Aku mengambil sebutir lagi. Hal yang sama terjadi. Kali ini aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Aku harus berhasil. Pertama kupukulkan, tak terjadi apapun pada cangkang telurnya, tetap utuh. Pukulan kedua agak keras dan cangkang telur terbuka sedikit. Aku pun tersenyum penuh kemenangan, lalu segera membelahnya di atas baskom. Berhasil. Aku mengambil alat pengocok adonan milik Bunda. Dan segera mengocok adonan tersayangku dengan penuh perasaan. "Kamu lagi ngapain, sih, Kak?" Bunda yang sedang menikmati masker ketimun sambil nonton tivi, sedikit melirik ke arahku yang sedang sibuk di dapur. "Eksperimen, Bun." Kulihat ekspresi wajah Bunda berubah. Seperti sedang curiga. "Ya udah. Asal jangan ledakin dapur aja." "Ya elah, Bunda lebay banget, sih. Gini - gin

