Lima Belas

1191 Kata
L I M A B E L A S Melissa terus menekan klakson mobilnya. Ya dia sedang berada dalam kemacetan super parah sore ini. Melissa yang seharusnya sudah mandi dan kembali ke rumah sakit untuk menunggu Nathan, malah terjebak hampir 2 jam di jalan menuju rumah Julia. "For the love of God," geram Melissa mencengkeram erat kemudi mobilnya. "ARRGGHHH." Dengan marah Melissa turun dari mobil. Berjalan memecah kerumunan puluhan manusia, "Ada apa sih, Pak ?" tanya Melissa pada salah satu bapak-bapak yang ikut berkerumun. "Ada yang kecelakaan, Mbak, di depan. Kayaknya kecelakaan beruntun. Jadi macet soalnya petugas evakuasi belum kunjung datang," Bapak itu menjelaskan. Melissa mengangguk. Mengulas senyum ramah pada bapak tadi. Kembali menuju mobilnya. "Masak gue jalan sih?" Melissa kembali memasuki mobilnya. Berniat memakai kembali seatbeltnya. Namun dering ponsel miliknya membuat Melissa mengurungkan niatnya. LEXA. "Halo, Melissa..." suara di seberang terdengar bahagia. Melissa sampai harus menjauhkan benda tipis nan mahal itu dari telinganya. "Astaga Lexa kenapa?" "Tebak kenapa?" "God. Lexa gue lagi super duper badmood, dan lagi gak mood buat jadi dukun. Oke?" "Kenapa Mel? Lo ada masalah? And by the way, lo kemana? Hampir 2 jam gak balik lagi ke rumah sakit?" "Jalanan ke rumah Tante Julia macet ada kecelakaan beruntun. Gue terjebak di situasi bulshit ini." "Pantesan lama banget. Kirain lo ketiduran di rumah." "Jadi kenapa lo seneng banget?" "LO AKAN PUNYA KEPONAKAAANN...Gue hamil!!" seru Lexa diseberang sana. Terdengar riang. "SERIUS?" Melissa nyaris saja melompat kalo dia tidak ingat sedang berada dalam mobil. "Sooo happyyyy..Sumpah gue bahagia bangeet," Melissa berkata dengan binar bahagia. Seolah melupakan emosinya karena kemacetan sialan ini. Namun binar bahagia itu tidak berlangsung lama. Manakala telinga Melissa sayup-sayup mendengar Julia menyebut tentang Nathan. Diiringi suara panik Lexa. "Nathaan.." terdengar suara Lexa memanggil Nathan. Sedetik setelahnya panggilang terputus. "Halo? Lexa Nathan kenapa? Lexa?" Melissa menarik ponselnya dari telinga. Melihat layar ponselnya yang sudah kembali menampilkan layar home. NATHAN? Ya Tuhan kenapa sama Nathan? Melissa kembali mengucapkan doa-doa untuk Nathan. setelah hampir 2 jam dia hanya mengumpat dalam hati. Melissa mencoba menenangkan hatinya sebisa mungkin. Terus menyuarakan doa-doa untuk Nathan. Tapi tidak bisa. Melissa tidak bisa tenang. Melissa mencoba menghubungi Lexa. Namun tidak ada sahutan. Jemari Melissa bergerak panik pada kemudi mobilnya. "Nathan." Melissa langsung saja meraih tasnya. Turun dari mobil. Melirik ke semua penjuru arah. berharap ada taksi atau ojek yang bisa membawa Melissa ke rumah sakit. Tapi tidak ada. RUN? Terlintas begitu saja di benak Melissa. Berlari menuju rumah sakit? Okey lari, Mel. Lari. Melissa langsung saja melangkahkan kakinya. Berlari menuju rumah sakit Varmiga. Cuma 4 kilometer, Mel. Lo pasti bisa. LO HARUS BISA. --The Only Exception-- Melissa merasakan kepalanya berdenyut hebat. Juga jantungnya yang berdetak dengan cepat. Saking cepatnya sampai Melissa harus menghentikan larinya. Tepat di depan pintu megah rumah sakit Varmiga. Tangan Melissa sampai harus berpegangan erat pada pintu kaca itu. GILA MEL. LO GILA. LO BENERAN GILA LARI KE RUMAH SAKIT?? Setelah merasa napasnya mulai beraturan. Melissa mulai melangkah menuju lift. "Tunggu!!" seru Melissa saat pintu lift masih sedikit terbuka. Namun terlambat. Saat Melissa berada di depan lift pintu itu sudah tertutup. DAMN. Melissa kembali berlari menuju ruang perawatan Nathan di lantai 3. Lari 3 lantai? Tanpa mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang Melissa masih berlari. Terus berlari hingga sampailah Melissa pada pintu ruang perawatan Nathan. Dengan napas masih terengah, Melissa membuka pintu itu. Dan mata abu-abu Melissa langsung saja bertautan dengan mata cokelat penuh kehangatan itu. Pada kedua manik cokelat Nathan, yang kini menjadi rumah Melissa. Melissa mengulas senyum sambil masih terengah. Kakinya dengan mantap melangkah masuk. Memasuki ruang perawatan Nathan. Di mana ada Lexa dan Dylan juga Julia yang kini menatap Melissa. Juga ada beberapa dokter yang tengah memeriksa keadaan tangan Nathan. Juga mengganti perban di kepala Nathan. Melissa berjalan mendekati ranjang Nathan. Masih kembali menampilkan senyumnya, air mata Melissa luruh begitu saja. Julia langsung merengkuh Melissa. "Dia pulang, Mel. Nathan kamu pulang," kata Julia lirih. Mengusap punggung Melissa naik-turun. Melissa mengangguk. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangnya dari Nathan. Begitu juga Nathan yang masih memandang lekat pada bola abu-abu di mata Melissa. "Semua berjalan baik," seru salah satu dokter. "Tangan Nathan bisa digerakkan, artinya operasi beberapa minggu lalu berjalan dengan baik. Saya permisi dulu. Selamat, Julia." Dokter paruh baya pria itu tersenyum ramah. "Welcome back, Nath," seru dokter lainnya. Kemudian meninggalkan ruang perawatan Nathan. "Welcome back, Nath," Kini Lexa bersuara. Menyenggol pelan lengan Nathan. "This is the happiest day ever." Senyum Lexa merekah begitu saja. "Kenapa?" tanya Nathan, barulah dia mengalihkan pandang pada Lexa dan Dylan. "Pertama, karena di dalam perut gue ada nyawa baru!!" Lexa berseru riang. Diikuti tangan Dylan yang merengkuh bahu Lexa, "Kedua, di hari yang sama. Lo akhirnya pulang untuk mendengar berita ini." Senyum Nathan langsung terukir begitu saja. "Congratulation," ucap Nathan lirih. "Thanks, Nath. Gue sama Lexa pulang dulu." Nathan mengangguk lemah saat Dylan memukul pelan bahu Nathan. Menggandeng tangan Lexa. "Mama gak bisa lagi menahan haru. Bener kata Lexa, ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Mama,” kata Julia merengkuh Nathan sebentar. "Dua berita membahagiakan dari sumber-sumber kebahagiaan mama." Nathan hanya tersenyum. Kembali menatap Melissa yang masih saja terengah. "Mama tinggal ke ruang dokter dulu ya? Melissa gak keberatan kan?" Julia membelai bahu Melissa. "Gak apa Tante." Jelas saja Melissa tidak keberatan. Menunggui Nathan di saat si tampan itu memejamkan mata saja, Melissa tidak keberatan. Apalagi saat si tampan itu kini sudah membuka mata. "Terima kasih, Mel." Julia tersenyum. Selanjutnya mengikuti Dylan dan Lexa, keluar dari ruangan Nathan. 15 detik berlalu setelah Julia menutup pintu. Melissa masih sedikit terengah. Mata Melissa kini menatap Nathan yang lebih dulu menatap Melissa. Melissa beranjak lebih mendekat pada ranjang Nathan. Berdiri di dekat ranjang Nathan. "Hai!" sapa Melissa lembut. Masih menatap kedua mata cokelat Nathan. Juga senyum gembira yang gak bisa disembunyiin Melissa. "Hai," Nathan ikut berkata lirih. Juga mengulas senyum tampan seperti biasanya. "Glad you back," ucap Melissa lirih, memberanikan diri menggenggam tangan Nathan. Seperti biasanya. Nathan melirik tangan kanannya yang digenggam Melissa. Senyumnya kian merekah. Memamerkan deretan gigi putihnya. "You guide me back. Thanks." Nathan balas menggenggam tangan Melissa. Ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan Melissa. Nathan menggeser badannya. Mengisyaratkan Melissa untuk ikut bergabung dengannya di ranjang. Namun Melissa menggeleng. "Sorry, Nath. Kamu jadi seperti ini gara-gara aku. Aku.." Melissa menarik tangannya yang digenggam Nathan. Mundur satu langkah menjauh dari ranjang Nathan. Melissa menunduk. Membuat dahi Nathan berkerut. Kenapa? Kenapa dia mundur? Kenapa dia menjauh? "Kenapa kamu bilang gitu? Ini semua bukan gara-gara kamu, Melissa. Ini semua memang sudah seharusnya seperti ini. Aku sudah memilih untuk memperjuangkan kamu, Mel, meski harus jatuh, terperosok, dan berdarah-darah," Nathan berucap tulus. Meski lirih. Namun terdengar jelas di telinga Melissa. "Tapi kamu gak seharusnya seperti ini, Nath." Barulah Melissa mendongak. Kembali menatap Nathan. Tangan Nathan terulur. Memberi kode pada Melissa untuk kembali mendekat pada Nathan. Melissa ragu untuk menyambut uluran tangan Nathan. Tetapi sudut lain hati Melissa menyuruh Melissa untuk kembali maju. Menyambut uluran tangan Nathan. Sudut di hati Melissa yang telah hangat. Hangat akan cinta Melissa pada Nathan. "Aku udah memilih ini, Mel. Aku udah memilih kamu," tutur Nathan tulus. Membimbing Melissa agar terduduk di tepian ranjang. Melissa menurut. Terduduk di tepi brankar. Menatap mata Nathan lekat. --The Only Exception--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN