Udara masih dingin ketika Senja membuka pintu rumah kosnya. Hawa subuh menyelimuti tubuhnya, membawa aroma embun yang bercampur dengan bau tanah yang lembap. Jaket tipis yang dikenakannya terasa kurang cukup untuk menahan udara pagi, tapi ia tak terlalu peduli. Di sebelahnya, Soni menguap kecil, masih setengah mengantuk. "Udah siap, Ja?" tanyanya, memastikan. Senja mengangguk. Tas ranselnya sudah ia gendong di punggung, sementara koper kecil yang berisi pakaian lebaran dan oleh-oleh untuk keluarga di Bandung ia seret di belakangnya. Mereka berjalan keluar menuju jalan raya, di mana bus antar-kota yang akan membawa mereka ke Bandung sudah menunggu. Hari ini, mereka tidak memilih naik kereta seperti kebanyakan orang, bukan karena tidak ingin, tapi karena tiketnya sudah habis jauh sebelum

