Bab 10 Temani Aku Tidur

1207 Kata
Dalam posisi yang serba sulit ini, aku terjebak dalam dilema. Apakah aku harus menerima telpon dari Tante Hani ataukah menolong Tuan Raisen dulu? "Sakit!!!" pekik Tuan Raisen semakin kencang. Aku semakin tersudut mendengar teriakannya. Apalagi ia terus bergerak gelisah sambil memegangi kepalanya sendiri. Bahkan kakinya mulai menendang kesana kemari hingga selimut yang membungkus tubuhnya menjuntai ke bawah. Di sisi lain, Tante Hani juga masih terus menelpon. Aku tidak boleh membiarkan ini lebih lama lagi. Tuan Raisen harus ditolong supaya kondisinya tidak bertambah buruk. Setelah dia cukup tenang, aku akan menelpon balik Tante Hani. Sambil memasukkan ponsel ke dalam saku, aku menghampiri Tuan Raisen. "Raisen, tenanglah. Apanya yang sakit?" ujarku menyentuh tangannya. Namun dia malah mengibaskan tanganku. "Pergi!!! Kamu orang jahat!" "Raisen, ini aku Aya. Aku bukan orang jahat." Masih dengan mata terpejam, Tuan Raisen tidak mau mendengarkan aku. Karena itu kuputuskan melakukan sesuatu yang bisa membuatnya terjaga. Dengan mengenyahkan rasa ragu, aku beringsut naik ke tempat tidur. Kupeluk tubuh Tuan Raisen sekuat tenaga untuk membuatnya berhenti bergerak. "Berhenti, Raisen. Tenanglah." Tuan Raisen masih memberontak, membuat lenganku hampir saja terlepas dari tubuhnya. Kakinya juga menendang tepat mengenai lukaku. Aku meringis menahan sakit tapi tetap saja aku berusaha memeluknya. Mengingat dia kesakitan di bagian kepala, aku pun berinisiatif mengusap-usap rambutnya. Dan benar saja tak berselang lama, Tuan Raisen menghentikan gerakannya. Melihat dia mulai tenang, aku melanjutkan dengan memberikan pijatan ringan. Semoga saja tindakanku ini bisa meringankan rasa nyeri di kepalanya. Sekitar lima menit aku bertahan dalam posisi yang sama sampai kudengar deru napas Tuan Raisen yang teratur. Pertanda ia telah tertidur lelap seperti semula. Suhu tubuhnya juga berangsur normal. Perlahan kulepaskan tanganku dan bergeser menjauh dari Tuan Raisen. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menelpon Tante Hani. Hatiku akan terus gelisah bila tidak menanyakan keadaan Ibu sekarang juga. Aku kembali meraih ponselku dari dalam saku. Sebenarnya aku ingin menelpon di kamarku sendiri tapi aku takut jika ketahuan oleh pasangan yang ada di balik pintu. Dengan was-was, aku menunggu panggilanku tersambung. Ternyata Tante Hani langsung mengangkatnya. "Aya, kamu kemana saja? Tante menelponmu sampai sepuluh kali tapi tidak diangkat." "Maaf, Tante, tadi aku sedang mengerjakan tugas," jawabku ambigu. "Malam-malam begini bosmu masih menyuruhmu melakukan pekerjaan? Harusnya kamu kan sudah istirahat," gerutu Tante Hani. "Tidak, ini kemauanku sendiri, Tante." "Aya, mamamu terbangun lalu menangis. Dia bilang kangen kamu, makanya Tante menelponmu." Serasa ada yang nyeri dalam rongga dadaku mendengar berita ini. Belum genap sehari kutinggalkan, Ibu sudah merindukan aku. Lalu bagaimana dia akan menjalani hari-hari ke depannya tanpa aku? "Tante, tolong dekatkan telponnya ke Mama. Aku mau bicara." "Tunggu, Tante speaker ya." Aku menunggu sejenak sebelum Tante Hani mengaktifkan speaker. Ingin sekali aku pergi dari rumah ini dan berlari ke rumah sakit untuk menemani mama. Sayang sekali itu hanyalah sebatas khayalanku semata. "Ma, ini Aya. Kenapa Mama sedih?" "Ka...ngen, Aya, Mim...pi bu...," ucap Mama terbata-bata. "Mamamu bilang dia bermimpi buruk," jelas Tante Hani bertindak sebagai penerjemah. Mimpi buruk? Mungkinkah mama mendapat firasat buruk tentangku yang menjadi istri kedua Tuan Raisen? Ya, walaupun aku tidak mengatakan apapun, ikatan batin antara ibu dan anak memang terlampau kuat. "Ma, Aya baik-baik saja disini. Itu cuma mimpi." "Kapan...." ucapan Mama terputus. Tepat saat itu, aku mendengar sebuah suara berat memanggilku. "Kesini, Aya!" Aku terkejut setengah mati melihat Tuan Raisen sudah membuka matanya. Ia duduk menyandar pada kepala ranjang sambil memperhatikan aku. Padahal tadi ia tertidur nyenyak sekali. Dan lagi kenapa dia malah memanggilku di saat seperti ini? Bagaimana jika Mama atau Tante Hani sampai mendengarnya? "Aya, suara siapa itu? Kok seperti suara laki-laki?" tanya Tante Hani dari balik telpon. "Cepat, Aya, Raisen takut hantu," rajuk Tuan Raisen kembali memanggilku. "Ada pria yang sedang bersamamu, Aya?" tanya Tante Hani untuk kedua kalinya. Aku panik bukan kepalang. Segera aku mendekati Tuan Raisen dan menempelkan ujung jari telunjukku ke bibirnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala untuk memperingatkannya agar berhenti bicara. "Ini suara televisi, Tante. Aku sedang nonton drama," jawabku mencari alasan. Rasanya aku ingin menggigit lidahku sendiri karena telah membohongi Tante Hani. Padahal dia dengan rela hati bersedia menjaga mama dan menolongku keluar dari kesulitan. Tapi aku malah membalas kebaikannya dengan tipu daya. Betapa hinanya kelakuanku ini. "Oh, Tante kira kamu bersama seorang pria. Mamamu tadi bertanya kapan kamu menjenguknya." "Ma, Aya belum bisa ke rumah sakit. Tunggu Aya libur ya. Sekarang Mama istirahat supaya cepat sembuh." "Mamamu bilang iya," jawab Tante Hani menjadi juru bicara. Tuan Raisen mulai tidak sabar. Ia menurunkan jariku sambil melekungkan bibir. Melihat gelagatnya, aku harus bergegas mengakhiri telpon ini atau semuanya akan menjadi runyam. "Tante, aku tutup dulu telponnya. Sekali lagi terima kasih, Tante. Jangan segan menghubungi aku kalau mama mencariku lagi." "Iya, selamat istirahat, Aya." Begitu sambungan telpon mati, aku langsung menatap Tuan Raisen. "Raisen, kenapa bangun? Ini masih tengah malam." "Aya telpon siapa?" tanyanya tiba-tiba. Entah mengapa aku melihat sorot matanya berubah tatkala melontarkan pertanyaan itu. Bukan seperti tatapan seorang anak kecil yang biasa kulihat. "Itu Tante Hani dan mamanya Aya. Mama Aya sedang dirawat di rumah sakit," jelasku apa adanya. Aku merasa lebih bebas berbicara dengan Tuan Raisen yang tulus dan lugu seperti anak kecil. "Mama Aya sakit apa?" lanjutnya lagi. "Stroke." "Penyakit apa itu?" tanyanya tidak mengerti. "Seperti kamu terkena serangan secara tiba-tiba yang membuat tubuhmu tidak bisa bergerak," terangku dengan bahasa sederhana. "Lalu Raisen kenapa tadi teriak-teriak?" balasku balik bertanya. "Raisen mimpi ada hantu mau mencekik leher Raisen di dalam mobil. Lalu hantu itu berubah menjadi...." Aku menaikkan alis karena Raisen menjeda ceritanya. "Berubah menjadi siapa?" tanyaku penasaran. "Raisen ngantuk," ucapnya memutus pembicaraan. Ia pun merebahkan diri sambil menghadap ke arahku. Sesungguhnya aku masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya tapi aku tidak boleh mendesaknya terlalu jauh. Kuselimuti tubuh Tuan Raisen lalu aku hendak turun dari tempat tidur. Namun ia menarik lenganku dengan keras hingga aku jatuh terbaring di sampingnya. "Temani Raisen tidur disini," ucapnya terdengar seperti perintah. "Kalau ada Aya nanti tidur Raisen terganggu. Raisen tidak bisa bergerak dengan leluasa." Tuan Raisen tidak lantas menanggapi alasanku. Namun ia malah menatapku sangat dalam, membuat jantungku berdebar-debar dibuatnya. "Jangan membantahku, Aya. Aku mau kamu memijatku seperti tadi. Kepalaku jadi terasa ringan," tegasnya tak ingin dibantah. Baru kali ini aku mendengar gaya bicara Tuan Raisen yang berbeda dari biasanya. Apalagi dia mengetahui apa saja yang kulakukan meskipun dalam kondisi setengah sadar. "Iya, Raisen," jawabku menuruti kemauannya. Kugerakkan tangan perlahan untuk memberikan pijatan ringan. Nampaknya Tuan Raisen menyukai sentuhan tanganku hingga ia tertidur pulas. Karena mataku juga terasa berat, tak terasa aku pun menyusulnya ke alam mimpi. *** Aku menggeliat sambil merentangkan kedua tanganku yang pegal. Ada seberkas cahaya yang menyilaukan hingga aku terpaksa membuka mata. "Astaga, jam berapa ini?" gumamku menepuk dahi. Harusnya aku bersiap karena Bu Navisa akan berangkat pagi ini. Aku juga harus mengantar dan menemani Tuan Raisen berlibur ke pantai. Ya, aku baru ingat bahwa semalam aku tidur di kamar Tuan Raisen. Tanganku pun meraba-raba ke sisi kasur, mencari keberadaan Tuan Raisen. Namun kasur di sebelahku kosong melompong. Spontan aku terbangun karena menyadari Tuan Raisen tidak ada. "Raisen?!" Aku mengedarkan pandang ke seluruh sudut kamar. Tuan Raisen kakinya pincang, mana mungkin ia bisa jalan sendiri tanpa bantuanku. Dan semalan pintu kamar juga terkunci. Mustahil bila Pak Jan atau Bi Minah yang masuk ke dalam untuk membantu Tuan Raisen. Aku jadi semakin panik memikirkan hal ini. "Raisen, dimana kamu?" panggilku kalut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN