Di antara sekian banyak orang asing di sini, aku seperti menemukan seorang saudara jauh yang sudah lama tak bertemu. Bahagia sekali rasanya. Teman sekelasku, Theo, kau baru saja menyelamatkanku dari mengenaskannya seorang remaja putri yang nongkrong dan makan di café sendirian. Begitu Theo menoleh, aku segera menunjuk bangku di hadapanku, tentu saja agar ia duduk di sana. Dan aku sangat senang karena Theo langsung setuju untuk bergabung bersamaku. "Lo sendirian aja, yang lain mana?" tanyanya. "Nggak ada yang ikut, gue sendirian. Ini tadi ceritanya gue barusan kena apes. Ban gue tiba-tiba bocor gitu. Tuh lagi antre ditambal di depan." "Oh, pantesan. Biasanya ke mana - mana lo berempat sama mereka." Aku menaikkan sebelah alisku. Heran karena Theo perhatian juga ter

