Part 5. Pergi

1128 Kata
Kedatangan dia ke rumah sakit terlambat. Andai dia tak melayani nafsu Alex dahulu, pasti dia akan bisa bertemu mamanya dahulu. "Mama, kenapa Mama tinggalkan Naura? Padahal Naura sudah mendapatkan uang untuk biaya operasi Mama. Sekarang, Naura sudah punya uang banyak," ucap Naura diiringi isak tangis. Tangannya terus menggenggam tangan sang mama erat. Air matanya semakin mengalir deras. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk di hidupnya. Perjuangannya mendapatkan uang untuk mamanya, seakan sia-sia. Naura menatap wajah sang mama yang sudah terlihat pucat, dengan tubuhnya yang terbujur kaku. Naura terlihat lesu gak bersemangat. Enggak ada lagi yang membuat dia bersemangat. Kini, dia hidup sebatang kara. Mama tercintanya sudah pergi meninggalkan dia untuk selamanya. "Semoga Mama tenang di alam sana. Naura sayang Mama. Maafkan Naura, yang gak bisa merawat Mama selama Mama sakit. Bahkan Naura gak ada disaat Mama menghembuskan napas terakhir Mama. Andai tadi Naura bisa datang lebih cepat, pasti nyawa Mama masih bisa tertolong," ucapnya lirih. "Aku harus segera mengurus pemakaman mama. Setelah itu, aku harus segera pergi meninggalkan kota ini. Enggak ada gunanya juga, aku bertahan dengan pernikahan semu ini. Maminya gak menyukai aku. Aku gak sepadan dengannya. Lagipula, dia pun gak mencintai aku." Naura langsung menghapus air matanya. Dia mencoba menguatkan dirinya, untuk menjadi wanita yang kuat. Dengan uang yang dia miliki, Naura akan pergi yang jauh dari hidup Alex. Baginya, gak mengapa dia gak mendapatkan bayaran sepenuhnya. Uang yang diberikan Alex tadi pun sudah sangat banyak. Pemakaman sang mama sudah selesai. Kini saatnya dia pergi meninggalkan kota tempat dia tinggal. Naura sudah dalam perjalanan menuju kota kecil. Dia akan memulai kehidupan baru. Alex baru saja sampai di Mansion. Dia langsung mencari keberadaan Naura. Namun sayangnya, dia gak menemukan Naura. Sisilia mengatakan, kalau Naura belum kembali sejak tadi pagi dia pergi. Tentu saja hal itu membuat Alex merasa kesal. Hingga akhirnya dia mencoba menghubungi Naura. "Sial, ponselnya gak aktif! Berani-beraninya dia berniat kabur dariku," umpat Alex. Alex langsung menghubungi Joy, menyuruh mencari keberadaan Naura. Meskipun dia gak mencintai Naura, dia gak ingin Naura pergi meninggalkan dia sebelum kontrak pernikahan mereka selesai. Bisa saja saat ini benihnya sudah berkembang di rahim Naura. Naura mencoba menghilangkan jejak. Berharap dia gak bertemu Alex kembali. Ucapan ibu mertuanya, masih terus terngiang di pikirannya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam, akhirnya Naura sampai di sebuah kota kecil. Udara di kota itu masih terasa sejuk. "Percaya diri sekali kamu, Naura. Tuan Alex gak akan pernah mencari kamu," ucapnya tersenyum getir. Naura memilih kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dia pun hanya menyewa sebuah rumah berukuran kecil. Dengan uang yang dia miliki, dia hendak membuka usaha kecil-kecilan untuk bertahan hidup. Tubuhnya sudah sangat lelah, Naura memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di ranjang kecil yang ada di rumah itu. Dia menyewa rumah beserta perabot tua milik pemilik rumah itu. Berbeda halnya dengan Naura yang sudah tertidur nyenyak, Alex justru terlihat gelisah. "Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan berita?" tanya Alex kepada sang asisten di panggilan telepon. Sayangnya, orang suruhan Joy belum berhasil menemukannya. "Kalian ini. Mencari satu orang saja, gak becus," pekik Alex. Dia terlihat begitu marah, wajahnya terlihat memerah. Alex langsung mengakhiri panggilan telepon dengan Joy. Setelah itu, dia langsung melemparkan ponselnya ke ranjang. "Berani-beraninya kamu mempermainkan seorang Alex. Aku pasti akan segera menemukan keberadaan kamu, dan aku pastikan gak akan pernah aku lepas. Dasar wanita miskin!" Umpatnya. Hari demi hari telat terlewati. Namun, sampai saat ini Alex belum juga menemukan