Bi Minah sudah selesai mengobati lukaku. Sementara kulihat Tuan Raisen terduduk lemas di sofa. Ketika pandangannya bertemu denganku, aku berusaha tersenyum padanya. Namun Tuan Raisen malah menyembunyikan wajahnya di bahu Pak Jan. Tampaknya ia masih takut karena tanpa sengaja membuat kakiku terluka.
"Raisen mau mandi sekarang," rengeknya tiba-tiba kepada Pak Jan.
"Iya, Tuan."
Pak Jan membantu Tuan Raisen bangkit dari sofa. Sebelum mereka naik ke lantai dua, buru-buru aku mencegahnya. Meski sedikit terpincang-pincang, aku memaksakan diri untuk menyusul Tuan Raisen. Bagaimanapun aku tidak boleh melalaikan tugasku hanya karena luka yang sepele ini.
"Pak Jan, saya akan menyiapkan keperluan mandi Raisen."
"Jangan, kaki Nyonya sedang terluka. Biar saya saja yang mengurus keperluan Tuan hari ini."
Karena kakiku masih berdenyut nyeri, aku menuruti perkataan Pak Jan. Setapak demi setapak, aku menaiki tangga.
Pak Jan membawa Tuan Raisen masuk ke kamarnya, sedangkan aku berbelok ke kamarku sendiri. Aku juga merasa perlu membersihkan diri usai seharian mengalami serangkaian peristiwa yang mengejutkan.
Cukup lama aku berdiam di bawah shower untuk menenangkan pikiranku yang berkecamuk. Benar juga apa yang dikatakan Hardin. Dalam situasi yang rumit ini, aku tidak boleh terlalu tegang. Aku butuh waktu menyeimbangkan diri supaya bisa menyelesaikan tanggung jawabku setahun ke depan.
Merasa tubuhku telah segar kembali, aku pun keluar dari kamar untuk melihat keadaan Tuan Raisen. Namun aku justru berpapasan dengan Bi Minah di ambang pintu.
"Nyonya, saya bawakan makan malam untuk Anda. Anda tidak perlu turun ke bawah."
"Terima kasih, Bi. Saya akan makan di kamar Raisen," jawabku menerima nampan itu.
Usai Bi Minah pergi, aku berjalan ke kamar Tuan Raisen. Kuketuk pintu kamarnya seraya memegang nampan.
"Nyonya, silakan masuk. Tuan sedang makan," ujar Pak Jan membukakan pintu untukku.
Dari celah pintu, kulihat Tuan Raisen sibuk mengaduk-aduk makanannya. Namun saat ia mengetahui kedatanganku, Tuan Raisen langsung meletakkan sendoknya. Ia memundurkan tubuh menjauhi meja lipat lalu mengambil bantalnya yang berukuran besar. Dia menggunakan bantal itu untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat olehku.
Kutahan senyumku melihat kelakuan Tuan Raisen yang mirip anak kecil. Tidak, aku lupa bahwa dia memang seorang anak laki-laki dalam kapasitas pemikirannya saat ini. Namun di mataku keluguannya ini justru tampak menggemaskan.
"Tuan, kenapa berhenti makan? Mau saya suapi?" tanya Pak Jan khawatir.
"Nggak mau, takut Aya," jawabnya masih menggunakan bantal sebagai perlindungan.
"Pak Jan, saya yang akan membujuk Raisen. Bapak istirahat saja," ucapku sambil meletakkan nampan di atas nakas.
"Benar, Nyonya bisa? Tuan harus makan karena setelah ini waktunya minum obat."
Maklum saja bila Pak Jan meragukan kemampuanku. Aku hanyalah gadis muda yang rapuh dan kurang berpengalaman. Terlebih pergerakanku juga terbatas karena luka di kakiku belum mengering sepenuhnya.
"Percayakan pada saya, Pak. Raisen pasti makan dan minum obat," ujarku penuh percaya diri. Padahal di dalam batinku tidaklah setangguh ucapanku.
"Baik, Nyonya, saya permisi ke bawah. Kalau sudah selesai tekan saja tombol merah untuk memanggil saya."
Pak Jan menengok sekali lagi sebelum meninggalkan kamar besar ini.
Tuan Raisen masih bertahan pada posisinya. Mendengar Pak Jan menutup pintu, Tuan Raisen meringkukkan badannya seperti anak yang takut dimarahi orang tuanya.
Perlahan-lahan aku mendekati tempat tidurnya. Akan kubuat dia percaya bahwa aku ingin menjadi teman baiknya.
"Raisen, jangan takut. Aya nggak marah sama Raisen. Aya kesini mau menemani Raisen makan," tuturku dengan suara semanis mungkin.
"Aya bohong, pasti mau pukul Raisen," ujarnya tetap bersembunyi di balik bantal.
"Aya janji nggak akan pernah memukul Raisen. Ayo buka bantalnya lalu kita makan."
"Nggak mau!" jawabnya sambil menggeleng.
Karena Tuan Raisen masih keras kepala, aku pun naik ke atas tempat tidurnya. Dengan lembut, kusingkirkan bantal yang masih dipegangnya. Tatkala wajahnya tersingkap, Tuan Raisen masih memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani menatapku.
"Buka matanya, Raisen."
Tuan Raisen menggeleng pertanda ia tidak mau dekat-dekat denganku. Karena jam minum obat hampir lewat, aku harus segera mengambil tindakan. Dengan mengesampingkan rasa malu, aku menarik tubuh kekar Tuan Raisen lalu memeluknya. Inilah satu-satunya cara yang terpikirkan olehku untuk membuat Tuan Raisen percaya.
Beruntung Tuan Raisen tidak memberontak. Ia meletakkan dagunya di bahuku dan masuk ke dalam pelukanku. Secara refleks, aku mengelus punggungnya ke atas dan ke bawah agar ia semakin nyaman. Dan lagi-lagi rasa hangat ini menjalar hingga ke seluruh sudut hatiku.
"Yuk, Raisen kita makan," bujukku masih memeluknya.
"Aya...." panggilnya lirih.
"Aya sudah maafin Raisen? Apakah Aya sayang Raisen?" tanya Tuan Raisen lirih.
Aku yang tidak siap mendengar pertanyaan ini menjadi gelagapan. Sesungguhnya aku sadar pertanyaan Tuan Raisen sebatas sayang antar teman. Tidak ada makna cinta orang dewasa di dalamnya. Namun tetap saja lidahku terasa kelu untuk memberikan jawaban. Mungkin karena aku tidak terbiasa mengungkapkan rasa cinta kepada orang lain.
"Iya, sekarang kita makan."
Aku membantu Tuan Raisen mendekat ke meja lipat kemudian membantunya untuk makan.
"Aya makan juga dengan Raisen," ucap Tuan Raisen menyodorkan sendoknya padaku.
"Raisen makan dulu. Aya sudah ada makanan di meja."
"Raisen nggak habis makan sup ini," desak Tuan Raisen.
Tidak ingin mengecewakannya, aku pun mengambil sendok dari nampan. Saat menyendokkan sup ayam itu, aku terkejut karena rasanya sangat hambar di lidah. Seperti tidak ada gula maupun garam di dalamnya. Inikah sebabnya Tuan Raisen enggan menghabiskan makanannya?
Tanpa terasa mataku mulai berkaca-kaca. Terbayang di benakku bagaimana sulitnya menjalani hidup seperti Tuan Raisen. Makan makanan yang tidak berasa, minum obat pahit dan selalu terkurung di dalam rumah. Pantas saja dia sampai mengamuk untuk melampiaskan rasa frustasinya. Bila aku ada di posisinya, mungkin aku justru tidak akan sekuat Tuan Raisen. Betapapun banyaknya uang yang dimiliki Tuan Raisen sama sekali tidak bisa memberinya kebahagiaan.
"Aya, kenapa nangis? Makanannya nggak enak ya?" tanya Tuan Raisen membulatkan mata.
Kuusap air mataku sambil berusaha merekahkan senyum. Aku tidak ingin Tuan Raisen salah paham lalu bersedih lagi.
"Nggak, mata Aya kelilipan. Ayo, kita makan."
Aku pura-pura makan dengan lahap untuk membuatnya senang. Dan benar saja Tuan Raisen ikut bersemangat. Kami berdua pun berbagi makanan yang sama. Di sebelah sup, kulihat Pak Jan sudah menyiapkan potongan apel untuk penawar obat yang pahit.
"Raisen, sekarang minum obat ya," ucapku mengambilkan obat satu per satu.
Hingga tiba pada giliran obat terakhir, bibir Tuan Raisen mulai mengkerut.
"Raisen harus minum ini supaya besok kita bisa liburan ke pantai."
"Tapi pahit, Aya," sanggah Tuan Raisen cemas.
"Nanti Aya suapin apel supaya rasa pahitnya hilang."
Tanpa bersusah payah, aku berhasil membuat Tuan Raisen menelan obatnya. Begitu selesai langsung kusuapkan apel untuk mencegahnya memuntahkan obat itu.
"Raisen hebat," ucapku memujinya.
"Sekarang Raisen mau baca buku atau nonton TV?"
"Raisen mau nonton Batman."
Segera aku mencarikan channel televisi yang menayangkan film kartun. Namun tidak ada yang sesuai dengan permintaan Tuan Raisen.
"Nonton ini saja ya. Aya mau turun dulu mengembalikan piring. Setelah itu Aya akan mengemasi baju-baju Raisen untuk dibawa liburan besok. Raisen nggak takut kan sendiri di kamar?"
"Nggak, Raisen anak pemberani," jawabnya bangga.
Karena Tuan Raisen tidak rewel, aku pun dengan tenang meninggalkan kamarnya. Sambil membawa nampan berisi sisa makanan, aku menuruni anak tangga. Samar-samar kudengar suara seorang pria dari bawah sedang berbicara dengan Bi Minah. Apakah Bu Navisa dan Hardin sudah pulang?
Enggan menebak-nebak, aku tetap pada tujuan utamaku, yaitu mengembalikan peralatan makan ke dapur. Hingga saat tiba di ujung tangga, kulihat Bi Minah berbicara dengan seorang pria berjas kantoran.
"Itu dia, Nyonya Cahaya, Tuan Abimanyu," tunjuknya ke arahku.
Tak lama pria itu berjalan menghampiriku. Hatiku berdesir ketika bersitatap dengan iris mata abu-abunya. Paras tampan ini mengingatkanku pada seseorang. Benarkah dia Abimanyu yang sama? Pemuda yang pernah aku cintai di masa lalu?
Abimanyu melayangkan tatapan tajamnya sambil berdecih.
"Apa benar kamu istri keduanya Raisen? Jika iya artinya Navisa sudah gila! Bagaimana bisa dia menikahkan suaminya sendiri dengan perempuan lain?" tanyanya sarat dengan amarah.