Sepi. Rumah itu kosong. Berapa kali pun Fabian melewati rumah itu, hasilnya tetap sama. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Sunyi, dingin, dan tak bernyawa. Ia sudah mendengar kabar dari para tetangga bahwa Adel dan keluarga besarnya mudik ke Kuala Lumpur untuk Lebaran kali ini. Tidak heran rumah itu kosong. Semua orang pergi, meninggalkan komplek yang kini terasa lebih lengang dari biasanya. Sementara ia? Fabian hanya bisa menghela napas, melangkah menuju rumah kontrakan yang kini ia tempati. Tidak jauh dari rumah ayahnya, masih dalam komplek yang sama. Ironis memang—tinggal sedekat ini, tapi merasa sejauh ini. Ia sudah beberapa bulan tidak berbicara dengan ayahnya sejak pertengkaran besar itu. Pertengkaran yang merenggut hubungan mereka sebagai ayah dan anak. Semuanya bermula dari satu

