E M P A T P U L U H D U A Terik mentari telah berganti dengan senja. Yang mendominasi angkasa dengan megah jingganya. Juga semilir angin yang berhembus seakan mengusir udara panas karena matahari. Nan jauh disana. Di dalam pemakaman harmoni. Melissa masih menangis terisak. Memeluk batu nissan dengan nama Nathassa Lloyd Grass. Buah hatinya yang bahkan belum sempat bertatap muka langsung dengannya. "Seperti apa rupa kamu, Sayang ? Gimana kalau bunda gak ngenalin kamu, saat bunda nanti mencarimu di rumah Tuhan ?" kalimat itu kembali keluar dari mulut Melissa. Lirih. Karena Melissa benar-benar tidak memiliki tenaga. Dia menolak untuk makan maupun minum. Dia hanya menangis dan menangis setelah kebenaran dengan apik meruntuhkan hatinya. Mencekam kembali hidupnya dengan kehilangan. Sunggu

