Enam Belas

1145 Kata
E N A M B E L A S Melissa menatap mata Nathan lekat. Mendapatkan keseriusan dalam sorot teduh mata Nathan. Melissa masih menatap lekat kedua mata Nathan. Ia berusaha sebisanya untuk kembali meyakinkan hatinya. "You deserve better than just me," Melissa berucap lirih. Menundukkan kepalanya. Membiarkan air matanya luruh. Tanpa bisa dia tahan. Nathan meraih dagu Melissa agar Melissa kembali menatapnya. Tangan Nathan bergerak menghapus air mata Melissa. Menatap bola mata abu-abu Melissa dengan lekat. "I don't need better. I need you," kata Nathan bersungguh-sungguh. Dengan suara lembut yang langsung membuat air mata Melissa kembali luruh. Terharu. Membuat kebekuan di hati Melissa dengan seketika mencair. Menghangatkan keseluruhan sanubari Melissa. "I need you, too," balas Melissa. Senyumnya merekah disela air matanya, "And I need you so much." "Coba bilang lagi!" pinta Nathan. Ikut tersenyum. "I need you so much." "Bukan yang itu, yang kamu bilang pas aku masih memejamkan mata. Sebelum kamu melepaskan genggaman erat tangan kamu sore ini," Nathan merengek manja. Melissa langsung saja menyipitkan matanya. "No way. Kamu-- Kamu denger? Jangan-jangan kamu selama ini pura-pura koma ya? Kayak sinetron-sinetron lebay di tv?" Melissa langsung saja menghempaskan tangan Nathan dari wajahnya. "WHAT? Gak Mel, yakali selama ini aku cuma akting, yang ada aku kelaparan Mel. Aku beneran koma. Tapi aku denger apa yang selalu kamu ucapkan padaku. Aku denger semua doa-doa kamu. Setiap permintaan maaf dari kamu yang selalu terselip dalam doa. Setiap rengekan kamu agar aku cepet buka mata." Nathan tersenyum. Kembali menangkup kedua pipi Melissa, "Aku berada di tempat gelap Mel, tapi doa-doa dari kamu yang selalu menerangi. Dan ungkapan perasaan kamu tadi, yang menarikku untuk pulang,” jujur Nathan. "Bener?" Melissa seakan tidak percaya. Tapi toh hatinya tetap bersorak mendengar ucapan Nathan. Dan Nathan mengangguk. "Ayo bilang lagi!" Nathan kembali meminta. Melissa menghela napas. "I love you, Nathan Grass," ucap Melissa bersungguh-sungguh. Dengan senyum cantik menghiasi wajahnya. Semakin merekah saat Nathan ikut tersenyum di depannya. "I love you too, Melissa Benoist." Dan Nathan kini mendekatkan wajahnya pada Melissa. Semakin dekat hingga menyisakan jarak kurang dari 2 senti. Melissa bahkan dapata merasakan hangatnya napas Nathan. Dan itu membuat Melissa memejamkan kedua matanya.Buru-buru membasahi tenggorokannya. Dengan lembut Nathan menyatukan bibirnya pada bibir lembut Melissa. Melissa merasakannya. Merasakan kehangatan dalam bibir Nathan. Merasakan bibir Nathan yang mulai melumat bibirnya lembut. Melissa membalas ciuman Nathan dengan lembut juga. Memangnya apa? Melissa bukan Lexa yang sudah pandai dalam hal memagut bibir lawan jenis. 35 detik kemudian, Nathan menjauhkan bibirnya dari bibir Melissa. Meskipun Melissa merasa kehilangan akan bibir itu. Melissa tetap membuka kedua matanya. Melihat bagaimana Nathan sedang tersenyum pada Melissa. "Sekarang apa?" tanya Nathan. Kembali mengusap pipi Melissa pelan. "Apa? Maksud kamu apa?" Melissa terlihat bingung. "Aku ngantuk, Mel. Boleh gak aku tidur?" Nathan kembali merebahkan badannya. Sedikit bergeser, tangannya menepuk bagian kosong ranjangnya. "Sini.." "Gak... Kan kamu yang ngantuk. Aku gak ngantuk, Nath." Melissa menggeleng. Berniat menuruni ranjang Nathan, namun tangan Nathan menahannya. "Aku mau kamu, entahlah, tiduran atau duduk di samping aku, Melissa." Setelahnya Nathan menatap Melissa dengan memelas. Melissa langsung saja memutar bola matanya malas, "Please, Sayang.." DEG. Jantung Melissa langsung bepacu dengan liar. Melebihi saat tadi dia berlari 4 kilometer demi sampai ke rumah sakit. "Okey." Melissa menurut. Memosisikan tubuh rampingnya di sebelah Nathan. Melissa berbaring dengan tangan Nathan sebagai bantal Melissa, "Tangan kamu yang ini gak sakit?" "Sakit. Akan lebih sakit kalo kamu anggurin." "Dasar." "Kamu kenapa tadi terengah pas buka pintu?" Nathan memiringkan posisi berbaringnya. Menatap Melissa dari samping. "Aku lari." "Lari? Di rumah sakit mana boleh lari Mel?" "Aku takut kamu kenapa-kenapa tadi," kata Melissa menoleh pada Nathan yang sudah tersenyum padanya. "Aku di jalan menuju rumah kamu. Tapi belum sampai rumah, jalanan macet, ada kecelakaan beruntun. Terus Lexa nelpon aku, bilang kalau dia hamil. Tapi tiba-tiba aku denger suara Tante Julia yang panik, juga Lexa. Telepon terputus. Aku bingung Nath. Aku telpon Lexa tapi gak diangkat. Jadi deh aku lari," Melissa menjelaskan. "Kamu beneran lari? Emang taksi atau ojek gak ada?" "Gak tau. Aku cuma kepikiran kamu. Serasa mau meledak kepalaku tadi. Dikira gila bodo amat lah." Melissa ikut mengulas senyum, "Tapi aku lega, karena begitu buka pintu, aku langsung liat mata cokelat kamu." Tangan Melissa bergerak perlahan pada mata Nathan. Hingga Nathan memejamkan matanya. "Kok kamu jahat sih, Nath. Aku nungguin kamu, dari siang sampe siang lagi, kadang aku gak tidur. Agar saat kamu bangun, aku bisa langsung minta maaf sama kamu. Tapi kamu malah bangun saat aku gak ada. Aku jahat banget sama kamu, ya?" Nathan terkekeh mendengarnya. Terlebih melihat Melissa mencebik. Menurut Nathan sangat lucu. "Emang sengaja dibuat gitu sama Tuhan, Mel. Agar kita punya cerita sendiri. Agar kita sama-sama ingat bagaimana kita berjuang demi saling memiliki. Aku akan selalu ingat, bahwa kamu pernah berlari---" Nathan mengerutkan kening. "4 kilometer," kata Melissa seakan tau apa yang dipikirkan Nathan. "Ya. Aku akan selalu ingat, bahwa kamu pernah berlari 4 kilometer demi menemuiku. Hanya untuk memastikan aku baik-baik aja. Dan aku--" "Dan kamu pernah beneran berdarah-darah demi mencairkan hati Melissa yang beku." Tangan Melissa kini berada pada sudut bibir Nathan. Menarik sudur bibir Nathan ke atas. Membentuk senyuman. Nathan tersenyum. "Yes!! You know, every love story is beautiful. But ours, is my favorite. You are obviously my favorite person." Nathan kembali mengecup singkat bibir Melissa. "I know. Sekarang kamu tidur, Nath. Mata kamu udah mulai merah." "Tell me a story," pinta Nathan. "A story?" Melissa terkekeh. "About what? Cinderella and her evil stepmother? Snow white and seven dwarf? Sleeping Be---" "Tell me a story about you. You and your frozen heart." Nathan menaikkan satu alisnya. "Kamu beneran mau dengerin cerita tentang itu?" Nathan mengangguk mantap. "Okay," Melissa berkata pasrah. Kembali berbaring telentang. Menatap langit-langit kamar ini. Melissa menghirup napas dalam-dalam. Dan bukannya bercerita. Bibir mungil Melissa malah mengeluarkan suara merdunya dalam bentuk lagu. Melissa mulai bersenandung. Sebuah lagu yang menggambarkan kisahnya dan kebekuan di hatinya. Tentang kisahnya, dan masa lalunya. "When I was younger I saw my daddy cry and curse at the wind. He broke his own heart and I watched as he tried to reassemble it.” “And my momma swore that she would never let herself forget. That was the day that I promised I’d never sing of love if it does not exist. But darling you are the only exception.” “Maybe I know somewhere deep in my soul that love never lasts. And we’ve got to find other ways to make it alone or keep a straight face. And I’ve always lived like this keeping a comfortable distance. And up until now I have sworn to myself that I’m content with loneliness.” “Because none of it was ever worth the risk.” “You are the only exception. And I’m on my way to believe.” (credit song : The Only Exception by Paramore) --The Only Exception--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN