan patuh, Raisen menuruti kata-kataku. Ia menelan obat itu lalu meneguk habis satu gelas air putih.
"Raisen, jangan minum terlalu banyak, nanti perutnya kembung. Sekarang minum yang warna pink."
Aku terus memberikan obat kepadanya tanpa mengalami kesulitan. Tampaknya Tuan Raisen sudah terbiasa dengan rutinitas semacam ini. Namun saat aku memberikan obat yang diteteskan ke lidah, ia memalingkan wajah.
"Raisen nggak mau yang ini, pahit!" tolaknya sembari menutup mulut dengan telapak tangan.
"Tapi obat ini harus diminum supaya Raisen cepat sembuh."
"Pokoknya nggak mau!" jawabnya bersikeras.
Aku menghela napas sambil mencari ide untuk membujuknya.
"Kalau Raisen nggak mau minum obat, Aya nggak jadi main sama Raisen," ucapku sedikit mengancam.
Tuan Raisen terkejut dengan ketegasanku. Kemudian ia menatapku dengan wajah memelas.
"Raisen mau minum obat tapi setelah itu minta biskuit manis."
Aku teringat kalau Tuan Raisen dilarang makan biskuit kemasan. Karena itu, aku terpaksa menolak keinginannya.
"Nanti Aya mintakan buah apel ke Pak Jan. Apel lebih enak dari biskuit. Sekarang ayo buka mulutnya. Aa...." ucapku memberikan contoh. Aku menirukan cara yang dipakai ibuku ketika membujukku minum obat.
Aku bersyukur karena Tuan Raisen bersedia mematuhi kata-kataku. Tanganku sedikit gemetar saat meneteskan obat itu sebanyak dua kali. Namun pada akhirnya aku berhasil meminumkan obat itu sesuai dosis.
"Uhuk...uhukkkk." Tuan Raisen tersedak karena menelan cairan bening itu. Kulit wajahnya yang semula putih langsat berubah kemerah-merahan. Hidungnya juga berkerut dalam, menandakan bahwa ia tidak menyukai bau obat tersebut.
Napas Tuan Raisen yang tersengal-sengal membuatku panik. Aku langsung meminumkan air putih sebelum dia memuntahkan obat itu. Dan kutepuk pelan punggungnya untuk meredakan rasa tidak nyaman.
Setelah tarikan napasnya berangsur normal, aku membantu Tuan Raisen bersandar pada kepala ranjang.
"Raisen, istirahat ya. Aya akan turun mengambil apel."
"Nggak mau, Raisen takut sendirian," ucapnya menarik tanganku.
"Kenapa takut? Di luar masih terang. Ini belum malam hari."
"Kalau Raisen sendirian sering ada suara-suara aneh. Raisen nggak bisa mengingatnya. Suara itu membuat kepala Raisen sakit sekali," jawab Raisen melirih.
Aku tertegun mendengar penjelasannya. Mungkinkah ini penyebab Tuan Raisen sering berteriak di malam hari? Lalu bagaimana aku mengatasinya nanti? Apakah dengan menemaninya tidur, maka sakit kepala yang melanda Tuan Raisen bisa sembuh?
Berjuta pertanyaan berputar di benakku. Baru membayangkannya saja aku sangat gelisah, apalagi bila mengalaminya. Tapi aku memaksa diriku untuk menghentikan pikiran-pikiran negatif itu.
"Aya akan panggil Pak Jan untuk menemani Raisen."
"Raisen mau ikut Aya ke bawah. Kita main di ruang tengah," ucap Raisen mengguncang-guncangkan lenganku.
Demi menyenangkan hatinya, aku pun setuju. Dengan mengerahkan tenaga ekstra, aku membantu Tuan Raisen berdiri lalu memasangkan tongkat untuknya. Kuraih tas berisi mainan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananku menggandeng erat lengan Tuan Raisen. Meski kerepotan, aku harus belajar untuk lebih cekatan dalam mengurus suamiku.
Lambat asal selamat, itulah semboyanku. Kendatipun butuh waktu lama, aku dan Tuan Raisen sampai juga di lantai bawah. Pak Jan yang melihatku bergegas memberikan pertolongan. Ia membantuku untuk mendudukkan Tuan Raisen di sofa.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Pak Jan menawarkan bantuan.
"Pak, apa ada buah apel? Kalau ada tolong potongkan untuk Raisen. Kasihan dia baru saja minum obat tetes yang pahit."
Garis-garis kerutan di dahi Pak Jan makin kentara ketila mendengar penuturanku.
"Maaf, Nyonya, saya lupa memberitahu kalau Tuan Raisen biasanya muntah sehabis minum obat itu."
"Raisen hanya tersedak tidak sampai muntah, Pak," jawabku apa adanya.
Ekspresi Pak Jan berubah gembira.
"Ini perkembangan yang bagus, Nyonya. Kalau Tuan Raisen tidak muntah, khasiat obatnya akan terserap dengan baik. Saya ambilkan apelnya sekarang," ujarnya bergegas pergi ke dapur.
Sambil menunggu Pak Jan, aku mengeluarkan kotak lego dari dalam tas. Kubuka penutupnya lalu aku keluarkan semua bagian yang harus dirakit. Aku menatanya di atas meja panjang di depan sofa.
Melihat banyaknya kepingan lego, aku bingung harus mulai dari mana. Sejak dulu aku tidak pandai dalam permainan seperti ini. Daripada bingung, kucoba membaca buku petunjuk dan mengamati gambar di kemasan. Namun tetap saja aku tidak mengerti. Barangkali karena kreativitas dan daya imajinasiku yang tidak memadai.
"Raisen akan buat yang ini," ucap Raisen tiba-tiba menunjuk ke contoh bangunan berbentuk menara.
"Raisen bisa?" tanyaku menyangsikan kemampuannya. Bukannya menghina, tapi aku ragu jika Tuan Raisen bisa merakit lego yang rumit dengan kondisinya yang serba terbatas.
"Aya, lihat saja."
Raisen mulai mengambil kepingan lego lalu menyambungkannya satu dengan yang lain. Aku dibuat tercengang menyaksikan betapa cepat dia melakukannya. Gerakan tangannya begitu terampil dalam menyambungkan kepingan yang satu dengan yang lain. Padahal hanya sekilas saja ia melihat buku petunjuk itu.
Kekagumanku kian bertambah ketika dia membangun menara yang persis sama dengan gambar.
"Wah, kamu hebat sekali, Raisen," pujiku.
"Sekarang Raisen mau buat restoran pizza," katanya mengulum senyum.
Aku turut senang melihat keceriaan di matanya. Seingatku perusahaan milik Tuan Raisen memang bergerak di bidang properti. Makanya tidak mengherankan bila Tuan Raisen sangat mahir dalam merancang sebuah bangunan.
Sepanjang menjaga Tuan Raisen, peranku tidaklah terlalu banyak. Aku hanya menjadi penonton saja hingga Pak Jan datang memberikan sepiring penuh apel. Aku mengucapkan terima kasih padanya lalu menawarkan apel itu kepada Tuan Raisen.
"Raisen mau makan apel?"
"Hmmm," gumamnya masih fokus memasang lego.
Aku pun berinisiatif menyuapkan potongan apel ke mulutnya dengan garpu.
Di tengah kegiatan kami, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Ada suara percakapan antara Bu Minah dan Bu Navisa. Lalu terdengar suara Bu Navisa menanyakan keberadaanku.
Aku beranjak dari sofa untuk menyambutnya, tapi Bu Navisa sudah lebih dulu tiba. Di belakang Bu Navisa kulihat seorang pria berkemeja biru mengiringinya. Paras pria itu cukup tampan meskipun tidak setampan Tuan Raisen. Gerak-gerik pria tersebut menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa berada di rumah besar keluarga Tirtakusuma.
"Aya, sedang apa kamu disini?"
"Saya menemani Tuan Raisen main lego, Bu."
Bu Navisa melirik sekilas kepada suaminya yang asyik menyusun lego, kemudian ia menatapku.
"Raisen sudah minum obat?"
"Sudah, Bu."
"Good. Lanjutkan tugasmu."
Sebelum pergi, Bu Navisa memegang tangan pria itu.
"Hardin, aku ke atas dulu untuk bersiap-siap. Kamu tunggu disini saja bersama Raisen dan Cahaya."
"Oke, jangan terlalu lama," ucapnya mengedipkan mata kepada Bu Navisa. Tampak jelas kemesraan di antara keduanya.
Prasangka buruk kembali timbul di benakku. Apakah pria bernama Hardin ini memiliki hubungan spesial dengan Bu Navisa sementara Bu Navisa masih berstatus istri Tuan Raisen? Jika demikian, mengapa dia berani datang secara terang-terangan?
Belum hilang rasa terkejutku, pria itu menyapaku dengan ramah.
"Halo, aku Hardin, sahabatnya Raisen dan Navisa. Namamu Cahaya, kan?" tanyanya mengulurkan tangan.
Meski ragu-ragu, aku menerima uluran tangannya.
"Iya, saya Cahaya, Tuan."
"Jangan sungkan padaku. Panggil saja aku Hardin."
Sambil berjabat tangan, Hardin memperhatikan aku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu masih muda dan cantik. Aku heran kenapa Navisa memilihmu sebagai istri kedua Raisen. Bisa jadi Raisen benar-benar jatuh cinta padamu," katanya menaikkan alis.
Merasa risih dengan tatapannya yang menusuk, aku buru-buru melepaskan tanganku.
"Maaf, saya harus menemani Tuan Raisen."
Aku melangkah meninggalkan Hardin, tapi ia malah mengikuti aku ke sofa. Dengan santai, Hardin duduk di sofa, tepat di sebelah Tuan Raisen.
"Raisen, bagaimana kabarmu? Boleh aku ikut main lego?" tanyanya tersenyum tipis.