REVISI
"Aku baru tahu kabarnya karena banyak yang tag akun Maureen di komentar postingan penulis itu. Masalahnya sejak dulu Maureen memang sering mendapat hal yang serupa, 'kan? Kenapa nggak ditindaklanjuti, sih?" cerca Vanny tidak terima saat membaca komentar demi komentar di laman akun sosial media penulis bernama Bizzi.
"Kalau masih bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan pastinya Maureen nggak akan memperpanjang masalah ini. Dia malas ribut-ribut sama orang asing yang terobsesi dengan tulisannya. Alasan yang memperkuat karena Maureen nggak mau marga keluarganya diperbincangkan andai membawa kasus ini ke meja hijau," jelas Inez. "Gue yang akan atasi. Sosial media Maureen ada di HP ini. Dia nggak akan buka kalau bukan kepentingan bisnis. Makanya gue yang lebih dulu tahu ketimbang Maureen."
Vanny memutar kedua bola matanya jengah. Bibirnya mencebik tidak suka, walau begitu tangannya tidak berhenti mengelus kucing di pangkuannya. "Bul, mama kamu kayaknya bakalan pulang malam, deh. Kita nginep di apartemen Maureen aja, deh."
“Apa Sifia selalu pergi sendiri begitu? Lo nggak khawatir?” tanya Inez tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop. “Sepertinya Sifia … gue nggak bermaksud gitu.” Inez segera meralat. Dari kedua teman Maureen, dia lebih memperhatikan Sifia. Teman Maureen yang pendiam, tapi dari sorot matanya kelihatan sayu. Berbeda dengan Vanny yang energik dan hobi bekerja. Vanny membuka kedai makan sederhana yang terbilang ramai di kota ini, selain itu dia juga merupakan salah satu selebram dengan endorsme yang tidak pernah sepi.
“Seperti yang lo lihat. Gue nggak mau bahas kalau nggak ada orangnya nanti disangka berkhianat,” katanya acuh lalu meraih ponselnya saat mendapat denting notifikasi dari grup. “Sifia udah on the way balik, dia langsung pulang. Padahal biasanya mampir main dulu.
Perbincangan mengenai Sifia berhenti saat telepon dari ponsel Inez berdering nyaring. Inez yang sedang mengedit bahan promosi pun beralih pada ponselnya.
"Gue udah buka link yang lo kirim." Sapaan pertama Maureen. Bukannya menanggapi malah tatapan Inez salah fokus saat background di seberang sana memperlihatkan Maureen yang masih berbaring di ranjang.
"Lo baru bangun jam segini?" tanya Inez heran. "Ini sudah malam, tapi kelihatan banget kalau lo masih berantakan. Baru bangun?"
Maureen memutar bola matanya malas. Saat hendak mendebat seketika Inez mengganti menjadi layar belakang memperhatikan Vanny yang duduk di sofa memangku Anabul. Vanny kelihatan tidak peduli dengan Inez yang sedang berbincang padahal Maureen tahu betul Vanny yang paling berisik di grup mempertanyakan kasus ini.
“Sifia mana?” tanya Maureen karena dia melihat keberadaan Anabul tandanya Sifia juga ada bersamanya.
Kamera beralih ke Inez. Mereka bertatap muka virtual. “Masih di jalan, palingan sebentar lagi sampai. Back to topic! Lo sudah baca, jadi mau diapakan?” tanya Inez dengan wajah serius. Wajah-wajah yang tidak bisa diajak bercanda kalau sudah membahas persoalan pekerjaan.
Namun, disaat Maureen hendak menjawab pertanyaan Inez justru seseorang memeluknya bahkan lenguhan kekesalan Chester terdengar. Laki-laki itu tidak suka karena berisik suara Maureen membuat tidurnya terganggu.
“Well kayaknya kita bahas ini kalau lo sudah pulang, Reen. Gue nggak mau ganggu, bye!”
Tut!
"Ada apa?" Suara serak khas bangun tidur di dekat telinganya disertai dengan embusan hangat membuat Maureen merinding. Dia berusaha membebaskan diri menjaga jarak akan tetapi, rengkuhan di pinggangnya membuat dia tak bisa menghindar.
“Wajahmu pucat, semua baik-baik saja?” tanya Chester kedua kali seraya memperhatikan istrinya yang kelihatan menghindar. “Kamu demam, Reen? Pipi kamu merah. Apa semalam Mas nyakitin kamu?!”
Chester sialan!
“Mas—”
“Mas pakai baju dulu. Duh, kamu juga belum pakai baju dari semalam, Maureen! Pantas saja pagi ini kamu demam. Astaga. Kok Mas sampai abai begini, sih!?” racau Chester mondar-mandir, Maureen sempat menahan napas saat melihat punggung itu terpampang jelas di depannya, apalagi ketika suaminya turun dari ranjang tanpa mengenakan apa pun. Astaga orang pihak bisa mendadak jadi bodoh, ‘kah?
“Pakai dulu, Reen. Mas asal ambil soalnya nggak keburu,” katanya. Yang diambil dress tidur tipis membuat Maureen berdecak tidak habis pikir.
“Bangun dulu.”
Maureen tidak menuruti. Dia melambaikan tangan meminta Chester mendekat. Saat sudah dekat lehernya ditarik lalu daun telinganya digigit kencang yang mendapat teriakan dari suaminya. Kebiasaan kecil Maureen yang suka menggigit telinga Chester kalau dijahili.
“Kok digigit?!”
“Rasain! Mas tuh bego apa gimana, sih?!”
“Lah?” Chester mengerjap kaget.
“Sekali lagi Mas Ester bahan yang semalam dengan muka bloon, aku janji nggak cuma telinga saja yang digigit,” ancam Maureen menggulung selimut lalu turun perlahan dari ranjang tanpa peduli dengan suaminya yang melihatnya cengo.
"Aku salah apa emangnya? Maureen kelihatan marah padahal kupikir dia sakit." Monolog Chester lalu menyusul istrinya yang masuk ke kamar mandi. Tanpa terencana, tanpa meminta izin dia menerobos dan kejadian malam tadi pun terulang lagi sampai-sampai Maureen benar-benar mendiamkan suaminya. Bahkan disaat mereka sedang berada di bibir Pantai pun Maureen enggan menatapnya.
Perempuan itu mengabaikan Chester. Awalnya dia sengaja keluar dari villa saat Chester menyelesaikan mandinya, tapi siapa sangka laki-laki itu berhasil menemukan dirinya yang sedang duduk melamun.
"Kita makan dulu, Reen. Dari pagi perut kita kosong, sekarang sudah siang. Panas banner di sini, kita makan dulu, yuk! Mas jajanin apa aja yang kamu mau."
Tertarik dengan perkataan Chester yang terdengar frustasi. Tak apalah aji mumpung lagi ngambek dia akan makan sepuasnya tanpa memikirkan berat badan.
"Harus ACC apa aja yang mau aku makan, deal?"
"Deal," jawab Chester setengah yakin. Semoga saja Sindy tidak mengomeli dirinya setelah ini karena membiarkan Maureen kalap makan.
"Aku mau makan gelato," kata Maureen melangkah tanpa menunggu Chester setuju atau tidak. Dia bersedekap d**a menunggu suaminya yang tertinggal karena saat bibinya mengucap gelato, tapi justru berlari menghampiri penjual donat.
Maureen sangat suka makanan manis berbahan dasar dari tepung, dulu dia selalu makan donat atau brownies sebagai pendamping bekerja, tapi saat ini sudah tidak dibolehkan sering-sering karena aturan dari Sindy membuat semuanya yang disukainya menjadi berbalik dibenci.
"Kamu beli satu box mau dimakan sendiri?" tanya Chester menghampiri membawa dua cup gelato dan menyerahkan satunya ke Maureen. "Makan secukupnya saja, Reen."
"Kan Mas yang janji nggak akan melarang aku makan apa pun itu. Ini baru dua makanan, tapi sudah diintimidasi."