Naura. Ini hari ketiga kepergian Naura. Berbeda halnya dengan Alex yang tampak gelisah, Mami Berliana justru merasa senang. Tanpa dia harus bekerja keras memisahkan anaknya dengan Naura, Naura sudah pergi menjauh lebih dulu. Ini kesempatan baginya, menyuruh Laura mendekati Alex. Mami Berliana, baru saja sampai di perusahaan Alex. Dia ingin membicarakan rencana pernikahan Alex dengan Laura. Dia yakin, kali ini Alex gak akan menolaknya. Enggak ada alasan lagi bagi Alex, untuk menolak keinginannya. Suara ketukan pintu terdengar, Alex menyuruh masuk. Ternyata, maminya yang datang di antar oleh sekretarisnya. Sejak kedatangan sang mami, Alex sudah menunjukkan wajah tak suka. "Untuk apa Mami datang ke sini? Maaf, aku sedang gak ingin berdebat. Saat ini aku sedang ada masalah," ucapnya ketus. Mami Berliana tersenyum sinis. Dia langsung duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Pandangannya mengarah ke sang anak. "Bukankah ini bagus?" Ucap Mami Berliana, mengawali pembicaraan. "Maksud Mami apa? Aku gak mengerti," sahut Alex sinis. "Tuhan saja tahu apa yang terbaik untukmu. Wanita kampung itu gak pantas untukmu. Dia pun sudah menyadari, kalau dia gak pantas untukmu. Buka mata kamu lebar-lebar, dan menikahlah dengan Laura. Dia wanita yang pantas untukmu. Bukan wanita miskin itu," sarkas Mami Berliana. Alex mengepalkan tangannya, wajahnya pun terlihat memerah. Dia gak suka mendengar maminya menghina Naura. Meskipun pada kenyataannya memang benar. "Ini hidup Alex, mami gak berhak mengatur Alex! Sampai kapanpun, Alex gak mau menikah sesungguhnya. Yang Alex butuhkan hanya keturunan. Cukup Alex membayar saja. Bukankah wanita hanya butuh uang saja?" jawab Alex ketus. Mami Berliana menggertakkan giginya, sangat marah. Padahal, tujuan dia baik. Dia ingin melihat anaknya hidupnya bahagia, dan menghapus rasa trauma yang dialami anaknya. Mantan menantunya, telah menorehkan luka di hati sang anak. "Jangan menganggap, semua wanita seperti mantan istrimu itu! Laura sudah kaya raya, tak seperti pelayan itu. Lagipula, dia sudah jatuh cinta padamu. Mami seperti ini, karena ingin melihat kamu hidup bahagia. Memiliki keluarga yang utuh. Buktikan pada mantan istrimu, kalau kamu pun bisa hidup bahagia tanpanya. Bukan hidup terpuruk seperti ini." Alex terdiam. Dia sedikit goyah, mendengar penuturan maminya. Terlebih, dia merasa gak tega melihat maminya menangis. "Nanti Alex coba pikirkan dulu. Lebih baik sekarang Mami pulang. Beri waktu Alex, untuk berpikir. Lagipula, beberapa menit lagi Alex ada meeting," ucapnya lembut pada sang mami. Mami Berliana akhirnya mengiyakan, dan langsung pergi meninggalkan ruangan sang anak. Alex membuang napasnya dengan kasar, kemudian memejamkan matanya. Mantan istrinya sudah berhasil menghancurkan perasaan hatinya. Di lubuk hatinya paling dalam, masih tersimpan nama mantan istrinya. Andai saja wanita itu tak selingkuh darinya, dia gak akan berada di posisi sulit seperti ini. Naura? Apa mungkin setega itu dia melepas Naura, setelah dia menyemburkan benihnya beberapa kali di rahim Naura? Mungkin saja benih itu sudah berkembang di rahim Naura. "Argh ...!" Alex melemparkan semua berkas-berkas di meja kerjanya. Membuat keadaan ruangannya seperti kapal pecah. Joy hanya menggelengkan kepalanya. Namun, ada perasaan iba di benaknya. Di balik sikap arogan bosnya selama ini, tersimpan luka yang begitu mendalam. Dia memiliki segalanya. Tapi, tidak memiliki cinta yang tulus dari seorang wanita. "Maaf, Tuan. Kita harus meeting sekarang! Para karyawan sudah berkumpul di ruang meeting." Joy mengingatkan dengan penuh hati-hati. Kondisi mood bosnya itu sedang gak baik. Salah sedikit, dia akan menjadi sasaran empuk bosnya itu. Alex mencoba meredakan amarahnya. Dia seorang pemimpin, harus bisa bersikap profesional. Dia langsung merapikan kerah kemejanya, dan juga jasnya. Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya menuju ruang meeting.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN