Ban - ku sudah selesai ditambal. Ini sudah jam tiga sore. Lumayan lama juga aku nongkrong di sini dengan Theo. Chico sudah pergi duluan tadi karena harus mengurus sesuatu. Ia memang tergabung dalam banyak organisasi di sekolah, jadi wajar kalau sibuk. Bisa menyempatkan waktu untuk datang ke sini saja sudah merupakan sebuah kehormatan untukku. Bayangkan saja, gebetanku yang tidak standar itu secara tiba-tiba, tidak direncanakan, mau - mau saja diminta ke sini secara cuma - cuma. Awalnya kukira pertemuan ini akan menjadi pertemuan garing di mana aku hanya menunduk malu, lalu Chico ill - feel padaku karena terlalu banyak melakukan sikap bodoh, dan Theo akan menjadi dirinya sendiri seperti biasa, diam tanpa kata. Tapi semuanya tidak begitu. Aku memang banyak melakukan sikap bodoh,

