Bulan Madu Dadakan

1249 Kata
"Boleh, ayo main." Tuan Raisen meraup sejumlah lego dengan telapak tangannya lalu menyerahkannya kepada Hardin. "Hardin, buat halte bus yang ini," tunjuk Tuan Raisen ke contoh gambar yang terletak di atas meja. Ternyata Tuan Raisen memang tampak akrab dengan pria ini. "Okey, aku bisa membuatnya dalam waktu singkat," jawab Hardin menyanggupi. Ia mulai menyusun legonya satu demi satu tapi kemudian berhenti. "Raisen, bagaimana kalau kita lomba? Siapa yang lebih cepat selesai akan menjadi juaranya. Yang kalah harus mengabulkan permintaan yang menang." Tuan Raisen mengulurkan tangannya kepada Hardin sebagai tanda persetujuan. "Deal, kita mulai. Cahaya yang akan menghitung mundur sekaligus menjadi jurinya." Aku terkejut karena Hardin malah melibatkan aku dalam perlombaannya. Mungkin dia sekedar ingin memberiku peranan karena aku terlihat menganggur saja sejak tadi. "Cahaya, giliranmu sekarang. Aku dan Raisen sudah siap," ujar Hardin lantas menatapku. Tersemat sekilas senyuman di ujung bibirnya. Dalam waktu yang bersamaan, Tuan Raisen juga memandangku. Secara naluri aku merasakan perbedaan mencolok antara sorot mata kedua pria ini. Netra Tuan Raisen memancarkan kepolosan anak-anak. Sedangkan untuk Hardin, seperti ada sesuatu yang tersembunyi di balik mata hitam pekatnya. Atau barangkali aku yang terlalu berlebihan dalam menilai kepribadiannya. Aku mengerjapkan mata untuk mengenyahkan prasangka buruk ini. Tidak baik bila aku menuduh orang sembarangan tanpa bukti. "Lima, empat, tiga, dua, satu...mulai!" ucapku memandu jalannya perlombaan itu. Tuan Raisen dan Hardin bergerak bersamaan. Aku pun bertindak sebagai juri dengan mengamati pekerjaan keduanya. Tuan Raisen tampak mahir memasang kepingan lego, sama halnya dengan Hardin yang tidak kalah cepat. Namun diam-diam aku berharap Tuan Raisen yang akan memenangkan permainan ini. "Selesai, aku juara!!!" teriak Tuan Raisen mengangkat tangannya ke atas. Spontan, aku bertepuk tangan untuk merayakan kemenangannya. "Yah, aku kalah dari anak-anak. Mungkin ini bukan hari keberuntunganku. Aku tidak mau main lagi," ujar Hardin memanyunkan bibirnya. Jelas ia hanya berpura-pura kecewa atas kekalahannya. Hardin bangkit berdiri lalu memanggil Pak Jan yang berdiri tak jauh dari kami. "Pak Jan, kemari sebentar!" "Ada apa, Tuan Hardin?" tanya Pak Jan bergegas datang. "Tolong buatkan aku dan Cahaya minuman dingin, jus jeruk atau lemon squash misalnya." "Baik, Tuan." Pak Jan juga terlihat sangat menghormati Hardin meskipun dia bukanlah pemilik rumah. "Tunggu, Pak Jan, saya tidak usah," cegahku. "Cahaya, tidak apa-apa. Aku memesankan minuman segar untukmu supaya tidak terlalu tegang." Hardin berjalan tiga langkah lebih dekat padaku. "Aku bersahabat dengan Raisen dan Navisa lebih dari enam tahun lamanya. Aku tahu benar bagaimana sifat Navisa. Dia sampai rela menikahkan Raisen denganmu karena tidak sanggup lagi menangani suaminya. Jangan sampai kamu tertekan seperti Navisa. Bersantailah sedikit saat kamu merasa lelah merawat Raisen," imbuhnya meyakinkan aku. "Terima kasih atas nasehat Anda, Tuan Hardin. Saya akan mengingatnya," jawabku diplomatis. "Apa yang kalian bicarakan?" Terdengar dentuman suara high heels yang beradu dengan lantai. Kudongakkan kepala ke arah tangga dimana suara itu berasal. Mataku terpana pada sesosok nyaris sempurna yang tengah menuruni anak tangga. Siapa lagi kalau bukan Bu Navisa. Ia menggunakan gaun ketat berwarna hitam dengan bagian punggung yang terbuka. Sepasang anting yang berkilauan tersemat di telinganya. Meskipun aku tidak tahu banyak soal perhiasan, tapi aku yakin anting itu terbuat dari berlian. Menurutku penampilan Bu Navisa kali ini jauh lebih memukau daripada saat menghadiri akad nikahku tadi pagi. "You are so pretty, Navisa," puji Hardin mengecup punggung tangan Bu Navisa. Aku baru teringat bahwa Bu Navisa akan pergi makan malam. Dan ternyata teman makan malamnya adalah Hardin. "Jawab dulu pertanyaanku. Apa yang kamu katakan pada Cahaya?" tekan Bu Navisa. Aku menangkap nada tidak suka di dalam suaranya. "Aku cuma menasehati Cahaya supaya lebih rileks. Dia butuh tekad yang kuat dan kesabaran ekstra untuk merawat Raisen." "Benar begitu, Aya?" tanya Bu Navisa dingin. Anehnya aku merasa dia lebih cemburu pada Hardin ketimbang suaminya sendiri. "Iya, Bu." "Aku tidak bohong kan? Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Hardin menggandeng tangan Bu Navisa. "Tunggu, aku mau berpamitan kepada Raisen." Kaki jenjang Bu Navisa tersibak dari belahan gaunnya, tatkala ia melangkah menuju sofa. "Raisen, berhenti dulu mainnya." "Kenapa? Raisen senang main ini," tolak Tuan Raisen mendengus kesal. "Kak Navisa mau pergi. Setelah ini mandi, makan lalu tidur. Kalau takut, panggil saja Aya untuk menemanimu." Tuan Raisen mengalihkan perhatiannya untuk menatap Bu Navisa. Kelopak matanya melebar menunjukkan bahwa ia mengagumi penampilan cantik istrinya. "Raisen mau ikut pergi. Pakai baju yang bagus seperti Kak Navisa," rajuk Tuan Raisen. Sedikit limbung, ia meraih tongkat di sampingnya lalu berdiri menghadap Bu Navisa. Secara refleks aku segera berlari untuk menopang lengannya agar tidak terjatuh. "Nggak bisa. Ini acara bisnis yang dihadiri orang dewasa. Kamu tinggal saja di rumah bersama Aya dan Pak Jan." "Raisen sudah besar, nggak akan nakal disana," ujar Tuan Raisen bersikeras. "Sekali aku bilang tidak, artinya tidak!" bentak Bu Navisa. Tuan Raisen menunduk ketakutan setelah mendengar hardikan keras itu. Tidak terucap sepenggal kalimat pun dari lisannya. Hanya kulihat bibirnya bergetar pertanda tangisnya akan pecah. "Raisen, nanti kita lanjut main. Jangan sedih," bujukku menenangkannya. Di luar dugaanku, Tuan Raisen menghempaskan pegangan tanganku. Ia menyeret kakinya ke meja kemudian menyerakkan bangunan lego yang sudah ia susun dengan rapi. Detik berikutnya, Tuan Raisen melempar sisa lego ke segala arah sambil menjerit histeris. Kemudian ia membanting piring bekas apel hingga hancur berantakan. Napasku tertahan melihat Tuan Raisen berubah sekuat ini tatkala ia hilang kendali. Dia mengamuk bagaikan seekor banteng yang terluka. "Hentikan, Raisen!!!" seru Bu Navisa menutup telinganya. Hardin buru-buru maju ke depan. Semula aku mengira dia akan mengatasi kemarahan Tuan Raisen, ternyata ia malah mendekap Bu Navisa. "Sabar, Nav. Seharusnya kamu jangan terlalu keras pada orang yang mengalami gangguan mental," ujarnya lembut. Bu Navisa meletakkan kepalanya di bahu Hardin. Kudengar dia terisak pelan, menumpahkan segenap rasa frustasinya. Sedangkan aku bak sebuah arca yang menghiasi ruangan tanpa dipedulikan keberadaannya. Di tengah situasi kacau ini, kuputuskan untuk menenangkan Tuan Raisen. Namun ketika aku mendekat, Tuan Raisen mengangkat vas bunga lalu melemparkannya ke bawah. Karena terkejut, aku pun memekik sambil menutup mata. Selang beberapa detik, terdengar suara Pak Jan dan Bi Minah berlarian ke arah kami. "Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya Bi Minah. Kurasakan perih yang merambat dari bagian tungkai kakiku. Saat membuka mata, aku baru sadar jika cairan berwarna merah pekat mengalir dari sana. Ternyata serpihan dari pecahan vas itu mengenai kakiku. "Biar saya obati lukanya, Nyonya," kata Bi Minah membantuku duduk di sofa. Ia berdiri untuk mengambil obat luka. Sementara kulihat Tuan Raisen terpaku di tempatnya. Ia tidak lagi melampiaskan amarahnya melainkan menatapku sambil berlinang air mata. "Ma...af, Aya," gumamnya ketakutan. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam karena telah membuatku terluka. Tuan Raisen menangis tersedu dalam pelukan Pak Jan. Pelayan yang lain berdatangan untuk membersihkan pecahan vas dan piring yang berserakan di lantai. "Kalian semua bereskan kekacauan ini!" perintah Bu Navisa kepada para pelayannya. Bu Navisa melewatiku lalu menghampiri Tuan Raisen. Ia menghela napas panjang sebelum memberikan peringatan kepada suaminya. "Raisen, kalau kamu melempar barang lagi seperti tadi, besok kamu akan disuntik oleh Bu Dokter." Tuan Raisen menggeleng sambil menghapus air matanya sendiri. "Nggak mau, Raisen cuma ingin jalan-jalan." "Baiklah, besok kamu boleh jalan-jalan bersama Aya ke pantai. Asalkan kamu berjanji tidak mengulangi perbuatanmu tadi. Mengerti?" "Iya, Raisen janji." Bu Navisa berpaling dari Tuan Raisen dan berganti melayangkan pandangan menusuk kepadaku. "Aya, lain kali kamu harus lebih berhati-hati menghadapi Raisen. Besok adalah hari keberangkatanku ke luar negri. Supaya Raisen tidak mengamuk lagi, kuputuskan untuk mengatur liburan bagi kalian berdua. Temanilah Raisen menginap di vila pribadi kami yang ada di Anyer. Anggap saja itu bulan madu kalian sebagai pengantin baru." Sesudah berkata demikian, Bu Navisa melangkah pergi dengan mengapit lengan Hardin. "Sampai jumpa, Raisen. Jadilah anak baik," pamit Hardin melambaikan tangan kepada Tuan Raisen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN