Aku tertegun mendengar pertanyaan menohok yang ditujukan Abimanyu kepadaku. Ditambah sorot netranya yang setajam pedang seolah ingin mengoyakku sampai habis. Aku tak berkutik, tak mampu menjawab maupun bergerak. Sikapku selayaknya orang yang linglung atau dungu di hadapan Abimanyu. Yang jelas dia pasti beranggapan buruk padaku saat ini.
"Hey, apa kamu mendengarku?!" tanya Abimanyu menjetikkan jarinya untuk membuat kesadaranku kembali.
"I...iya, Tuan," jawabku gelagapan. Untung saja aku tidak sampai menjatuhkan nampan yang sedang kupegang.
"Jawab dulu pertanyaanku. Apa benar Navisa menikahkanmu dengan Raisen? Dan kamu juga bersedia menjadi istri kedua?"
Aku mengangguk dengan sedikit menundukkan kepala. Sungguh aku tak ingin bertatapan langsung dengan lelaki ini. Entah dia Abimanyu kakak kelasku atau Abimanyu yang lain, bagiku itu sudah tidak penting lagi.
"Benar, saya menikah dengan Tuan Raisen tadi pagi," jawabku jujur. Untuk apa lagi aku menutup-nutupi kenyataan. Toh cepat atau lambat sepupu Tuan Raisen ini pasti akan mengetahuinya.
Terdengar desahan panjang dari mulut Abimanyu. Ia membuang muka ke arah lain seakan alergi melihat keberadaanku.
"Keterlaluan," ucapnya pelan.
Entah siapa yang dimaksudnya, aku atau Bu Navisa. Tapi bila dipikir lagi, aku-lah yang patut disalahkan dalam hal ini. Bahkan aku sangat pantas mendapat gelar sebagai perebut suami orang. Martabatku sebagai wanita telah berada di titik terendah karena aku bersedia menjadi istri bayaran demi mendapatkan uang.
"Nyonya, biar saya saja yang bawa nampannya ke dapur. Nyonya kembali saja ke atas. Nanti kaki Nyonya sakit kalau naik turun tangga," ujar Bi Minah seraya mengambil nampan dari tanganku. Aku tidak menolak bantuannya karena pada dasarnya aku ingin kembali ke kamar Tuan Raisen.
Mendengar ucapan Bi Minah, Abimanyu secara refleks mengalihkan tatapan ke plester yang terdapat di kakiku. Namun itu hanya sebentar saja. Setelahnya ia kembali memandangku dengan tatapan menghakimi.
Aku masih membeku, bingung apa yang harus kukatakan selanjutnya pada Abimanyu. Daripada tidak nyaman begini lebih baik aku kembali ke lantai dua.
Aku pun membalikkan tubuh, hendak menapaki anak tangga. Namun tiba-tiba aku merasakan lenganku ditahan seseorang.
"Tunggu, aku belum selesai bicara," terdengar suara bass yang menyentakku. Aku menoleh dan melihat Abimanyu memegang lenganku.
"Apa ini kebiasaanmu, lari dari masalah?" tuduhnya begitu saja. Merasa disudutkan, spontan aku membela diri.
"Bukan, saya kira Tuan sudah tidak ada kepentingan dengan saya."
"Pintar sekali mencari alasan. Bukankah namamu, Cahaya?" tanyanya sinis.
"Iya, Tuan."
"Dengarkan aku, Cahaya. Aku tidak tahu apa yang diperintahkan Navisa padamu dan imbalan apa yang kamu terima darinya. Tapi aku akan selalu mengawasimu. Aku tidak akan membiarkan kamu atau Navisa memperdaya Raisen yang sedang lemah dan hilang ingatan," ancamnya tidak main-main. Tersirat jelas bahwa ia sangat ingin melindungi Tuan Raisen.
Alih-alih merasa takut, aku justru senang dengan sikap Abimanyu. Paling tidak masih ada keluarga yang peduli dan menyayangi Tuan Raisen. Dan aku bisa merasakan nada ketulusan pada ucapannya.
"Ikut aku ke atas," ucap Abimanyu memberikan perintah. Dengan patuhnya, aku langsung saja mengikutinya tanpa membantah. Mungkin karena aku merasa sebagai pesuruh di rumah ini, makanya aku selalu menuruti perintah orang lain.
Tiba di lantai dua, Abimanyu membuka pintu kamar Tuan Raisen tanpa mengetuk. Barangkali karena ia sudah terbiasa mengunjungi saudaranya tanpa ada batasan waktu.
"Raisen, bagaimana keadaanmu hari ini?" sapanya langsung duduk di tepi tempat tidur.
Tuan Raisen merespon dengan senyuman yang merekah.
"Abi, kapan kita main game balap mobil?" tanya Tuan Raisen senang.
"Nanti hari Minggu aku temenin kamu ya, ini sudah malam. Aku datang untuk menunjukkan sesuatu."
Kulihat Abimanyu mengeluarkan benda pipih berwarna silver dari jasnya. Aku mengenali benda itu sebagai iPhone keluaran terbaru. Ia menyerahkannya tanpa ragu kepada Tuan Raisen.
"Raisen, pakai ini untuk menghubungiku jika kamu membutuhkan bantuanku. Dan kamu juga bisa membuka email lewat sini. Email itu yang bentuknya mirip amplop, kamu masih ingat kan yang kuajarkan? Setiap hari aku akan mengirimkan laporan proyek perumahan Magnolia dan Arkansa lewat email," jelas Abimanyu panjang lebar.
Tuan Raisen manggut-manggut seakan memahami apa yang dijelaskan Abimanyu.
"Ow, rumah yang bertingkat tiga dan banyak kacanya itu ya?" tanyanya polos.
"Iya, betul."
Melihat kedua lelaki itu berbincang di dalam kamar, aku tidak berani masuk. Alhasil aku hanya berdiri kikuk di ambang pintu dengan perasaan serba salah. Aku sadar diri bahwa seharusnya aku tidak layak berada di tempat ini.
"Aya, kesini. Tadi Aya bilang mau menyusun baju Raisen di koper," panggil Tuan Raisen membuyarkan lamunanku.
Abimanyu melirik kepadaku lewat ekor matanya. Namun sejurus kemudian ia kembali mengarahkan atensi kepada Tuan Raisen.
"Raisen kenapa bajumu dimasukkan ke koper? Kalian mau kemana?"
"Liburan ke pantai Anyer bersama Aya. Abi mau ikut juga?"
Ekspresi terkejut tampak jelas di wajah Abimanyu. Aku kira dia akan marah, tapi dugaanku salah. Ia hanya menghembuskan napas pelan lalu memegang pundak Raisen.
"Aku banyak pekerjaan di kantor. Bergembiralah disana, Raisen. Kamu bisa membangun istana pasir dan menikmati udara pantai yang segar. Sekarang aku pulang dulu, besok aku akan menelponmu."
Abimanyu pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Namun di luar dugaan, dia berbalik untuk memperingatkan aku.
"Jangan coba-coba memanfaatkan kondisi Raisen untuk mengambil keuntungan. Kalau dia sampai terluka, aku akan menyalahkanmu."
Dia menatapku penuh curiga seperti tadi. Namun pada satu titik kulihat sinar matanya mendadak berubah.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Oh, tidak, apakah dia memikirkan hal yang sama denganku? Ah, sudahlah, lebih baik aku berpura-pura saja tidak mengenalnya. Lagipula seandainya kami dulu satu sekolah lalu apa bedanya bagiku? Dia tetap menganggapku sebagai wanita berbahaya yang mengincar harta kekayaan Tuan Raisen.
"Mungkin Anda salah orang, Tuan," jawabku berbohong.
Mendengar jawaban dariku, Abimanyu hanya berlalu tanpa menoleh. Cepat-cepat aku menutup pintu. Aku berharap dia tidak mampir lagi ke rumah ini walaupun itu terdengar sangat mustahil.
Daripada memikirkan kejadian barusan, aku segera mengemasi sebagian baju Tuan Raisen. Aku sempat menanyakan baju mana yang ingin dia pakai, tapi Tuan Raisen bilang terserah padaku saja.
"Aya, Raisen ngantuk," ucapnya lantas menarik selimut sebatas dagu.
"Kalau begitu Raisen tidur aja. Besok pagi Aya bangunkan saat kita akan berangkat ke pantai."
Raisen memejamkan matanya tanpa menyahutku lagi. Kututup koper yang sudah selesai aku isi dengan baju-baju Tuan Raisen. Kemudian aku mendekat ke sisi tempat tidur. Aku ingin memastikan Tuan Raisen sudah tertidur nyenyak sebelum aku meninggalkannya.
Kulihat matanya terkatup rapat dengan napas yang teratur. Artinya dia benar-benar sudah terlelap dalam mimpi. Dalam posisi tidur begini, Tuan Raisen semakin tampan saja. Rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan bibir tipis kemerahan.
Segera kutepak dahiku sendiri dengan keras lantas pergi menjauh. Aku rasa aku sudah gila karena mengagumi suami orang. Ya memang dia suamiku juga tapi itu hanyalah sebatas status. Aku tidak boleh berpikir macam-macam karena setelah perjanjian ini selesai aku harus pergi dari sisinya. Tuan Raisen adalah milik Bu Navisa dan selamanya akan tetap begitu.
Aku pun hendak keluar dari pintu, tapi langkahku terhenti karena mendengar derap sepatu dua orang. Disusul kemudian suara percakapan lirih di antara keduanya.
"Pulanglah, besok kita langsung bertemu di bandara," bisik manja seorang wanita yang akrab di telingaku.
"Aku ingin menginap disini, kenapa tidak boleh?" balas suara sang pria.
"Jangan, aku tidak mau ada desas-desus yang beredar tentang kita."
"Okey, aku akan pulang, tapi berikan salam perpisahan dulu."
Setelah itu keadaan di luar hening sesaat. Entah salah dengar atau tidak, seperti ada desisan-desisan kecil dari balik pintu. Aku menutup mulutku sendiri dengan perasaan miris. Benarkah sedang terjadi sesuatu yang terlarang di luar sana?
Aku berusaha diam, tidak membuat pergerakan yang dapat menimbulkan kecurigaan. Jangan sampai mereka tahu aku sedang mendengarkan semuanya. Namun di tengah situasi tidak mengenakkan ini, kurasakan vibrasi yang berulang. Aku lantas bergeser pelan untuk mengeluarkan ponsel yang kusimpan di dalam saku.
Firasat buruk menyeruak begitu saja tatkala nama Tante Hani muncul di layar ponsel. Apakah terjadi hal yang buruk pada Mama? Belum lagi aku menerima telpon tersebut, aku dikejutkan dengan suara teriakan Tuan Raisen.
"Nggak mau! Pergi, arrgggh, sakit!!!" jeritnya histeris.