Part 4. Terulang Kembali

1079 Kata
Pikiran Alex saat itu benar-benar kacau. Hingga dia memutuskan untuk pergi ke apartemen miliknya, hanya untuk sekadar mabuk. "Hentikan, Tuan! Anda sudah sangat banyak minum," ucap Joy mengingatkan bosnya itu. "Biarkan saja! Saya ingin menghilangkan beban pikiran ini sejenak," jawab Alex sambil terus menenggak minumannya. Semenjak perceraian dengan mantan istrinya, Alex berubah menjadi sosok laki-laki yang gak percaya diri. Dia selalu melampiaskannya ke minuman. "Antarkan saya pulang sekarang!" titah Alex, setelah dirinya puas melampiaskan sejenak kepusingan yang dia rasakan. Joy terpaksa harus memapah bosnya yang sudah jalan sempoyongan. Alex sudah terlihat mabuk. Sejak tadi mulutnya terus meracau, mengungkap rasa kecewanya pada sang mami. Mereka sudah sampai di Mansion. Suasana Mansion saat itu sudah sepi. Naura pun sudah tertidur nyenyak. Dia ketiduran, karena terlalu banyak menangis. Joy memapah Alex hingga ke depan pintu kamarnya. "Hampir saja aku lupa, kalau Tuan Alex sekarang sudah menikah dengan Naura," cicit Joy. Dia terlihat sedikit terkekeh, menertawakan kebodohannya, yang hampir saja ingin langsung membuka pintu kamar bosnya itu. Suara ketukan pintu terdengar, membuat Naura harus terbangun dari tidurnya. Dengan mata masih mengantuk, dia beranjak turun dari sofa, dan membuka pintu kamarnya. Sekejap Joy sempat terpanah melihat kecantikan Naura. "Ada apa dengan Tuan Alex?" tanya Naura, menyadarkan lamunan Joy. "Seperti biasanya. Dia minum terlalu banyak. Maaf, saya harus membaringkannya dia ranjang. Saya yakin Nyonya gak akan kuat memapahnya sendiri," ucap Joy dan Naura akhirnya memperbolehkan dia masuk memapah suaminya ke ranjang. Setelah tugasnya selesai, Joy pamit kepada Naura. Kini hanya ada Naura dan Alex di kamar mereka. Naura sempat menatap Alex, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. "Argh ...!" Naura dibuat terkejut, saat Alex tiba-tiba saja menarik tangannya. Membuat tubuh Naura terjatuh di tubuh Alex. Alex langsung membungkam mulut Naura dengan bibirnya. Dia mencium bibir Naura begitu b*******h. Naura sempat ingin menghentikannya. Namun akhirnya, dia sadar. Kalau dirinya adalah istri dari Alex. Terlebih mata Alex begitu merah menakutkan, saat dia mengungkungnya. Alex seperti orang yang kesetanan, dia langsung merobek secara paksa pakaian yang Naura kenakan saat itu. Dia melakukannya kembali. Enggak ada kenikmatan yang dirasakan Naura. Lagi-lagi Alex melakukan tanpa perasaan. "Ah, Sayang. Kamu sangat nikmat sekali. Sudah lama aku merindukanmu. Mengapa kamu pergi meninggalkanku," racau Alex. Air mata Naura menetes satu persatu, bersamaan dengan rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Naura akhirnya tahu, kalau laki-laki di hadapannya masih memiliki perasaan kepada mantan istrinya. Alex semakin bersemangat menggoyangkan pinggulnya, sampai akhirnya dia mengerang mendapatkan pelepasan. Setelah itu, Alex langsung ambruk di atas tubuh Naura. Naura spontan langsung mendorong tubuh majikannya itu, hingga akhirnya Alex terjatuh. "Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Untung saja Tuan Alex gak sadar. Jika tidak, habislah aku," kata Naura dalam hati. Dengan sekuat tenaga Naura membantu Alex untuk bangkit, dan memapahnya ke ranjang kembali. Setelah itu, barulah dia ke kamar mandi. Naura menatap dirinya di cermin yang berada di kamar mandi. Penampilannya saat itu sudah acak-acakan. Area sensitifnya pun masih terasa nyeri. Meskipun ini bukan yang pertama kali. "Tubuhku sudah kotor, dan bahkan aku rela menjual tubuhku demi uang," ucap Naura diiringi isak tangis. Dia sampai menangis sesenggukan. Pagi hari Alex terbangun dari tidurnya. Dia beranjak bangkit duduk, dan menatap sekeliling kamarnya. Namun, dia gak melihat sosok Naura. "Di mana wanita itu? Apa kami melakukannya kembali? Mengapa tubuhku polos seperti ini?" Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Namun, lagi-lagi dia gak mengingatnya lagi. Dia pun akhirnya memilih untuk mandi, agar tubuhnya terasa segar. Naura masuk ke kamar. Dia hendak membangunkan dan memberitahu Alex, kalau sarapan sudah siap. Namun, dia gak melihat Alex di kamarnya. Enggak lama kemudian, Alex keluar dari kamar mandi. Dia hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Hal itu membuat Naura merasa canggung, hingga akhirnya dia memilih untuk memalingkan wajahnya. Alex bersikap dingin pada Naura, seperti gak terjadi apa-apa dengannya. Dia masih saja bersikap ketus kepada Naura. Naura pun gak mempedulikannya. Baginya saat ini adalah dia bisa mendapatkan uang itu dari Alex. Pihak rumah sakit, sudah menghubungi dirinya untuk segera melakukan pembayaran. Agar dokter bisa segera melakukan tindakan. Jika tidak, nyawa mamanya gak akan bertahan. "Mau apalagi kamu di sini? Setelah ini, saya akan turun," ucap Alex ketus. Naura menggigit bibir bawahnya. Dia tampak bingung, memikirkan bagaimana caranya dia bisa mengatakan kepada Alex kalau dia membutuhkan uang itu segera. "Maaf, Tuan. Apa saya sudah bisa meminta uang itu? Mama saya kritis. Pihak rumah sakit sudah menghubungi saya, untuk segera melunasi seluruh biaya rumah sakit." Naura mengungkapnya. "Saya akan memberikan uang kamu sebagian dulu. Setelah kamu melahirkan anak saya, baru saya akan melunasinya," jawab Alex tegas. Naura setuju. Paling tidak, dia bisa membayar pengobatan mamanya. Setelah mendapatkan uang itu, Naura berencana ingin ke rumah sakit. Dia pun sudah meminta izin kepada Alex, dan Alex menyetujuinya. "Sekarang, kamu layani saya dulu! Saya menginginkan kamu," pinta Alex membuat Naura menelan salivanya. Naura spontan menutup matanya, saat Alex melempar handuknya begitu saja. Menunjukkan miliknya yang sudah berdiri tegak. "Mengapa harus malu? Kita sudah melakukannya," ucap Alex sambil menggendong tubuh Naura, dan melemparnya dengan kasar ke ranjang. Alex merangkak naik ke ranjang, dan mengungkung tubuh Naura. Dia juga mencium bibir Naura dengan sangat rakus. Pengaruh sisa alkohol di tubuhnya, membuat hasratnya memuncak. "Argh, sakit!" Alex gak peduli dengan apa yang dirasakan wanita di bawahnya. Baginya, dia mendapatkan kepuasan, dan ingin segera membuat Naura hamil anaknya. "Hapus air matamu! Jangan buat mood saya menjadi buruk! Tubuh dan rahimmu sudah saya beli." Alex berkata sambil terus menggoyangkan pinggulnya tanpa ampun. Alex semakin mempercepat permainannya, dia sudah gak tahan lagi. Hingga akhirnya, Alex mengerang menyemburkan benihnya kembali di rahim Naura. Setelah dirinya merasa puas, Alex langsung memakai celana boxernya. Kemudian berjalan ke brankas miliknya. "Ini uang untukmu," kata Alex. Alex memperlakukan Naura seperti seorang jalang. Dia lemparkan uang itu ke lantai, untuk Naura ambil. Alex benar-benar menghina Naura. "Jika bukan demi Mama. Naura pasti gak akan sekuat ini," kata Naura dalam hati. Dia tutupi tubuhnya dengan selimut. Setelah itu, dia langsung memunguti semua uang yang Alex lempar untuknya. Uang itu nominalnya sangat banyak. "Kamu gak boleh sedih, Na! Kamu harus bisa melewati semuanya. Semoga Mama bisa segera sehat kembali." Enggak ada sikap manis yang dilakukan Alex padanya, seperti layaknya pasangan pengantin baru lainnya. Dia bahkan gak menawarkan Naura makan bersamanya. Sebenarnya, perut Naura terasa sangat lapar. Tapi, dia teringat akan ucapan dokter tadi yang meminta dia untuk segera datang ke rumah sakit. "Tuan, saya pamit berangkat sekarang," izin Naura. Alex gak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Dengan langkah tertatih, Naura pergi meninggalkan Mansion menggunakan ojek online. Area sensitifnya masih terasa nyeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN